Wednesday, May 14th, 2008
Daily Archive
Daily Archive
Posted by senja on 14 May 2008 | Tagged as: etc
Kata dosen saya, kita ini mungkin adalah rakyat yang hidup dengan kegiatan memilih paling ajek di seluruh dunia. Selain memang kehidupan pada hakekatnya dipenuhi dengan kegiatan memilih, namun hal itu menjadi semakin intens sejak sistem tentang pemilihan langsung dipilih sebagai bentuk kebebasan berdemokrasi. Lihat saja, tahun ini memilih kepala daerah, tahun depan memilih anggota legislatif, berikutnya presiden dan wakil presiden, setahun kemudian memilih kepala desa (dibeberapa daerah kepala desa dipilih secara langsung dalam mekanisme pilkades), setahun kemudian ada beberapa kepala daerah yang juga harus diganti karena masa jabatannya habis. Proses itu terus menerus berlangsung. Sehingga ada masyarakat dalam satu daerah yang kemungkinan setiap tahun menjadi pemilih karena siklusnya bertepatan. Luar biasa…..saya pun merasakannya, bahkan menjadi pelaku.
Suatu hari saya jadi pengikut sebuah partai. Bukan partai Orde Baru yang kuning itu, juga bukan partai Islam, atau agama lain. Juga bukan partai reformis yang banyak dikatakan orang-orang. Partai saya, partai pemuja kebebasan, partai yang berslogan pro demokrasi. Kami terlibat dalam pemilihan kepala daerah dan pemilihan lain-lain. Kami siap menang, bahkan siap menerkam lawan. Bahkan jika jalur konstitusi tak tembus, kami sudah siapkan jalur alternatif. Berkelahi adalah pekerjaan kami di partai ini. Berkelahi dengan siapapun. Dengan saudara kami sendiri, dengan teman kami sendiri, dengan siapapun yang menghalangi jalan kami. Sebagian orang, menuding kami makelar politik. Pekerjaan yang mentereng……
Kami memang pemuja kebebasan…
Kebebasan demokrasi kata dosen saya….
Saya artikan sebagai kebebasan untuk mencaci lawan, bertindak curang, lari dari sportivitas. Di kala senggang saya juga kerap menjadi bagian dari suporter sepakbola yang selalu meneriakkan kata-kata makian untuk menurunkan semangat tim lawan. Saya puas jika mulut ini penuh dengan ocehan kotor. Hei…ini kan jaman kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan memilih, kebebasan apapun…pokoknya semua bebas.
Suatu saat, kawan saya membawakan alenia ini.
Ini dia cuplik dari halaman memoar Sri Soemantri, majalah Tempo edisi 5-11 Mei 2008, halaman 56-57.
……………
“Hampir setiap hari, di mimbar sidang yang terletak di gedung tua itu, terjadi adu argumentasi. Para tokoh berdiri silih berganti, menyampaikan pendapatnya. Tutur katanya halus, penuh santun politik. Tapi isinya begitu dalam. Meski saling menyerang dengan argumentasi hukum, pidato mereka kaya dengan metafora. Bacalah Risalah Konstituante. Misalnya saja, pidato Ketua Umum Partai Masyumi yang juga mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, 13 November 1967, yang mengatakan, “Singkap daun tampak buah”, untuk menyindir niat PKI yang getol menyokong Pancasila. Simak Buya Hamka, yang mengecam keras Soekarno karena getol berkampanye kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 dengan mengatakan “Membuat Undang-Undang Dasar bukan seperti pekerjaan menggosok lampu Aladin,” pada sidang April 1959. Belum lagi bila tokoh dari Murba, Soedijono Djojoprayitno, menyoal substansi. Tampak betul kedalaman logika berpikirnya……………….Pertarungan ideologi ini sungguh panas. Namun, yang menarik, para tokoh itu menyampaikan materinya dengan sopan santun politik yang tinggi. Masing-masing menyampaikan dalam mimbar yang disediakan. Tidak ada celetukan seperti sidang-sidang di Gedung Senayan sekarang ini. Dulu ketika lawan politik berbicara panjang lebar, kami diam menyimak. Banyak juga interupsi, tapi semua teratur. Tak ada saling tunjuk atau sabotase. Sesekali saja gebrak meja, ketika tensi sudah meninggi. …………..Sopan santun politik era itu amat berbeda dengan zaman sekarang. Waktu itu, kami merasa pekerjaan politik adalah sebuah pekerjaan yang terhormat. Jadi harus dilakukan dengan terhormat pula.”
Alenia ini belum selesai saya baca…ketika tiba-tiba mulut, tangan, mata dan kaki saya seperti penuh kotoran. Kebebasan memang sudah saya dapatkan, namun saya meninggalkan kebebasan yang lain. Kebebasan bernama kerelaan untuk mendengarkan dengan nurani. Kebebalan ini yang membuat saya tidak lagi memakai adab…..
-Untuk 100 tahun kebangkitan nasional-