Dalam acara The Candidate (MetroTV edisi 21 Agustus 2008) Pengamat Politik Fachry Ali bertanya kepada Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir terkait dengan kondisi media saat ini. Fachry mengatakan bahwa kondisi media sekarang sudah banyak berubah dengan beberapa tahun lalu. Kini, tambahnya, media tidak lagi dimiliki oleh orang-orang yang memang bergerak di bidang media, namun oleh para pemodal-pemodal. Dalam tataran demokrasi, Fachry mengatakan bahwa jika nantinya Soetrisno menjadi presiden maka ada dua tantangan besar yang harus ditundukkan yakni bagaimana menghandle partai politik (dalam konteks oposisi, tentu saja) dan media sebagai kekuatan besar di tanah air.

Tidak penting bagaimana jawaban Soetrisno terhadap pertanyaan tersebut. Karena seperti yang sudah-sudah jawaban bukan pada subtasinya. Yang justru cukup krusial (setidaknya oleh saya) adalah bahwa pertanyaan ini lebih mengarah pada “bagaimana bertransaksi dengan para pemodal media sehingga akhirnya bisa menang dan menguasai opini publik dalam konteks komunikasi politik”. Hal ini tentu saja memprihatinkan karena dalam proses transaksi, akan terjadi tawar menawar “harga” untuk menentukan posisi sub dan super. Media kini tidak lebih daripada bursa jual beli realitas. Realitas semu manakah dari sekian banyak realitas yang sudah dikonstruksikan yang bakal menjadi realitas final untuk disajikan kepada khalayak. Realitas final-nya tentu saja yang paling banyak menghasilkan profit. Profit bagi siapa? Profit bagi yang berhasil memegang posisi super. Nah, anda bisa bayangkan bagaimana carut marutnya kondisi media saat ini.

Salah satu teori media, yakni teori konstruksionis, berita sebagai produk media memang tidak lebih sebagai konstruksi dari “fakta” di lapangan, bukan refleksi. Artinya, berita yang oleh khalayak baca setiap harinya bukanlah apa yang terjadi sungguh-sungguh di luar sana. Konstruksi mengandung arti bahwa bagaimana isi sebuah produk berita sangat bergantung dari bagaimana fakta tersebut dilihat dan dibingkai oleh pewarta atau institusi media. Nah, bagaimana institusi media bekerja dalam mengkonstruksikan berita tentu saja dipengaruhi oleh serangkaian faktor baik internal maupun eksternal. Dalam sebuah contoh kecil, setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda tentang sebuah peristiwa. Misalnya, saya melihat bahwa pembalakan hutan adalah sebuah tindakan melanggar hukum. Opini saya tersebut hadir karena sejak kecil saya hidup di perkampungan pinggir hutan, sehingga saya berinteraksi dengan realitas sosial bahwa hutan adalah sebuah kekayaan alam yang patut dilindungi. Bagi orang lain, mungkin pembalakan hutan adalah sebuah resiko yang wajar karena merupakan salah satu sumber bagi pemasukan negara.

Dalam mekanisme konstruksi berita, proses yang terjadi lebih kompleks dari contoh tersebut. Karena setiap orang (dalam institusi media) sepanjang hidupnya berinteraksi dengan kondisi sosial dan kemudian mempunyai nilai-nilai yang dia pegang. Nilai-nilai tersebut akan berinteraksi dengan kondisi sosial, politik dan ekonomi dimana media tersebut beroperasi. Sekumpulan nilai tersebut lantas termanifestasikan ke dalam poltik redaksional media. Bisa dibayangkan seberapa banyak interaksi yang terjadi dalam sekali proses produksi berita. Proses interaksi dalam proses konstruksi realitas inilah yang memungkinkan adanya reduksi serangkaian fakta hingga akhirnya menjadi “fakta” yang hadir dalam setiap lembar surat kabar yang kita baca sehari-hari.

Maka apa yang dikatakan Fachry adalah sebuah keniscayaan bahwa karena dikuasai oleh para pemodal maka wajah isi media kita juga bergambar kurang lebih seperti itu juga. Hal ini lebih jauh diterangkan oleh teori-teori media lainnya.