June 2008

Monthly Archive

Kaktus

Posted by senja on 30 Jun 2008 | Tagged as: foto, etc

Kata orang tumbuhan yang cakep itu mawar, ato melati, ato aneka bunga genit lainnya.
Tapi enggak ah, kaktus juga keren, kecil tapi gagah…
Seperti yang dibawah ini….
-sedang jeda barang se-jam dua jam- Continue Reading »

Jangan Naif Pak Andi……..

Posted by senja on 24 Jun 2008 | Tagged as: my opinion, media

Dear, Pak Andi Mattalata…….

Ada yang menggelitik di salah berita Jawa Pos edisi 24 Juni halaman 2. Berita berjudul “Jagonya Keok, Golkar Tak Risau, Kekalahan di Pilgub Jateng Tak Berpengaruh pada Pemilu 2009” memuat beberapa statemen anda sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (BAPPILU) DPP Partai Golkar mengenai kekalahan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan di (Partai Golkar) pilgub Jateng ini. Anda yang juga Menteri Hukum dan HAM RI mengomentari kekalahan Golkar yang disinyalir karena tim pemenangan di daerah terlalu mengandalkan KPUD dalam mensosialisasikan pilkada.

Tapi bukan statemen itu yang aneh. Di tubuh berita, anda mengomentari tingginya angka golput di Jateng sebagai berikut;

….Terkait tingginya angka golput pada pilkada Jateng, ketua DPP Partai Golkar itu menilai, itu menjadi kultur masyarakat Indonesia. Pencoblosan dilakukan pada hari libur dianggap tidak tepat. “Kalau libur, ya buat libur. Makanya, harus dipahami kultur masyarakat itu,” jelasnya……….

Oh alangkah dangkalnya analisa anda terkait tingginya angka golput. Kisaran prosentase golput alias orang yang tidak memilih di seluruh–35 kabupaten/kota–Jateng sekitar 40 persen (ada beberapa survei yang mencatat 45 persen). Bahkan di kabupaten Demak, prosentase partisipasi hanya 25 persen. Masyarakat Demak memilih untuk beraktifitas di sawah dan ladang untuk memanen padi. Beberapa TPS bahkan tingkat partisipasnya tidak mencapai 50 persen (lihat Jawa Pos Radar Semarang, 22 Juni 2008, “Partisipasi di Demak Hanya 25 Persen, Tiga TPS Terpaksa Disatukan untuk Pengiritan”).

Golput dalam tataran pemilu, tidak hanya berarti pemilih yang tidak datang ke TPS. Tetapi juga, pertama, menusuk lebih dari satu partai (dalam hal ini pasangan calon). Kedua, menusuk bagian putih dari kartu suara (dalam hal ini, menusuk di tempat luar area yang diharuskan). Kemarin, secara tidak sengaja saat di warnet dekat kampus, saya bertemu dengan salah satu pewarta televisi nasional. Setelah basa-basi sebentar, saya lantas menanyakan masalah golput di pilgub ini. Ternyata benar, angka golput yang tinggi tidak hanya terkait pemilih yang tidak datang, namun juga suara yang tidak sah. Misalnya dengan mencoblos semua gambar pasangan calon dengan aneka bentuk. Memanjang, melingkar, segitiga dan sebagainya. Tujuan mereka jelas, dari pada mengecewakan petugas setempat yang sudah memberikan undangan ke TPS, mereka tetap datang namun tidak memberikan suara sah.

Dalam tataran berdemokrasi, terlalu sederhana jika golput hanya dikaitkan dengan waktu pencoblosan yang dilakukan pada hari libur. Golput adalah bentuk kekecewaan dan protes masyarakat terhadap proses dan perilaku politik dalam sebuah sistem. Beberapa ahli politik bahkan menyebut golput sebagai “mata pedang demokrasi”. Dari perspektif pelakunya golput bertujuan mendelegitimasi pemilu yang diselenggarakan pemerintah, sedangkan dari perspektif demokrasi justru memberikan legitimasi terhadap demokrasi yang berlangsung dimana itu membuktikan bahwa pemerintah telah memberikan ruang aspirasi bagi kepentingan kelompok ekstra parlementer (2003:149).

Golput adalah sebuah identifikasi bagi mereka yang tidak puas dengan keadaan dan aturan main demokrasi yang diinjak-injak oleh partai politik dan pemerintah demi memenangkan pemilu dengan menggunakan aparat negara dengan cara di luar batas aturan main demokrasi. Keberadaan golput mengindikasikan bahwa proses politik yang sedang berlangsung tidak benar. Kendati tidak memiliki kekuatan politik, golput melakukan gerakannya dengan diam. Karena itu golput lebih dekat sebagai gerakan moral ketimbang politik, dan lebih bersifat kultural daripada struktural. (2003:150)

Lantas, jika golput hanya semata-mata dikaitkan dengan coblosan yang dilakukan hari libur, maka ini sebuah warning bagi rakyat. Artinya, parpol tidak lagi punya mata dan telinga. Parpol tidak lagi bisa mendengar dan melihat. Atau mungkin dengan sengaja menutupi panca indra alias berlagak bebal.

Rakyat kini merasa tidak terkoneksi dengan aneka proses politik yang sedang terjadi. Makin apatis. Mereka merasa tetap bisa hidup dengan aneka kreatifitas dan perjuangan hidup sendiri tanpa melalui proses sarat politik uang yang dilakukan oleh parpol. Petani di Demak memilih ke sawah daripada ke TPS. Artinya, sawah menjadi tempat yang lebih menjanjikan ketimbang TPS. Bertani lebih dipercaya sebagai jembatan untuk meningkatkan taraf hidup ketimbang pemilu.

Jadi, alangkah naifnya anda, yang terhormat Pak Andi Mattalata…ini salah satu bentuk protes, bukan liburan!!!!!

Salam

-senja- :)

 

*Beberapa kutipan tentang esensi golput dari J. Prihatmoko, Joko, Pemilu 2004 dan Konsolidasi Demokrasi, Semarang:LP2I Press, hal. 149-151.

*Baca juga  “Golput capai 45 persen, KPUD Lepas Tangan” dan “Jagonya Keok, Golkar Tak Risau, Kekalahan di Pilgub Jateng Tak Berpengaruh pada Pemilu 2009″ di sini 

 

 

 

Politik Uang

Posted by senja on 21 Jun 2008 | Tagged as: etc

Politik uang..

Terima uangnya, jangan pilih orangnya!!!!!!!!!

Selamat berpesta pora, pilgub Jateng 22 Juni 2008….

Identitas Material

Posted by senja on 17 Jun 2008 | Tagged as: etc

Beberapa hari belakangan ini, berita tentang sebuah geng yang diawaki oleh siswi SMP di Juwana Pati santer terdengar. Geng Nero-nama geng tersebut- mendadak jadi terkenal melebihi ratusan atau mungkin ribuan geng lain di negeri ini. Bahkan mungkin menjadi lebih populer dari geng motor Bandung yang sempat booming beberapa waktu lalu. Secara umum ada dua hal mengapa geng ini menjadi primadona pemberitaan media massa. Pertama, karena anggota geng ini murid perempuan namun mampu melakukan tindak kekerasan yang-dianggap- jamak dilakukan oleh laki-laki. Kedua, geng “luar biasa” tersebut lahir di sebuah kota kecil yang selama ini jauh dari sorotan.

Namanya cukup unik. Nero, neko-neko keroyok atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “kalau macam-macam dikeroyok”. Neko-neko dalam standar saya pribadi, adalah sebuah tindakan yang merugikan orang lain, memalukan atau penistaan terhadap standar baku tertentu. Misalnya, maling uang rakyat. Atau jika dikaitkan ke dalam kehidupan anak SMP/SMU, neko-neko bisa dilabelkan ke dalam aktivitas seperti membuat huru hara di kelas, berlaku tidak sportif, nyontek kala ujian, memeras teman, atau berbuat tidak hormat dengan guru. Jika kemudian muncul geng untuk memerangi sikap neko-neko seperti yang saya bayangkan itu, alangkah kerennya geng cewek tersebut. Kalau seperti itu, mungkin setiap sekolah seharusnya mempunyai geng “Nero”.

Namun ternyata neko-neko yang masuk dalam standar geng asal Pati itu, jauh lebih seram dari yang dikira orang kebanyakan. Dari beberapa berita yang menceritakan sepak terjang geng ini, mereka merasa gusar jika ada siswi lain mempunyai penampilan melebihi anggota geng. Atau mempunyai asesoris dan piranti pribadi yang lebih mutakhir dan bagus. Siswi-siswi yang punya kelebihan “materi” inilah yang bakal menjadi mangsa empuk geng Nero. Penampilan orang lain yang lebih baik, dianggap berbahaya karena bisa menggusur eksistensi geng Nero. Identitas material dianggap sebagai sebuah hal yang sakral dan penting untuk dipertahankan.

Apakah memang seperti inilah wajah kita selama ini??. Geng Nero memang secuil realitas yang tidak mewakili keseluruhan, namun kasus ini membuat saya semakin khawatir. Jangan-jangan memang kita makin akrab menumpuk identitas materi. Konon, masyarakat memang lebih menghargai seseorang yang mempunyai mobil bagus dan rumah mewah, entah dari mana sumber uang yang digunakan. Status sosial kini dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai materi berlimpah dan deret angka signifikan ketimbang para “pejuang”.

Bahkan dunia pendidikan kita juga lebih menyukai kumpulan angka sebagai satu-satunya parameter kelulusan. Semakin tinggi angka yang diraih dalam beberapa pelajaran menjadi indikator kepintaran dan kecerdasan. Hidup kita memang disesaki oleh identitas materi. Dan kita hari demi hari mengejar identitas tersebut dengan aneka cara…termasuk dengan membinasakan sesama….

Lomba Sportivitas

Posted by senja on 05 Jun 2008 | Tagged as: etc

” Saya bertekad menyatukan partai kita sehingga kita lebih kuat dan lebih siap dari sebelumnya untuk merebut kembali gedung putih pada November”

-Hillary Clinton dalam “Barack Obama Mengukir Sejarah”, Koran Seputar Indonesia, 5 Juni 2008, halaman 1.

 

“Partai kita, bahkan negara ini, menjadi lebih baik karena dia (Hillary, red.). Saya juga menjadi kandidat presiden yang lebih berkualitas karena harus bersaing dengan Hillary”

-Barack Obama dalam “Pendukung Himbau Hillary Jajaki Capres”, Jawa Pos, halaman 9.

Asyiknya berpesta dengan sportivitas…kita kapan????

 

 

Berhitung Dengan Iklan Politik

Posted by senja on 03 Jun 2008 | Tagged as: media

Akhir-akhir ini banyak tokoh politik yang berlomba-lomba berkampanye dalam balutan iklan. Entah yang mendompleng kaum lain untuk diperjuangkan atau membonceng momentum tertentu. Dalam segi yang normatif, hal ini tentu saja sah. Walaupun efektifitasnya agak diragukan karena perilaku menonton televisi sekarang ini adalah selalu memindah channel kala jeda iklan tiba. Tapi sebenarnya, ada beberapa teori yang memang mengatakan bahwa kampanye di media massa, apapun itu bentuknya berdampak sangat kecil terhadap preferensi pemilih…

Dari sebuah penelitian oleh Lazarfeld dan Menzel, ada kesimpulan bahwa “orang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan antar pribadinya dalam menentukan keputusan politiknya dari pada dipengaruhi oleh hubungan politiknya daripada dipengaruhi oleh media massa”. Mereka menambahkan bahwa masyarakat justru lebih suka menerima informasi dari para pemuka pendapat melalui model komunikasi antar pribadi /interpersonal communication.” (2003:120)

Seorang tokoh komunikasi politik, Klapper, mengatakan bahwa “pemberitaan kampanye atau berita-berita yang terkait dengan pasangan calon sebenarnya tidak akan mengubah pilihan pemilih. Pemberitaan mengenai pasangan calon dan kegiatan kampanye mereka berguna untuk memperteguh keyakinan bukan mengubah pilihan. Klapper mengatakan dalam kampanye politik lewat media massa, orang yang pandangan aslinya diperteguh ternyata jumlahnya 10 kali daripada orang yang pandangannya berubah. Kalaupun terjadi perubahan pandangan, itu merupakan peneguhan tidak langsung dalam arti orang yang bersangkutan merasa tidak puas dengan padangan awalnya sebelum pandangannya berubah.” (1999:94)

Komunikasi antar pribadi justru memegang peranan penting dalam mengubah preferensi calon pemilih. Salah satu hal yang membuat komunikasi model ini sangat potensial untuk mempengaruhi dan membujuk orang lain adalah karena saat berkomunikasi kita menggunakan 5 panca indra kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan (2003:73).

mhhhh…..Setau saya, beberapa kandidat calon pesiden/kepala daerah atau kampaye di tingkat partai belakangan ini mulai kembali (karena beberapa dekade silam, menurut saya ada parpol yang intens melakukan komunikasi interpersonal) menggunakan cara komunikasi antar pribadi walaupun dengan berbagai modifikasi. Barack Obama konon lebih mengandalkan direct mail kepada para pendukungnya dan pemilih pengambang. Dan tentu saja melakukan pertemuan rutin dengan beberapa kelompok-kelompok kecil. Kampanye door to door juga kerap digunakan Obama maupun Hillary untuk mendekati masyarakat di masing-masing negara bagian.

Di Malaysia, partai keadilan juga gagal menembus media massa yang dikendalikan oleh pemerintah dibawah UMNO. Alhasil mereka melakukan kampanye sembunyi-sembunyi melalui blog dan milis.

Komunikasi melalui blog, milis dan email memang bukanlah jenis komunikasi antar pribadi karena menggunakan media berupa sambungan internet (komunikan dan komunikator tidak bertemu langsung). Namun, kemajuan teknologi membuat komunikasi medio dilakukan untuk menyingkat waktu tapi memaksimalkan efek. Komunikasi medio digunakan untuk menyebut jenis komunikasi yang berada di tengah antara komunikasi massa dan antar pribadi. Yang pasti medio maupun antar pribadi mempunyai kekuatan pada umpan balik yang bisa segera diketahui alias tidak tertunda.

Beberapa kali, pilkada di Indonesia juga dimenangkan oleh pasangan calon yang minim berkampanye lewat media. Pasangan-pasangan yang banyak disebutkan tak punya modal berlimpah. Kampanye baik itu melalui media atau pengerahan massa memang tidak berdampak banyak pada pengubahan persepsi calon pemilih. Komunikasi antar pribadi secara intens dan dukungan citra serta mesin partai yang solid justru memberikan efek yang luar biasa. Jadi mengapa menghamburkan uang untuk kegiatan yang efeknya tidak terukur????