Tuesday, June 3rd, 2008

Daily Archive

Berhitung Dengan Iklan Politik

Posted by senja on 03 Jun 2008 | Tagged as: media

Akhir-akhir ini banyak tokoh politik yang berlomba-lomba berkampanye dalam balutan iklan. Entah yang mendompleng kaum lain untuk diperjuangkan atau membonceng momentum tertentu. Dalam segi yang normatif, hal ini tentu saja sah. Walaupun efektifitasnya agak diragukan karena perilaku menonton televisi sekarang ini adalah selalu memindah channel kala jeda iklan tiba. Tapi sebenarnya, ada beberapa teori yang memang mengatakan bahwa kampanye di media massa, apapun itu bentuknya berdampak sangat kecil terhadap preferensi pemilih…

Dari sebuah penelitian oleh Lazarfeld dan Menzel, ada kesimpulan bahwa “orang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan antar pribadinya dalam menentukan keputusan politiknya dari pada dipengaruhi oleh hubungan politiknya daripada dipengaruhi oleh media massa”. Mereka menambahkan bahwa masyarakat justru lebih suka menerima informasi dari para pemuka pendapat melalui model komunikasi antar pribadi /interpersonal communication.” (2003:120)

Seorang tokoh komunikasi politik, Klapper, mengatakan bahwa “pemberitaan kampanye atau berita-berita yang terkait dengan pasangan calon sebenarnya tidak akan mengubah pilihan pemilih. Pemberitaan mengenai pasangan calon dan kegiatan kampanye mereka berguna untuk memperteguh keyakinan bukan mengubah pilihan. Klapper mengatakan dalam kampanye politik lewat media massa, orang yang pandangan aslinya diperteguh ternyata jumlahnya 10 kali daripada orang yang pandangannya berubah. Kalaupun terjadi perubahan pandangan, itu merupakan peneguhan tidak langsung dalam arti orang yang bersangkutan merasa tidak puas dengan padangan awalnya sebelum pandangannya berubah.” (1999:94)

Komunikasi antar pribadi justru memegang peranan penting dalam mengubah preferensi calon pemilih. Salah satu hal yang membuat komunikasi model ini sangat potensial untuk mempengaruhi dan membujuk orang lain adalah karena saat berkomunikasi kita menggunakan 5 panca indra kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan (2003:73).

mhhhh…..Setau saya, beberapa kandidat calon pesiden/kepala daerah atau kampaye di tingkat partai belakangan ini mulai kembali (karena beberapa dekade silam, menurut saya ada parpol yang intens melakukan komunikasi interpersonal) menggunakan cara komunikasi antar pribadi walaupun dengan berbagai modifikasi. Barack Obama konon lebih mengandalkan direct mail kepada para pendukungnya dan pemilih pengambang. Dan tentu saja melakukan pertemuan rutin dengan beberapa kelompok-kelompok kecil. Kampanye door to door juga kerap digunakan Obama maupun Hillary untuk mendekati masyarakat di masing-masing negara bagian.

Di Malaysia, partai keadilan juga gagal menembus media massa yang dikendalikan oleh pemerintah dibawah UMNO. Alhasil mereka melakukan kampanye sembunyi-sembunyi melalui blog dan milis.

Komunikasi melalui blog, milis dan email memang bukanlah jenis komunikasi antar pribadi karena menggunakan media berupa sambungan internet (komunikan dan komunikator tidak bertemu langsung). Namun, kemajuan teknologi membuat komunikasi medio dilakukan untuk menyingkat waktu tapi memaksimalkan efek. Komunikasi medio digunakan untuk menyebut jenis komunikasi yang berada di tengah antara komunikasi massa dan antar pribadi. Yang pasti medio maupun antar pribadi mempunyai kekuatan pada umpan balik yang bisa segera diketahui alias tidak tertunda.

Beberapa kali, pilkada di Indonesia juga dimenangkan oleh pasangan calon yang minim berkampanye lewat media. Pasangan-pasangan yang banyak disebutkan tak punya modal berlimpah. Kampanye baik itu melalui media atau pengerahan massa memang tidak berdampak banyak pada pengubahan persepsi calon pemilih. Komunikasi antar pribadi secara intens dan dukungan citra serta mesin partai yang solid justru memberikan efek yang luar biasa. Jadi mengapa menghamburkan uang untuk kegiatan yang efeknya tidak terukur????