Bosan rasanya membaca/melihat/mendengar koran dan berita di TV/radio akhir-akhir ini. Isinya hanya itu-itu saja. Tentang demonstrasi penolakan BBM atau kasus korupsi. Sebagai pembaca saya perlu pembaruan.

 

Terakhir kali semangat baca koran hanya kala Indonesia jadi tuan rumah Uber/Thomas Cup. Kendati kalah, tapi seru rasanya menyongsong pagi demi pagi untuk membaca koran. Atau menjelang/saat MU menang dramatis atas Chelsea di final Champions. Rasanya tak sabar menunggu matahari terbit untuk menyantap berita demi berita serta ulasan pertandingan itu. Sebelumnya, ada beberapa artikel koran yang mantap untuk dibaca (Kompas edisi 2 tahun lumpur lapindo dan Jawa Pos, 20 Mei 2008). Ulasan tentang orang-orang yang berbuat banyak untuk lingkungannya. Ada si tukang becak yang suka menanam, korban tsunami yang memulai lagi usaha, pencipta kamus bahasa Indonesia digital, pemilik sanggar seni untuk anak-anak jalanan, dan masih banyak lagi…tersenyum saya membacanya. Edisi yang sangat memotivasi…

 

hidup adalah bosan

 

Setelah itu…..saya kembali lesu. Dimana-mana bicara tentang kenaikan BBM. Semua pakar bicara dengan bahasa rumit. Hitungan matematis yang tidak membuat BBM urung naik. Semua tokoh politik mendadak jadi pakar ekonomi, yang sama sekali tidak menyodorkan solusi. Teganya, media massa justru memberikan porsi yang sangat besar terhadap mereka untuk berlomba-lomba bicara. Bukan untuk mencari solusi, namun untuk menunjukkan diri paling benar agar laku lagi saat Pemilu 2009. Sebagai pembaca saya perlu hal yang baru…yang konstruktif dan membuat saya menjadi manusia optimis sekaligus kreatif.

 

Ruang-ruang koran kini juga semakin disesaki oleh iklan-iklan yang sama sekali tidak sopan. Tidak etis. Mulai dari hidup adalah perbuatan hingga tagih menagih janji. Saya tak habis pikir mengapa menagih saja harus melalui koran. Kenapa tidak datang sendiri dan melontarkan kegundahan hati. Hemat energi dan hemat biaya. Dan yang paling penting tidak mengebiri hak pembaca untuk mengetahui berita yang hilang karena tergusur space iklan murahan. Apalagi harga kertas naik, sehingga pembeli harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli dan berlangganan. Sebagai orang yang bukan masuk sebagai kalangan konglomerat seperti pemilik lumpur Lapindo itu, saya tersinggung dicatut untuk sekadar pemanis iklan. Dahi anda memang berkerut, mata anda memang menerawang. Tapi saya yakin, anda sedih bukan karena memikirkan kaum papa, tetapi memikirkan pencalonan diri sebagai RI 1. Sebagai pembaca sekaligus kaum marginal, saya tak rela space koran berkurang gara-gara iklan kampanye murahan dan memalukan seperti itu…

 

Akhirnya hanya bisa pasrah….

 

Harapan untuk menyongsong koran dengan semangat pagi demi pagi hanya kala weekend kualifikasi-lomba FI dan tentu saja gelaran Euro Swiss-Austria mendatang……!!!!!!!!!

–Eh iya, saya bukan simpatisan parpol dan calon presiden manapun, cuma simpatisan Ferrari..hehehehe