Identitas Material
Posted by senja on 17 Jun 2008 at 03:57 am | Tagged as: etc
Beberapa hari belakangan ini, berita tentang sebuah geng yang diawaki oleh siswi SMP di Juwana Pati santer terdengar. Geng Nero-nama geng tersebut- mendadak jadi terkenal melebihi ratusan atau mungkin ribuan geng lain di negeri ini. Bahkan mungkin menjadi lebih populer dari geng motor Bandung yang sempat booming beberapa waktu lalu. Secara umum ada dua hal mengapa geng ini menjadi primadona pemberitaan media massa. Pertama, karena anggota geng ini murid perempuan namun mampu melakukan tindak kekerasan yang-dianggap- jamak dilakukan oleh laki-laki. Kedua, geng “luar biasa” tersebut lahir di sebuah kota kecil yang selama ini jauh dari sorotan.
Namanya cukup unik. Nero, neko-neko keroyok atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “kalau macam-macam dikeroyok”. Neko-neko dalam standar saya pribadi, adalah sebuah tindakan yang merugikan orang lain, memalukan atau penistaan terhadap standar baku tertentu. Misalnya, maling uang rakyat. Atau jika dikaitkan ke dalam kehidupan anak SMP/SMU, neko-neko bisa dilabelkan ke dalam aktivitas seperti membuat huru hara di kelas, berlaku tidak sportif, nyontek kala ujian, memeras teman, atau berbuat tidak hormat dengan guru. Jika kemudian muncul geng untuk memerangi sikap neko-neko seperti yang saya bayangkan itu, alangkah kerennya geng cewek tersebut. Kalau seperti itu, mungkin setiap sekolah seharusnya mempunyai geng “Nero”.
Namun ternyata neko-neko yang masuk dalam standar geng asal Pati itu, jauh lebih seram dari yang dikira orang kebanyakan. Dari beberapa berita yang menceritakan sepak terjang geng ini, mereka merasa gusar jika ada siswi lain mempunyai penampilan melebihi anggota geng. Atau mempunyai asesoris dan piranti pribadi yang lebih mutakhir dan bagus. Siswi-siswi yang punya kelebihan “materi” inilah yang bakal menjadi mangsa empuk geng Nero. Penampilan orang lain yang lebih baik, dianggap berbahaya karena bisa menggusur eksistensi geng Nero. Identitas material dianggap sebagai sebuah hal yang sakral dan penting untuk dipertahankan.
Apakah memang seperti inilah wajah kita selama ini??. Geng Nero memang secuil realitas yang tidak mewakili keseluruhan, namun kasus ini membuat saya semakin khawatir. Jangan-jangan memang kita makin akrab menumpuk identitas materi. Konon, masyarakat memang lebih menghargai seseorang yang mempunyai mobil bagus dan rumah mewah, entah dari mana sumber uang yang digunakan. Status sosial kini dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai materi berlimpah dan deret angka signifikan ketimbang para “pejuang”.
Bahkan dunia pendidikan kita juga lebih menyukai kumpulan angka sebagai satu-satunya parameter kelulusan. Semakin tinggi angka yang diraih dalam beberapa pelajaran menjadi indikator kepintaran dan kecerdasan. Hidup kita memang disesaki oleh identitas materi. Dan kita hari demi hari mengejar identitas tersebut dengan aneka cara…termasuk dengan membinasakan sesama….








yup..aku juga baca ttg geng ini…
ngeri yah….tapi aku blom tahu kenapa mereka mbikin geng itu…pengaruh film? pengaruh imajinasi?? ato opo yah?
baru dengar tadi pagi. sinting.
realita yg mengerikan, kenyataannya memang banyak yg berorientasi materi utk mengukur suatu prestise maupun sukses di negeri ini.
aku bersyukur terdampar di blog ini http://lihan.net/2007/06/15/penampilan-ohpenampilan/, bacalah
wah mantab!!
kebanyakan nonton pilem hollywood.
wah… gank nero… niru software burning ya,,, napa ga gank TOJI (tonjok tinju)… hiks…hiks…
semakin jelas, mbak…identitas orang Indonesia yg dulu dikenal ramah kini jadi berubah, tukang menganiaya entah verbal atau fisik
Ya begitulah kebanyakan(tidak semua) orang Indonesia sekarang kayak gitu.
Itu karena kebanyakan orang Indonesia mikir kalau sesuatu yang bagus tu yang kayak “Orang Barat”
Akhirnya hancur dech pemikiran orang2 kita
Mungkin geng nero(nero burning kali ya) sering nonton film hollywood yang suka berantem ya..he13x…
kalau diarahkan ke wajib militer mungkin naluri keroyok mereka bakal tersalurkan dg positip atau ikut klub karate tinju wusyu yudo silat dll. moga indo jaya di olimpic
y..y..
wajah kita..wajah kita..
ga cocok? basmi!
ga setuju? bakar!
ga nurut? gebug!
nyaingin? libas!
emang siapa pula yg mereka contoh? kok sewot dan rame2 ngadilin sih?
jenenge wae wes koyo kaisar yg mbakar2 kota roma dan seisinya je… pancen cocok!
baru tau kalo nero itu maksudnya neko2 keroyok.. :p
ngeri banget yach! ati2 deh, mendidik anak2 kita…
ini nih produk sinetron Indonesia.
ceritanya kan kalo gak geng cewek (modis dan berbaju ketat) yang menguasai kelasnya…
atau dua orang cewek yang saling melukai satu sama lain demi seorang cewek…
ah halooo pak/bu produser yang disana bikin donk film yang mendidik…
*jadi oot
Baru dengar….seminggu ini sibuk urusan lain…
Wahh kok bisa ya, padahal kan kalau kota kecil keakraban masih terjadi….
Jangan-jangan pengerauh sinetron yang makin kacau itu. Ayoo Senja, kalian dari media menulis dong, apa pengaruh tontonan yang tak mendidik itu….
kurang sarana pelampiasan. wajah pendidikan di indonesia. (yang saya maksud bukan hanya pendidikan di sekolah)
memprihatinkan sekali generasi penerus kita ini…….lalu apa tindakan yg dilakukan? cuma bicara? mestinya orangtuanya ikut dipersoalkan krn usia mereka msh dlm tggjwb orangtua….*nggrayangi githokku dewe*
Nero yang pertama saya setuju itu belum ada. Yok kita bikin dan gabung bersama dengan KPK mengusut para pengawasnya pengawas reformasi.
Kalau sudah terbentuk geng “nero” versimu, saya ikutan ya
Nice telling jeng.
mungkin yang bikin booming banget karena selain berasal dari kota kecil, juga karena angotanya pelajar cewek kali ya??.
hmm,, memang potretnya seperti ini dan biasanya solusi yang diambil akan terbentuk gank tandingan.
mungkin kurikulum disekolah ditambah aja dengan mata pelajaran ” manajemen gank” dan kontranya “evaluasi gank dan cara penangulanngannya” nah kan lumayan tuh ada lapangan kerja baru buat calon guru, penulis dan percetakan, heheheheh (gak serius).
ih….. jijik ngeliat abg-abg preman kayak geng nero ini… huh… yang bikin gw bingung, ya itu… kok bisa2nya dari kota kecil muncul kekerasan brutal kayak gitu ya?
mungkin sebaiknya di Indonesia lebih banyak lagi di buka sasana tinju ato sejenisnya yang bisa menampung bakat2 seperti vip member club NERO, so mereka2 pada ketemu tandingannya jadi lawan bisa seimbang.
ini sebenarnya memang mutlak pengaruh dari siaran televisi2 swasta melalui sinetron2 yang tak berbobot. Coba kalo siaran TV kita cuma ada TVRI, pasti aman deh. setiap hari kita nontonnya cuma perlombaan klompencapir ato siaran langsung pidatonya pak presiden. he he he
wiih,. setuju banget ini
wiih,. setuju banget ini (korban IPK
)
eh, jadi OOT. Nganu kalo saya boleh berpendapat, itu mungkin karena pengaruh dari media yang sekarang ini terlalu “telanjang”. Bukan hanya berita yah, saya kok malah menyalahkan media-media yang secara tidak langsung memberi contoh tentang gaya hidup. Gampangannya seperti sinetron, sinetron sekarang kan ndak mutu! ga ada unsur pendidikan sama sekali disitu, memangnya kita yang nonton goblok? kita bisa nolak mungkin tapi kalo disetiap saluran isinya sinetron semua gitu? kalo mo ditelusuri sebenernya masalahnya lebih luas karena sudah menyangkut ideologi bangsa segala (lah sok berat?)
udah ah,. *pusing*
doh dumodoh…
wahh ternyata gak hanya d kalimantan az ya, ternyata d jawa jg ad.
seperti waktu SMA menerima siswa baru az. sayangnya gank nero ajang balas dendam, kalau ad pasti seru kan ad yang ninggal. itu baru seru, siapa yang hebat dia yang berkuasa. seperti masa ini dijajah bangsa sendiri.