Atas Nama Demokrasi
Posted by senja on 14 May 2008 at 05:05 am | Tagged as: etc
Kata dosen saya, kita ini mungkin adalah rakyat yang hidup dengan kegiatan memilih paling ajek di seluruh dunia. Selain memang kehidupan pada hakekatnya dipenuhi dengan kegiatan memilih, namun hal itu menjadi semakin intens sejak sistem tentang pemilihan langsung dipilih sebagai bentuk kebebasan berdemokrasi. Lihat saja, tahun ini memilih kepala daerah, tahun depan memilih anggota legislatif, berikutnya presiden dan wakil presiden, setahun kemudian memilih kepala desa (dibeberapa daerah kepala desa dipilih secara langsung dalam mekanisme pilkades), setahun kemudian ada beberapa kepala daerah yang juga harus diganti karena masa jabatannya habis. Proses itu terus menerus berlangsung. Sehingga ada masyarakat dalam satu daerah yang kemungkinan setiap tahun menjadi pemilih karena siklusnya bertepatan. Luar biasa…..saya pun merasakannya, bahkan menjadi pelaku.
Suatu hari saya jadi pengikut sebuah partai. Bukan partai Orde Baru yang kuning itu, juga bukan partai Islam, atau agama lain. Juga bukan partai reformis yang banyak dikatakan orang-orang. Partai saya, partai pemuja kebebasan, partai yang berslogan pro demokrasi. Kami terlibat dalam pemilihan kepala daerah dan pemilihan lain-lain. Kami siap menang, bahkan siap menerkam lawan. Bahkan jika jalur konstitusi tak tembus, kami sudah siapkan jalur alternatif. Berkelahi adalah pekerjaan kami di partai ini. Berkelahi dengan siapapun. Dengan saudara kami sendiri, dengan teman kami sendiri, dengan siapapun yang menghalangi jalan kami. Sebagian orang, menuding kami makelar politik. Pekerjaan yang mentereng……
Kami memang pemuja kebebasan…
Kebebasan demokrasi kata dosen saya….
Saya artikan sebagai kebebasan untuk mencaci lawan, bertindak curang, lari dari sportivitas. Di kala senggang saya juga kerap menjadi bagian dari suporter sepakbola yang selalu meneriakkan kata-kata makian untuk menurunkan semangat tim lawan. Saya puas jika mulut ini penuh dengan ocehan kotor. Hei…ini kan jaman kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan memilih, kebebasan apapun…pokoknya semua bebas.
Suatu saat, kawan saya membawakan alenia ini.
Ini dia cuplik dari halaman memoar Sri Soemantri, majalah Tempo edisi 5-11 Mei 2008, halaman 56-57.
……………
“Hampir setiap hari, di mimbar sidang yang terletak di gedung tua itu, terjadi adu argumentasi. Para tokoh berdiri silih berganti, menyampaikan pendapatnya. Tutur katanya halus, penuh santun politik. Tapi isinya begitu dalam. Meski saling menyerang dengan argumentasi hukum, pidato mereka kaya dengan metafora. Bacalah Risalah Konstituante. Misalnya saja, pidato Ketua Umum Partai Masyumi yang juga mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, 13 November 1967, yang mengatakan, “Singkap daun tampak buah”, untuk menyindir niat PKI yang getol menyokong Pancasila. Simak Buya Hamka, yang mengecam keras Soekarno karena getol berkampanye kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 dengan mengatakan “Membuat Undang-Undang Dasar bukan seperti pekerjaan menggosok lampu Aladin,” pada sidang April 1959. Belum lagi bila tokoh dari Murba, Soedijono Djojoprayitno, menyoal substansi. Tampak betul kedalaman logika berpikirnya……………….Pertarungan ideologi ini sungguh panas. Namun, yang menarik, para tokoh itu menyampaikan materinya dengan sopan santun politik yang tinggi. Masing-masing menyampaikan dalam mimbar yang disediakan. Tidak ada celetukan seperti sidang-sidang di Gedung Senayan sekarang ini. Dulu ketika lawan politik berbicara panjang lebar, kami diam menyimak. Banyak juga interupsi, tapi semua teratur. Tak ada saling tunjuk atau sabotase. Sesekali saja gebrak meja, ketika tensi sudah meninggi. …………..Sopan santun politik era itu amat berbeda dengan zaman sekarang. Waktu itu, kami merasa pekerjaan politik adalah sebuah pekerjaan yang terhormat. Jadi harus dilakukan dengan terhormat pula.”
Alenia ini belum selesai saya baca…ketika tiba-tiba mulut, tangan, mata dan kaki saya seperti penuh kotoran. Kebebasan memang sudah saya dapatkan, namun saya meninggalkan kebebasan yang lain. Kebebasan bernama kerelaan untuk mendengarkan dengan nurani. Kebebalan ini yang membuat saya tidak lagi memakai adab…..
-Untuk 100 tahun kebangkitan nasional-









mungkin Indonesia sebenarnya belum siap berdemokrasi…….menganggap demokrasi adalah sama dgn kebebasan mutlak dan tak perlu bertanggung jawab pada orang lain yg mungkin saja terganggu kebebasannya ketika kita sedang menyatakan kebebasan kita…..ironis ya?
demokrasi, kata dari mana itu? baru dengar.
Wah, aktivis parte ni..

coblos nomor brp
Jago Partai kami di Jawa Tengah dianggap Tank Mogok.
Bagi saya, asyik kok politik…
Selamat ikut Pilkada!
Sebagian besar masih menafsirkan bahwa kebebasan artinya bebas berbuat apa saja….kapan ya kita bisa bebas yang bertanggung jawab, yang tidak asal teriak?
mengutip guru saya waktu sma:
kita diberi dua telinga dan satu saja mulut karena harusnya kita lebih banyak mendengar daripada berteriak…
tulisanmu apik. bergetar aku.
ndrodok!! karena haru.
wah makin berat isinya. makin tinggi mutu penulisnya, gak ikutan politik tapi dengerin aja.
xixixi…sekarang jadinya repotnasi dan demokrezi mpok…rakyat mangkin sengsara, politikus partai dengan riang gembira menunjukkan kegilaan mereka berebut kuasa
“Kebebasan memang sudah saya dapatkan, namun saya meninggalkan kebebasan yang lain. Kebebasan bernama kerelaan untuk mendengarkan dengan nurani. Kebebalan ini yang membuat saya tidak lagi memakai adab”
aku suka bagian “itu” nja dalem banget…
kadang kita sudah merasa melakukan sesuatu sesuai keinginan. tapi kadang keinginan itu nga sesuai dengan nurani
Jeng Endang: Tidak siap? mungkin karena tidak mempersiapkannya
Stwn: Demokrasi itu jajanan pasar yang banyak dijual di pasar Jatingaleh
Dio: Walah, saya bukan aktivis partai manapun..itu partai khayalan saya..hehehehehe
Isnuansa: Tidak ikut pilkada kok nik. Bukan warga Semarang, Jateng….di Jatim juga tidak terdaftar sebagai pemilih. Memilih untuk tidak memilih..hehehehe
Edratna: Entahlah bu…saya juga sedang menunggu…
Ray: Betul Ray…:)
Sofian: Ra sah ngece..kapan ke Semarang ..kita bernostalgila kang..
Ichal: Semua orang berpolitik Chal…
Oon: Ya bener..semoga tidak semua, semoga masih ada sisa yang menggunakan nurani..
Nuuii: Pergulatan untuk memenangkan nurani itu yang disebut perjuangan..mungkin..
semakin tajam nja, berbekas.
begitu byk orang yg memuja demokrasi tanpa mengerti artinya…:(
Buah dari demokrasi adalah kebebasan. Kebebasan yang liar menyebabkan perpecahan dan keributan yang tak terkendali.
Ya seperti wajah indonesia kini…
Sedih.
teriakan demokrasi kadang terlalu membakar dan kita memang melupakan adab, entahlah kemana lagi dia mesti dicari, apa saya memang ragu, soal politikus karbitan dan manuver liciknya
“Alenia ini belum selesai saya baca…”
tak kira gara2 ngegame kemaren nja!:D
kebangkitan nasional ? mmm…
demi semangat kebangkitan nasional tahun ini [danyangakandatang]:
“PE-ER”nya banyak bangeeeeeeeeeettttt!!!!!!!
saya ingin nulis juga tentang peristiwa ini. tapi ndak jalan2. kantorku itu melakukan penelitian besar2an dan menerbitkan banyak buku untuk momentum ini. mungkin karena itu jadi energi menulisnya di blog jadi habis. sudah karatan. mungkin.
wew… menusuk tajam… bagus banget… pencerahan buat para politikus dan pencoblosnya..
wuiihh…Nja….kamu hebat…
[pemudi-pemuda yg seperti ini yg bikin indonesia bangkit]
-gakusumkomentguyon-
Hmmm…
*sibuk manggut-manggut mendengarkan..*
“demokrasi terpimpin” tuh katanya di negri tercinta…
nah “terpimpin” nya itu yg gimana? diblangkemin kaleee rakyatnya…ato pemimpinnya yg kaya di gambarkan oon???
” Tidak ikut pilkada kok nik. Bukan warga Semarang, Jateng….di Jatim juga tidak terdaftar sebagai pemilih. Memilih untuk tidak memilih..hehehehe ”
Sepertinya ungkapan ini mewakili saya bangetttttttt he..he..he..
Makin lama tulisannya makin serius…
saya sering mendengar namamu di sebut
dan menjadi panggilan kesayangan,
suatu saat kita pasti ketemu…
Kmu, mas Arief dan Blue
semoga saja banyak orang yang menyadari bahwa mendengar itu seni dan masih harus memberi porsi!
jangan maunya didengar saja!
hmm…kok bisa sih nulis gt.
ooo
mungkin kerna dosennya sudah bukan nyang duluuuuu itu, ya
atau kerna kuliahnya ‘bisa diatur’
mangkanya performa politisi kita skr beda sama nyang dulu
sudah bangkit tho negara ini?