etc
Archived Posts from this Category
Archived Posts from this Category
Posted by senja on 16 Mar 2008 | Tagged as: etc
F1 musim ini sudah digeber. Diawali dengan Grand Prix Australia yang dimenangkan oleh rookie tahun lalu, Lewis Hamilton (McLaren-Mercedes). Jika MacLaren cukup unggul karena menempatkan dua andalannya yakni Hamilton dan Hekki Kovalainen di peringkat 1 & 5, sebaliknya terjadi pada Ferrari. Kimi Raikkonen gagal finis setelah berusaha menyalip dua mobil di depannya dan melintir keluar lintasan. Sedangkan Felipe Massa lebih sial lagi karena duluan out. Tampaknya problema mesin dan beberapa regulasi baru di F1 membuat tim kuda jingkrak-julukan Ferrari- tak begitu beruntung di balapan kali ini.
Nasib buruk Ferrari sebenarnya sudah cukup terlihat dari sesi latihan (Jumat) hingga babak kualifikasi (Sabtu) kemarin. Raikonnen menyebutkan di sejumlah media, bahwa performa mobilnya tak ciamik saat melahap Sirkuit Albert Park tersebut. Awalnya statemen ini dianggap hanya upaya menutupi kekuatan timnya di hadapan kompetitor. Namun ternyata hal ini berlanjut hingga babak kualifikasi. Insiden mobil ngadat membuatnya harus start di urutan 16. Sedangka Hamilton sempurna menduduki pole posisition, dan bahkan kedudukannya tidak tergantikan selama lomba kecuali beberapa saat setelah ia masuk pit stop.
Hamilton, memang kerap punya catatan bagus di awal balapan seperti yang terjadi di musim lalu sehingga membuat Ferrari keder. Kali ini tampaknya, ia akan kembali menapaki balapan demi balapan dengan percaya diri tinggi. Apalagi setelah poin pertama dikantongi. Namun bukan Ferrari jika tidak cepat mengatasi kendala mesin yang membuat mereka keteteran di Albert Park. Situasi ini menjanjikan persaingan dua tim semakin seru. Gelar tidak akan terkunci di tengah musim seperti yang terjadi kala Schumacher masih digdaya. Seri demi seri akan menjadi ajang uji mesin dan kecepatan. Apalagi setelah beberapa regulasi dihilangkan seperti tidak adanya kontrol traksi, aturan girboks, dan kualifikasi yang lebih cepat.
Jadi masih banyak yang bisa terjadi. Mampukah Ferrari meningkatkan performa di balapan-balapan ke depan? dapatkan Hamilton konsisten hingga akhir musim? atau, akan muncul rookie baru yang menyemarakkan persaingan dua raksasa? kita tunggu saja ![]()
Posted by senja on 05 Mar 2008 | Tagged as: etc
Menguntit orang tak dikenal…..
Mungkin sebuah kegiatan yang sedikit menggelikan, namun tidak bagi saya, apalagi yang sejak 2 bulan lalu tak lagi dikejar-kejar deadline harian..hehehehe..
Begini ceritanya…
Kala memarkir motor di gedung Admiral Semarang kemarin, mata saya bersiborok dengan pemandangan aneh. Seorang laki-laki mencengkeram ujung kerah seorang wanita. Namun karena perselisihan (anggaplah seperti itu, karena mana ada percintaan yang diawali dengan kejahatan dan dilakukan di alam bebas terbuka :p) tersebut di areal parkir yang dilalui banyak orang maka si laki-laki tersebut merapatkan badannya yang masih dalam posisi duduk di jok motor se-rapat mungkin dengan sang wanita yang berdiri di samping motor. Si wanita tidak meronta. Mereka terlibat negosiasi yang cukup alot, hingga akhirnya si pria melepaskan cengkraman plus ancaman. Mereka berdua sepakat memasuki gedung Admiral bersisihan karena hari itu adalah hari terakhir pameran buku murah meriah. Kejadian itu mungkin hanya satu meter di depan saya yang baru datang dan membayar parkir. Terlintas di pikiran untuk membantu di wanita untuk membebaskan diri dari pria itu. Namun urung karena belum sampai jambak-jambakan, pukul-pukulan. Si wanita juga tidak meminta pertolongan, pertanda dia masih bisa membela diri sendiri. Si pria juga tidak meneriakkan sesuatu, tanda bahwa masalah masih bisa diselesaikan dan bukan kasus perampokan dan semacamnya sehingga tak perlu di bawa ke polisi. Selebihnya, saya tidak punya dugaan lain.
Naluri saya untuk mengintili mereka lebih jauh pun muncul. Jujur, terbesit bayangan, bagaimana jika pemandangan ini terulang di dalam gedung yang padat pengunjung. bagaimana hebohnya? jika tadi hanya menarik kerah baju, mungkin kali ini menarik yang lain? jika tadi si wanita dan laki-laki bernegosiasi dengan percakapan minim volume, mungkin kali ini tidak….Atau mungkin si wanita butuh pertolongan untuk menggampar pipi di pria atau sebaliknya..dengan senang hati saya akan membantu
Ekpektasi saya terlalu tinggi rupanya. Walau ternyata si wanita menangis. Mengeluarkan air mata, dan berwajah murung sepanjang melihat-lihat stand demi stand buku, namun keduanya tampak rukun. Mengitari rak demi rak. Menyibak buku demi buku. Membuka lembar demi lembar buku yang menarik. Jika mereka asyik masyuk melihat pameran, saya sebagai pihak yang mengintili justru menjadi tidak leluasa. Selain harus menjaga jarak dengan keduanya, juga harus mencari posisi se-nyaman mungkin agar pengintilan tidak terbongkar, dan saya bisa melihat mereka bersandiwara hingga selesai. Oya, tujuan awal cari beberapa buku juga untuk sementara saya lupakan…hehehehe. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka adalah ternyata (setelah diinget-inget) wartawan sebuah media elektronik di Semarang. Beruntung mereka bukan kuli tinta bagian olahraga sehingga mungkin tidak familiar dengan tampang saya yang sudah beberapa bulan menghilang dari pentas tulis menulis.
Proses kintil mengintili memakan waktu hampir 1 jam-an dengan tanpa keributan seperti di areal parkir. Mereka melenggang lagi ke tempat parkir dan pulang dengan berboncengan..fiuhhhhhh syukurlah tidak terjadi penganiyaan lagi.
Hal-hal semacam ini sebenarnya sering saya lihat. Dua orang manusia yang terlibat hubungan intim lebih dari kawan, ribut dengan menggunakan kekerasan fisik dan psikologis di depan umum atau minimal di tempat ramai. Mereka tak lagi malu atau menyembunyikan sumpah serapah makian dan pujian. Rela jadi tontonan banyak orang. Persis reality show yang marak di televisi..
Beberapa bulan yang lalu misalnya..
Saat nonton plus liputan ajang otomotif di Stadion Diponegoro Semarang, seorang suami melemparkan seplastik penuh es teh ke muka istrinya dengan amarah membara dan emosi tingkat tinggi. Saking marahnya, lemparan si suami tidak tepat alias melenceng ke badan saya yang berada di dekat istrinya. Alhasil baju saya basah oleh minuman yang bukan milik saya. Si suami melotot, saya pun tak kalah melotot. Si suami berang kepada istrinya, saya pun tak kalah berang. Si istri kaget, saya pun tak kalah kaget. Si suami memaki si istri, saya pun memaki si suami. Enak aja, ribut mah ribut, tapi jangan orang lain yang kena getahnya duoooonkkkkkkkk. Si suami ngeloyor pergi setelah saya katain gila. Dia menstarter motor dengan membawa serta 2 anak mereka dan melempar helm milik istrinya di pelataran stadion dengan keras. Si istri pun ditinggal sendiri tak berdaya tanpa tumpangan. Saya pun tak berdaya dengan baju basah karena hujan es teh.
Peristiwa itu memberikan petunjuk…
Betapa keributan domestik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan huru hara baik-baik di rumah, kini menjadi jamak di pertontonkan. Dapat teladan dari manakah mereka ini???
Posted by senja on 03 Mar 2008 | Tagged as: etc
Here’s song for the journey
As we draw near the line
Though our eyes bear a tear
As we wave our goodbye
May the clouds part before you
May the stars kiss your eyes
There are days made for wonder
And laugther and wine
May your dreams take you places
Through rivers that wind
If we dont count our blessings
Were wasting our time
Heaven knows where the road falls before me
May the angels hold those left behind
When i dream of the treasures
And pleasures we find
There are many and many were mine
When your heart it grows weary
And you cant face the night
I will give you my shoulder
For the weight on your mind
If we dont count our blessings
We’re wasting our time
Here’s a song for the journey tonight
*jangan tanya siapa yang nyanyi…lupa..
Posted by senja on 18 Feb 2008 | Tagged as: etc
Hari ini, armada baru transportasi darat di Jogjakarta mulai beroperasi bernama Bus Trans Jogjakarta (BTJ). Sebenarnya, bus ini sudah mulai disosialisasikan kemarin. Penumpang boleh naik gratis kemanapun sambil nyoba-nyoba beberapa jalur. Cuman karena kemarin hari Minggu, jadi nggak ikutan nyoba karena kampus biru tutup. Nah, hari ini kelar nonton pameran foto (update selanjutnya tentang pameran foto keren…) berangkat deh naik BTJ tanpa tujuan alias cuma pengen jalan-jalan doang, kalau di F1 kegiatan ini dinamakan test drive..yah, beda-beda tipislah…wekekeke…
Eh..sebelumnya, tidak ada salahnya daku menjelaskan dulu apakah BTJ itu…. Sebenarnya konsep BTJ tidak jauh beda dengan Bus Trans Jakarta atau justru kerap disebut sebagai busway. Intinya sih, bus ini menyediakan/menjanjikan pelayanan memuaskan untuk penumpang karena busnya ber-AC, bersih, dan hanya berhenti di halte-halte yang disebar di 76 titik seluruh Jogja. Di halte yang beberapa diantaranya digunakan sebagai Point on Sales (PoS) inilah penumpang bakal turun dan naik menuju ke halte-halte berikutnya tergantung tujuannya. Tujuh PoS, salah satunya di Halte Kopma UGM, para penumpang bisa membeli kartu berlangganan yang bisa digunakan untuk jangka waktu tertentu. Jadi dengan punya member card, penumpang tak perlu repot-repot membawa duit cash setiap akan naik, karena perjalanan –dalam kurun waktu tertentu– sudah dibayar dimuka. Oya, terkadang untuk mencapai satu tempat, penumpang harus berganti dari bus jalur satu ke yang lain. Jika ini terjadi, penumpang tak perlu membayar lagi, karena selama pergantian bus selama dilakukan antar halte/tidak diluar halte, maka itu dianggap sekali jalan. Sebagai awal sosialisasi, kita hanya perlu merogoh kocek Rp 1000. Selanjutnya, ongkos bakal dinaikkan menjadi Rp 3000 sejauh apapun tujuan kita. Sekedar perbandingan, di Jogjakarta bus biasa mematok tarif Rp 2000 jarak jauh/dekat.
Ada satu perbedaan vital yang membedakan BTJ dengan Bus Trans Jakarta. Jika di Jakarta, bus ini melintasi jalur khusus yang ditandai dengan separator yang memisahkan jalur biasa dengan busway, di Jogja tidak ada separator. Jadi BTJ tetap berjalan di jalur biasa bercampur dengan kendaraan lain dan tentu saja kemacetan di beberapa titik. Kenapa tidak ada separator? Pertama, karena lebar jalan-jalan di Jogja tidak seluas Jakarta atau Semarang sehingga sudah tidak memungkinkan pembagian jalan untuk bus khusus dan umum. Kedua, ini semata-mata (dugaan pribadi) dilatarbelakangi alasan kearifan lokal, agar BTJ tidak serta merta mengkhususkan diri dengan dengan dominasi di jalur khusus, sedangkan bus-bus lain masih bergumul dengan macet di jalur biasa. Efeknya waktu tempuh BTJ dari halte ke halte tidak bisa dipastikan. Jangka waktunya sekitar 10-15 menit.
Sekedar info–dari beberapa petugas yang saya tanyai– belum ada demonstrasi penolakan besar-besaran terkait peluncuran BTJ. Semuanya berjalan lancar. Mungkin kuncinya adalah karena beberapa sopir dan trayek bus lama dialihkanke BTJ sehingga tidak ada penumpukan armada. Bahkan beberapa halte BTJ juga berada di dalam terminal pemberhentian/pemberangkatan bus umum seperti terminal Condong Catur dan Jombor. Faktanya, para sopir biasa dan awak BJT gayeng bercanda dan ngobrol :). Satu lagi info penting, BTJ beroperasi hingga pukul 21.30 WIB. Hal ini memecahkan problem angkutan di Jogja yang selama ini hanya beroperasi hingga sebelum magrib.
Balik lagi ke perjalanan saya muter-muter tanpa arah…cukup menyenangkan. Walau berdesakan karena ternyata tidak hanya saya yang jalan tanpa arah, namun penumpang-penumpang lain yang cuma jalan-jalan dari satu halte ke halte lain agar lebih familiar dengan jalur yang dilalui. Anak-anak sekolah juga menyambut gembira, bahkan ada gerombolan pemuda SMP yang merencanakan untuk pergi keliling kota Rabu lusa dengan bus. Ya, halte-halte BTJ memang sengaja di bangun dekat dengan sekolah dan kampus agar memudahkan akses konsumen. Perjalanan yang berawal halte depan RS Panti Rapih, terus melaju hingga SMP 5, Kusumanegara,Umbulharjo, Wirobrajan, Jalan Magelang, Monjali. Pas di tengah jalan daerah Wirobrajan, bus yang saya tumpangi nabrak becak plus sopirnya (tukang. red). Becaknya terbalik. Tukang becaknya marah-marah. Walau nggak luka tapi becaknya rusak. BTJ terus melaju karena penumpang harus mengantarkan penumpang ke halte berikutnya. Pas di halte tujuan, si sopir digelandang ke kantor polisi oleh pak polisi (ya iyalah :p) untuk dimintai pertanggungjawaban. BTJ kemudian meneruskan perjalanan dengan sopir lain. Duh…
Pelayanan awak bus juga memuaskan. Mereka dengan sukarela menjelaskan jalur-jalur yang tidak kita ketahui. Bahkan beberapa kondektur selalu mengumumkan ke halte mana tujuan kita berikutnya. Tentu saja hal ini memudahkan untuk para penumpang awam.
Akhirnya, saya terpaksa turun Monjali karena nggak tahan kelaperan…hehehehe. Akhirnya berganti bus menuju terminal Condong Catur dan pakai bus biasa untuk pulang…capek..tapi menyenangkan jalan-jalan kali ini..
But, saya nggak sempet motret. Suasana bus yang hiruk pikuk dan sesak membuat saya malas untuk motret. Lagian bentuknya kayak bus biasa kok, tapi bedanya di dalam ada tempat dan pegangan untuk penumpang yang berdiri. Akhirnya..seperti yang tertulis di kaca BTJ, “Selamat di datang di kawasan bebas rokok, copet dan pengamen”!!! wekekekeke
Posted by senja on 14 Feb 2008 | Tagged as: etc
Pernakah anda ke Rumah Sakit untuk urusan sakit yang sedikit remeh temeh, tidak penting, agak memalukan tapi harus dilakukan??? saya pernah….kemarin tepatnya…
Semarang yang sedang dilanda musim penghujan membuat warganya rentan dengan penyakit demam berdarah, atau minimal diare, pusing, demam dan lain sebagainya. Tapi bukan keluhan itu yang membawa saya harus ke salah satu rumah sakit pemerintah di kota lunpia ini. Saya ke rumah sakit juga bukan karena penyakit tipes saya tiba-tiba kambuh seperti dua tahun belakangan ini. Saya, si cewektulen ini harus ke UGD karena secara tidak sengaja menelan duri ikan. Duri ikan ini saya sinyalir masih nyangkut di tenggorokan sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa….waaaa lucu bukan….tidak penyakit serius tapi harus ditangani…kalau tidak, saya takut pita suara saya rusak dan tidak bisa lagi melakoni kegiatan berkaraoke ria…hiks hiks..
Bencana ini berawal dari aksi makan siang setelah sebelumnya tidak sarapan. Baru 4 kali menyendok, plus memakan ikan tersebut, si mbak warung menanyakan minuman apa yang saya inginkan. Dengan susah payah karena nasi masih mengumpul di mulut saya jawab minum es teh. Setelah dirasa cukup alias tidak ada duri ikan lagi, saya telan-lah si makanan tersebut. Wakssss…..ternyata masih ada duri dan nyangkut di tenggorokan. Saya gelontor pakai segelas es teh, tetap bandel. Saya sendokkan makanan lagi ke mulut agar si duri cantik itu mau hanyut, eh tetep aja nakal. Tenggorokan udah mulai sakit. Saya pesan lagi satu gelas es teh agar duri nan indah mau menuju perut. Ahhhh tetap saja tidak mau. Berbagai cara sudah dilakukan. Saya berinisiatif meneruskan makan agar durinya mau luruh. Tapi yang terjadi saya justru sudah tidak bisa menerima makanan lagi. Muntah-muntah karena ada benda asing nangkring di tenggorokan. Olala…capek deh…baru makan 4 sendok sudah dapat bencana. Akhirnya saya hengkang dari warung itu, di jalan, sambil nyetir motor, saya muntah-muntah lagi. Duh, antara ngebut agar cepat sampai di rumah salah satu sodara, tenggorokan saya makin nggak enak. Duri ini sepertinya bingung memutuskan apakah ke perut atau mau keluar…waaaaaaaa
Nyampe di rumah saudara, saya coba minum lagi. Tetap tidak berhasil, kue milik Fazel saya makan agar duri ini mau mengalah tapi nihil. Yang ada saya justru muntah-muntah lagi. Air mata, keringat sudah memenuhi wajah. Saya pun nyerah….tenggorokan makin sakit, dibuat geleng-geleng kepala sakit, dipake nunduk nyeri…waduh…
Akhirnya saya cabut ke UGD dengan menahan sakit dan malu. Setelah menunggu giliran cukup lambretta alias lama, akhirnya nama saya dipanggil.
Mas Dokter (MD): Namanya siapa mbak?
CewektulenButuhBantuan(CBB): Senja
MD: Siapa? Cintia?
CBB: S E N J A (yeeee Cintia mah nama penyanyi dangdut kaleeeee)
MD: Sakit apa?
CBB: Hiks…tertusuk duri, eh maksudnya pas saya makan, nggak sengaja nelan duri…sekarang masih ada di ternggorokan (maluuuuuuu….)
MD: ooooooo, masih kuliah? Jurusan apa? Bla..bla….
CBB: Iya…bla bla (Duh masnya yang ditanyain nggak penting banget, nggak ada hubungannya ma penyakit..huh…….woiiiiiiii)
MD: Oke mari saya periksa…wahhh, ini musti ke THT
CBB: Gpp yang penting durinya keluar. Emang kalau di THT mulutnya diapain dok?
MD: Ya dikeluarkan….
CBB: Hah….pake alat?
MD: Iya, hayooo katanya tadi mau diapa-apain asal keluar..
CBB: Iya, saya kan cuma nanya..masak nggak boleh..
Setelah diperiksa, si dokter ini lantas menyerahkan tanggungjawabnya kepada dokter spesialis THT. Bu dokter yang budiman ini juga tidak menemukan duri nangkring di tenggorokan saya. Sudah diobservasi. Lidah saya sudah ditarik, udah diapa-apain sampe muntah-muntah, tapi hasilnya nihil. Hiks. Dokter cantik ini menyimpulkan masih ada dua kemungkinan. Pertama, duri itu memang masih ada di tenggorokan sehingga menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam. Yang kedua, duri sudah hilang namun meninggalkan luka di tenggorokan….Duhhhhh
Akhirnya saya pulang dengan gontai. Setelah menebus obat di apotik, saya pun pulang…..Kalau seperti ini….saya jadi takut makan ikan berduri. Mungkin baru beberapa bulan ke depan saya sanggup makan diwarung itu lagi…hiks…..
Posted by senja on 07 Feb 2008 | Tagged as: etc
Entah, kenapa semenjak di Jogja Selasa lalu, ada aja sms dari temen lama yang mengabarkan bakal ke Jogja juga..wuah seneng jadinya, kan bisa jalan plus hunting poto bareng….
Nah, di suatu sore yang mendung, salah satu temen sms, ngajakin ketemuan plus jalan-jalan, malah ngajak karaoke segala..dengan senang hati daku menerima tantangan kendati hanya bermodalkan suara pas-pas-an….ehem–ehem-
Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Gerombolan cewek suka nyanyi pun menuju salah satu tempat karoke keluarga di kawasan Colombo Jogja. Konser mini ini akan diramaikan oleh, saya sendiri sok pede, Tita, Yani dan Vera. Selama 1 jam penuh kami beraksi. Mulai dari nyetel-nyetel lagu-lagu jadul alias jaman dulu, seperti Kita (SO7), Tak Bisakah (Peterpan), ada juga yang lagu-lagu nggak banget seperti Stinky. Pas nyanyi lagu ini penghayatan Tita dalem banget…wakakakakak.
Ada juga beberapa lagu yang …ehem dalem-dalem….hehehehehe. The Best I Ever Had-nya Vertical Horizon, Better Man-nya Robbie Williams, dan salah satu lagu Matcbox Twenty, 11 Januari (Gigi). Kami, para pemudi yang yang sedang berbahagia ini melepaskan segala kepenatan rutinitas dalam aneka lirik lagu dan gaya. Capek bersedih-sedih, diputerlah lagu Mulan Jameelah yang asli membuat kami merasa tidak pantas menyanyikan lagu Mahkluk Tuhan Yang Paling Sexy. Ternyata lagu itu cuma “enak” didengerin tapi nggak asik dibawain….Ini ni yang paling oke, Umbrella-nya Rihanna..hehehehehehehehe……
Konser mini diakhiri dengan makan dan minum di bunderan UGM dan ngeceng nggak jelas di Masjid Kampus……..halah…