etc
Archived Posts from this Category
Archived Posts from this Category
Posted by senja on 07 Feb 2008 | Tagged as: etc
Entah, kenapa semenjak di Jogja Selasa lalu, ada aja sms dari temen lama yang mengabarkan bakal ke Jogja juga..wuah seneng jadinya, kan bisa jalan plus hunting poto bareng….
Nah, di suatu sore yang mendung, salah satu temen sms, ngajakin ketemuan plus jalan-jalan, malah ngajak karaoke segala..dengan senang hati daku menerima tantangan kendati hanya bermodalkan suara pas-pas-an….ehem–ehem-
Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Gerombolan cewek suka nyanyi pun menuju salah satu tempat karoke keluarga di kawasan Colombo Jogja. Konser mini ini akan diramaikan oleh, saya sendiri sok pede, Tita, Yani dan Vera. Selama 1 jam penuh kami beraksi. Mulai dari nyetel-nyetel lagu-lagu jadul alias jaman dulu, seperti Kita (SO7), Tak Bisakah (Peterpan), ada juga yang lagu-lagu nggak banget seperti Stinky. Pas nyanyi lagu ini penghayatan Tita dalem banget…wakakakakak.
Ada juga beberapa lagu yang …ehem dalem-dalem….hehehehehe. The Best I Ever Had-nya Vertical Horizon, Better Man-nya Robbie Williams, dan salah satu lagu Matcbox Twenty, 11 Januari (Gigi). Kami, para pemudi yang yang sedang berbahagia ini melepaskan segala kepenatan rutinitas dalam aneka lirik lagu dan gaya. Capek bersedih-sedih, diputerlah lagu Mulan Jameelah yang asli membuat kami merasa tidak pantas menyanyikan lagu Mahkluk Tuhan Yang Paling Sexy. Ternyata lagu itu cuma “enak” didengerin tapi nggak asik dibawain….Ini ni yang paling oke, Umbrella-nya Rihanna..hehehehehehehehe……
Konser mini diakhiri dengan makan dan minum di bunderan UGM dan ngeceng nggak jelas di Masjid Kampus……..halah…
Posted by senja on 04 Feb 2008 | Tagged as: etc
duniaku memang dunia tanpa koma. tapi sejak 30 hari yang lalu, aku mengambil jeda. jeda panjang, bukan sekedar koma atau titik. hasilnya……aku ditampar rasa rindu yang bertubi-tubi. rindu akan helaan waktu yang cepat dan tanpa ritme……
Posted by senja on 17 Jan 2008 | Tagged as: etc
“Bubarkan saja sepakbola di Indonesia. Di Kediri panpel tidak siap, keamanan tidak tegas, pemain aleman, official maunya menang sendiri. Qua vadis sepakbola Indonesia?”+62811xxxxx
“Malam non Senja, pengin dapat berita menarik tentang wasit ga? Hubungi sumber berita, mantan komisi wasit PSSI, xxxxxx, no hp xxxxxx”. +62856xxxxxx
Itulah bunyi SMS yang masuk ke HP saya sesaat setelah siaran langsung ANTV pertandingan 8 besar antara Arema dan Persiwa di Stadion Brawijaya Kediri usai. Saya hanya manggut-manggut membacanya. Terlepas ada konspirasi apa yang sedang terjadi dalam pertandingan “penting” tersebut namun hal ini menjadi potret nyata bangsa Indonesia yang tidak pernah belajar dari kesalahan.
Saya ingat betul, bahwa kompetisi Liga Indonesia babak 8 besar musim lalu juga diwarnai oleh kejadian yang hampir serupa yaitu perusakan stadion yang berbuntut penundaan pertandingan. Saat itu, Stadion Muh. Sarengat Batang menjadi stadion pendamping grup A yang berlaga di Solo. Batang menjadi tuan rumah pertandingan PSIS melawan Persiba berbarengan dengan Stadion Manahan yang menjadi Persik dan Arema. Pertandingan dilakukan berbarengan di tempat terpisah agar terhindar dari aksi permainan “pengaturan skor”. Penonton pertandingan PSIS kontra Persiba luar biasa banyaknya sehingga stadion tak kuat menampung massa yang luber hingga berada di tepi lapangan. Kendati pihak keamanan dan panpel menjamin keamanan tim dan pemain selama pertandingan hingga usai, namun Persiba menolak melakoni pertandingan. Molor beberapa menit membuat panpel Solo dan Arema juga ogah melakoni laga karena pemain sudah “dingin” akibat terlampau lama menunggu kick off. Batalnya pertandingan Batang membuat ribuan penonton ngamuk. Mereka merangsek masuk stadion dan merusak semua perangkat stadion. Kaca-kaca loket dipecah dengan batu dan barang-barang yang ada di sekitar stadion. Gawang dan papan reklame dibakar massa. Penonton di lapangan melakukan pelemparan ke tribun, sebaliknya di tribun pun tak kalah ramai. Kursi dan apapun yang ada dirusak. Pemain diamankan ke ruang ganti. Panpel dan BLI di buru massa. Siapapun yang memakai seragam panpel di kejar untuk dimintai pertanggungjawaban tiket yang sudah terlanjur dibayar. Penonton kecewa karena pertandingan urung digelar. Setelah chaos usai, kami (pemain dan pewarta) sukses dievakuasi ke hotel dengan melewati “pagar hidup” yang dibuat ratusan suporter PSIS. Akhirnya pertandingan yang tertunda bisa dilanjutkan keesokan harinya dengan pengamanan ekstra ketat.
Sebelum mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah babak 8 besar, Stadion Muh. Sarengat tidak pernah menggelar pertandingan skala besar yang serupa. Paling banter, stadion ini menampung penonton untuk menyaksikan partai Persibat Batang yang berlaga di kompetisi divisi I.
Jika panpel dan BLI kala itu jeli dan “berpikir sehat”. Tidak seharusnya stadion kebanggaan Batang ini menjadi tuan rumah. Pertama, kapasitas stadion tidak memenuhi syarat. Stadion ini hanya dilengkapi 1 sisi tribun yang mungkin hanya menampung 1 -2 ribu penonton. Sisanya hanyalah tempat berdiri penonton yang dibatasi dengan pagar melingkar memutari stadion. Kendati kualitas rumput dan lapangan sangat memadai karena stadion ini tergolong baru namun tetap saja tak layak. BLI seharusnya memikirkan juga “magnet” pertandingan ini akan sangat besar. Pasalnya, PSIS adalah satu-satunya tim Jateng yang lolos 8 besar. Stadion pasti tidak akan kuat menampung ribuan penonton Semarang dan sekitar Batang-Pekalongan.
Kedua, stadion tidak dilengkapi sentelban. Sentelban adalah tempat steril antara lapangan dan tribun penonton. Kendati sepele, namun fasilitas ini cukup penting. Bagi stadion yang dibangun dengan konsep integratif, sentelban kerap diubah atau digunakan sebagai lintasan lari seperti yang terlihat di Stadion Manahan dan Kanjuruhan Malang atau dalam skala sederhana diterapkan pula di Stadion Jatidiri Semarang. Adanya sentelban memiliki beberapa keuntungan sekaligus. Satu, pemain akan leluasa melakukan lemparan ke dalam, tendangan pojok dan aksi pengamanan bola lainnya. Dua, sentelban menjadi daerah ring terdalam pasukan pengamanan agar jika tejadi sesuatu yang tidak diinginkan lapangan masih bisa dijaga. Misalnya, jika terjadi amukan penonton yang memaksa masuk ke arena pertandingan. Ketiga, lebarnya sentelban membuat calon oknum yang tak bertanggungjawab tidak bisa leluasa melemparkan benda ke lapangan karena terbatasnya jangkauan. Ketiga, stadion tidak dilengkapi lampu stadion yang memadai. Kendati pertandingan memang dilakukan pada sore hari yang notabene tidak memerlukan lampu namun alat penerangan yang maksimal perlu diperhatikan sebagai langkah antisipasi. Dengan kondisi stadion yang jauh dari standar ini, maka konsekuensinya adalah aparat keamanan harus siaga 3 kali lipat demi mengamankan pertandingan besar yang menyedot perhatian penggila bola.
Walaupun dipicu oleh hal yang berbeda, namun kondisi stadion Brawijaya Kediri turut memperkeruh suasana pertandingan Arema kontra Persiwa. Berawal dianulirnya 3 gol Arema oleh wasit Jajat Sudrajat penonton pun ngamuk. Aksi pertama adalah pemukulan hakim garis Yuli Suratno oleh penonton yang nyelonong masuk lapangan, kemudian di lanjutkan dengan aksi lempar batu sembunyi tangan penonton ke arena pertandingan. Kerusuhan terjadi lagi kala asisten wasit dipukul penonton yang turun ke lapangan. Situasi tambah kacau karena penonton lain berebut masuk. Pertandingan pun dihentikan pada menit ke-71.
Stadion Brawijaya diakui memang lebih baik daripada stadion Batang. Namun kondisinya masih di bawah standar. Jika, pelajaran laga PSIS versus Persiba bisa dijadikan pelajaran mungkin kerusuhan hingga menyebabkan pertandingan dihentikan dapat dihindari. Dalam kondisi seperti ini, penghentian pertandingan bakal mempengaruhi gelaran seluruhnya. Istirahat sehari dan kemudian melajutkan laga lagi, untuk pemain sangat merugikan karena berhubungan dengan massa recovery dan kebugaran. Padahal hasil satu pertandingan sedikit banyak bakal menjadi pertimbangan ataupun kalkulasi kekuatan untuk tim lawan baik dalam satu grup atau grup lain.
Di luar itu semua, peristiwa ini juga makin meneguhkan anggapan bahwa sepakbola Indonesia tidak akan maju atau jalan di tempat. Industri ini bakal mengalami kemunduran dan kesuraman. Hal ini akan terus berlangsung karena sepakbola justru dirusak oleh orang-orang “dalam” itu sendiri. Dirusak oleh pihak-pihak yang seharusnya punya tanggungjawab lebih untuk memajukan olahraga rakyat ini.
Posted by senja on 14 Jan 2008 | Tagged as: etc
Akhirnya saya kembali dari “liburan”selama beberapa hari belakangan ini. Segar dan mencerahkan setelah sekian lama sengaja tidak berhadapan dengan internet, YM, dan blog. Sedikit melegakan setelah sekian lama sengaja tak lagi bergumul dengan deadline dan block note. Kini saya sudah siap dengan “proyek baru” yang harus selesai tahun ini. Proyek idaman yang sudah sengaja dikorbankan beberapa tahun belakangan. Semoga segalanya berjalan sesuai target. Amien…
Ada beberapa yang bertanya kemana saja saya selama ini..hihihii. Bener, ini bukan dalam rangka hiatus lho, tapi memang sengaja jalan-jalan untuk menunaikan janji yang sudah terlanjur disebar, baik kepada teman dan orangtua. Hasilnya? Saya bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak—juga belum– bersua dan hanya berhubungan via teknologi. Banyak obrolan yang mengalir deras. Perbincangan yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan apapun. Bapak, ibu dan adik di kampung yang sebelumnya hanya saya sambangi lewat telpon dan sms-pun kemarin jadi barang nyata. Perjalanan sore yang biasanya hanya dilewati diantara deru kebisingan kota, seminggu lalu saya lewatkan dengan bertemu dengan kawan-kawan lama. Melihat hijaunya sawah yang membutuhkan banyak hujan, atau permukiman kecil yang sungguh membuat saya jadi lebih banyak bersyukur.
Di tengah asyiknya liburan, toh saya masih saja teringat teman-teman di sini. Mungkin tak penting oleh-oleh apa yang saya bawa sepulang liburan. Karena toh saya bukan siapa-siapa. Namun, kamera saku saya sepertinya tak berhenti mengaum menjalankan tugas merekam beberapa kejadian yang sudah saya lewati. Anda, tentu saja bisa melihat belasan foto selama “on vacation” saya. Foto-foto sederhana yang sudah saya kumpulkan mulai dari Jogja, kampung halaman, dan Kediri. Selamat menikmati…..
Posted by senja on 01 Dec 2007 | Tagged as: etc
Semalam, menjelang dini hari tepatnya, saya bertemu teman lama satu profesi di stasiun Tawang. Ia kuli tinta asal Jakarta yang sudah seminggu lebih berada di Kudus karena sang bunda meninggal dunia. Kami bertemu karena tiket kereta api Semarang-Jakarta-nya saya pegang….
Wajahnya kuyu, menahan lelah sekaligus kantuk…
Senja (S): Capek sekali ya????
Teman Senja (TS): Iya. Beberapa hari belakangan ini nggak tidur. Selasa minggu lalu dikabari ibu sudah nggak sadar. Sempet masuk rumah sakit selama 2 hari. Trus akhirnya dibawa pulang ke rumah lagi karena nggak ada perkembangan. Sampe rumah beberapa hari lalu meninggal. sebelumnya, aku sempet muter-muter ke semua apotek di Kudus, nyari obat….
S: Owww….(nggak ngerti mo ngomong apa)
TS: Obat-obatnya masih banyak yang utuh. Termasuk infus-infus belum kepakai, eh ibu udah meninggal duluan.
S: (diem)
TS: Senja orang tuanya masih lengkap?
S: Alhamdulillah masih
TS: Enak ya..
S: (bingung) Ya udah jangan sedih. Semua orang tua kan juga meninggal, waktunya aja yang nggak sama.
Obrolan berseling ke hal yang berhubungan dengan pekerjaan, sepakbola, Sea Games, menpora dan lain-lain.
TS: Sebenernya aku pengen banget punya kerjaan yang deket ma keluarga. Bisa deket ma ibu. Tapi belum deket ibu udah keburu meninggal.
S: Ya berarti sekarang enggak perlu deket lagi kan??
TS: Tetep masih pengen cari yang deket. Apalagi bapak masih ada. Tadi nyampai stasiun aku telpon rumah. Katanya rumah sepi. Yang pengajian dah pada pulang.
S: Tapi bapak (bapaknya dia, red.) kuat kan ditinggal ibu (ibunya dia, red.) ?
TS: Sedih nja. Tetep aja sedih. Semalam aku nangis, aku tau bapakku tau aku nangis, tapi dia nggak mau deketin aku. Aku tau karena dia juga sedih
Obrolan kembali melenceng ke hal lain. Tentang biaya hidup di Jakarta, sebagian duit yang ilang di ATM, mahalnya pesawat Jakarta-Semarang, Kudus yang nggak punya lapangan golf dan lain-lain.
S: Mungkin, makanya orang itu musti punya banyak anaknya biar nggak kesepian, kalau salah satu dari mereka meninggal?
TS: Iya bener. Aku 3 besaudara, masih ada 2 adek di rumah, tapi tetap aja kerasa sepi
S: oooo (padahal aku cuma 2 bersaudara)
TS: Lebaran besok dah nggak ada ibu lagi di rumah. Pantesan, waktu lebaran dulu, pas mo pulang aku diciumin, dipelukin ma ibu…sekarang, setelah ada peristiwa ini jadi inget lagi
S: (diem)
Dini hari tadi. Setelah ia naik kereta, saya pulang sendiri. Menyusuri kota lama, jalan Gajahmada, Simpang 5, Ngesrep, Tembalang. Dingin. Dan sebagian sedihnya masih terasa…
Posted by senja on 15 Nov 2007 | Tagged as: etc
Baru-baru ini ada sebuah film dokumenter sepakbola yang mampu menembus di beberapa gedung bioskop dan juga ditonton khalayak berbagai kota dan negara. Film tersebut berjudul The Jak. Seperti judulnya, film arahan Andi Bachtiar Yusuf ini menceritakan kelompok suporter The Jak atau yang juga kerap disebut Jakmania alias pendukung setia tim Persija si Macan Kemayoran.
Film ini juga sempat hampir tak bisa ditonton di Bandung yang notabene adalah home base Viking, kelompok suporter Persib Bandung. Viking dan Jakmania adalah suporter yang nyaris selalu bentrok kala Persija dan Persib bertemu di dalam kompetisi reguler.
Saya tak ingin menceritakan bagaimana film The Jak. Selain vcdnya sudah beredar dimana-mana, film ini juga sedang menjalani roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Di Semarang sendiri The Jak sudah diputar untuk umum Selasa (13/11) kemarin di gedung perpustakaan Undip lantai 2, kampus Peleburan. 21 November mendatang, film produksi Bogalakon Pictures tersebut juga bakal mengikuti festival film di Paris, Perancis.
Ada sebuah pemandangan miris yang diceritakan dalam film itu yang merupakan fenomena lazim di kalangan suporter. Apalagi kalau bukan image suporter yang selalu rusuh, suka bentrok, kalau timnya kalah ngamuk dan lain-lain. Kita tentu belum lupa tragedi perusakan stadion Tambaksari Surabaya akibat amukan suporter Persebaya, Bonek beberapa waktu lalu. Dengan skala yang lebih kecil, hal serupa sempat terjadi kala panpel menunda pertandingan Persiba versus PSIS di Stadion Batang Jateng pada babak 8 besar Liga Indonesia 2006 lalu. Penonton mengamuk dan merusak seluruh fasilitas di stadion. Hal yang sama sering terjadi di setiap musim dan akhirnya menjadi tontonan biasa. Bahkan ada yang bilang bukan sepakbola Indonesia jika tidak ada berantemnya. Hihihihihihi….mungkin benar, namun toh dunia sepakbola Italia juga mengalami nasib yang sama. Artinya apa? Ini bukan problem kawasan tertentu, namun sudah menjadi kegelisahan umum.
Sesaat setelah kerusuhan di Surabaya oleh kelompok yang ditengarai Bonek kala itu, Metro TV mengangkat tema ini dalam todays dialog. Kalau tidak salah ingat, narasumbernya ada yang dari sosiolog. Apa kata pakar itu??? ia mengatakan bahwa kerusuhan suporter sepakbola seperti ini sebenarnya tidak bisa dilihat melulu melalui kacamata sepakbola (saja) namun juga harus dihubungkan dengan keadaan sosial dimana suporter itu tumbuh. Sepakbola yang kerap dicap sebagai olahraga rakyat, murah meriah, memang (mayoritas) diminati oleh masyarakat marginal atau kalangan bawah. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menikmati hiburan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya karena keterbatasan akses. Perkembangan kota sudah sangat jauh meninggalkan mereka. Mereka pun akhirnya mencari dunia mereka sendiri. Dan itu mereka temukan di sepakbola. Kala orang-orang kaya bisa menikmati segala fasilitas modern dan kemudian gaya hidup itu menjadi identitas mereka di kehidupan sosial, maka kaum marginal ini juga mendapatkan identitas dan merasa eksis di sepakbola dengan menjadi suporter. Tidak berlebihan memang pendapat ini. Tengok saja Surabaya atau Jakarta, sebagian besar ruangnya dikuasai oleh kaum berduit. Sedangkan bagi yang tidak punya akses, cukup hanya melongo saja. Orang-orang seperti inilah yang baru merasa punya eksistensi jika timnya bertanding. Mereka berbondong-bondong datang, menggunakan atribut kebesaran. Serasa mengusai area stadion. Saat eksistensi ini kemudian diganggu oleh orang lain. Maka terjadilah gesekan alias bentrokan untuk mempertahankan eksistensi ini. Begitu besar harapan orang terhadap tim-tim besar seperti Persija dan Persebaya—misalnya– terkadang juga berimbas pada tim itu sendiri. Saya sering mendengar, betapa pemain-pemain yang menjadi skuad tim ngetop ini sebenarnya memikul beban yang cukup besar karena menjadi sosok idola para suporternya yang punya harapan tinggi kepada tim ini untuk bisa selalu menang.
Nah, benang merah inilah yang coba dikupas oleh film The Jak. Dalam beberapa testimoni di film dokumenter berdurasi 79 menit ini, dikatakan bahwa Persija adalah sosok idola mereka. Menjadi tumpuan harapan bagi kaum marginal ini untuk bisa nonton setiap Bambang Pamungkas dkk main di Lebak Bulus. Mereka merasa tidak punya kebanggaan lain selain Persija. Dengan kaos oranye khas seragam Persija inilah mereka kemudian merasa eksis sebagai warga Jakarta. Hanya di hari saat Persija main, setelah itu mereka kembali pada garis dimana tidak punya akses apapun terhadap gedung-gedung pencakar langit, dunia hiburan dan fasilitas mewah lainnya.
Semakin tampaklah, bahwa fenomena kekerasan suporter sepakbola bukanlah semata-mata problem tentang timnya menang atau kalah, namun sudah menjadi masalah sosial, yang juga terjadi di kota-kota besar Indonesia lainnya…..