Beberapa hari belakangan ini, berita tentang sebuah geng yang diawaki oleh siswi SMP di Juwana Pati santer terdengar. Geng Nero-nama geng tersebut- mendadak jadi terkenal melebihi ratusan atau mungkin ribuan geng lain di negeri ini. Bahkan mungkin menjadi lebih populer dari geng motor Bandung yang sempat booming beberapa waktu lalu. Secara umum ada dua hal mengapa geng ini menjadi primadona pemberitaan media massa. Pertama, karena anggota geng ini murid perempuan namun mampu melakukan tindak kekerasan yang-dianggap- jamak dilakukan oleh laki-laki. Kedua, geng “luar biasa” tersebut lahir di sebuah kota kecil yang selama ini jauh dari sorotan.

Namanya cukup unik. Nero, neko-neko keroyok atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “kalau macam-macam dikeroyok”. Neko-neko dalam standar saya pribadi, adalah sebuah tindakan yang merugikan orang lain, memalukan atau penistaan terhadap standar baku tertentu. Misalnya, maling uang rakyat. Atau jika dikaitkan ke dalam kehidupan anak SMP/SMU, neko-neko bisa dilabelkan ke dalam aktivitas seperti membuat huru hara di kelas, berlaku tidak sportif, nyontek kala ujian, memeras teman, atau berbuat tidak hormat dengan guru. Jika kemudian muncul geng untuk memerangi sikap neko-neko seperti yang saya bayangkan itu, alangkah kerennya geng cewek tersebut. Kalau seperti itu, mungkin setiap sekolah seharusnya mempunyai geng “Nero”.

Namun ternyata neko-neko yang masuk dalam standar geng asal Pati itu, jauh lebih seram dari yang dikira orang kebanyakan. Dari beberapa berita yang menceritakan sepak terjang geng ini, mereka merasa gusar jika ada siswi lain mempunyai penampilan melebihi anggota geng. Atau mempunyai asesoris dan piranti pribadi yang lebih mutakhir dan bagus. Siswi-siswi yang punya kelebihan “materi” inilah yang bakal menjadi mangsa empuk geng Nero. Penampilan orang lain yang lebih baik, dianggap berbahaya karena bisa menggusur eksistensi geng Nero. Identitas material dianggap sebagai sebuah hal yang sakral dan penting untuk dipertahankan.

Apakah memang seperti inilah wajah kita selama ini??. Geng Nero memang secuil realitas yang tidak mewakili keseluruhan, namun kasus ini membuat saya semakin khawatir. Jangan-jangan memang kita makin akrab menumpuk identitas materi. Konon, masyarakat memang lebih menghargai seseorang yang mempunyai mobil bagus dan rumah mewah, entah dari mana sumber uang yang digunakan. Status sosial kini dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai materi berlimpah dan deret angka signifikan ketimbang para “pejuang”.

Bahkan dunia pendidikan kita juga lebih menyukai kumpulan angka sebagai satu-satunya parameter kelulusan. Semakin tinggi angka yang diraih dalam beberapa pelajaran menjadi indikator kepintaran dan kecerdasan. Hidup kita memang disesaki oleh identitas materi. Dan kita hari demi hari mengejar identitas tersebut dengan aneka cara…termasuk dengan membinasakan sesama….