media

Archived Posts from this Category

Males

Posted by senja on 10 Jun 2007 | Tagged as: media

Lagi males ngeblog (baca: tidak punya analisa tentang sesuatu, butek, terlalu banyak peristiwa yang aneh, out of theory..baru ngerasa ;p)

Lagi rajin potret sana potret sini. Ampe bela-belain beli majalah tentang photo….
Hasilnya? ini niiiiiii

Tanpa Teks

Posted by senja on 20 May 2007 | Tagged as: media

(postingan tanpa teks, tanpa interprestasi, nikmati saja poto-poto iseng hasil potretan saya, saran dan kritik diterima dengan senang hati :p)

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Lawang Sewu

Posted by senja on 09 May 2007 | Tagged as: media

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Dua tahun berdomisili di Semarang belum sekalipun saya menginjakkan kaki ke situs sejarah Lawang Sewu, hingga kemarin bersamaan dengan even off print kantor akhirnya saya berkesempatan untuk menengoknya. Dari sekian banyak acara yang tersebar dari lantai 1-2, ada satu tempat yang dijubeli penonton yakni “Wisata Bawah Tanah”. Saya tertarik mencobanya. Sampe sana, saya lantas ditawari untuk segera memakai sepatu boot (hah, apa pula ini!). Sang guide bertanya, apakah saya mau menunggu antrian yang panjang atau sendirian. Saya jawab sendirian aja (plus dengan guide tentunya karena saya nggak ngerti jalannya) apalagi waktunya mepet. Lagian bukannya enak kalo tanpa rombongan biar jalan-jalannya puas.

Oke turing kecil-kecilan dimulai !! Continue Reading »

Ada Apa Dengan IPDN?

Posted by senja on 10 Apr 2007 | Tagged as: my opinion, media

Ada banyak pertanyaan dibalik kematian praja IPDN Clift Muntu. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah mengapa sekolah yang bertugas mencetak aparatur negara tersebut menerapkan sistem pendidikan preman seperti itu. Apalagi, berbagai pukulan ngawur yang disinyalir merupakan bagian dari santapan sehari-hari seluruh praja tersebut sangat tidak mendidik, karena dalam olahraga keras full body contact-pun menendang bagian dada tidak diperbolehkan. Alih-alih bakal merubuhkan lawan, si pemukul malah bakal dikurangi nilainya.

Kemarin saya berkesempatan bertemu dengan alumni IPDN angkatan sekian bernama mister X. Dalam obrolan ringan ini sedikit terkuak mengapa kekerasan menjadi barang lazim dalam institut yang berkampus di Jatinagor tersebut. Situasi awal pendirian IPDN (nama sekolah ini berganti-ganti, kami sepakat menyebutnya IPDN, red.) sebenarnya tidak berjalan seseram sekarang ini. Pukulan dan beberapa latihan fisik memang ada karena hal itu dianggap sebagai salah satu sarana untuk menegakkan kedisiplinan praja. Saat itu muridnya hanya berkisar—sebut saja– 500 praja. Dengan fasilitas yang mencukupi untuk menampung jumlah tersebut kehidupan para mahasiswa berjalan kondusif.

Nah, saat era 90-an, semua pucuk pimpinan pemerintahan di daerah maupun pusat banyak dipegang militer, khususnya AD, misal walikota, bupati, dan gubernur. Hal jamak ini lantas memicu pemikiran—blunder menurut saya– mendagri untuk meningkatkan kompetensi warga sipil yang menjadi praja IPDN agar kelak bisa bersaing dengan unsur militer yang merajai berbagai kedudukan di pemerintahan. Pemikiran ini lantas diterjemahkan dalam sebuah praktik semi militer dalam pendidikan praja di IPDN. Akhirnya IPDN pun tak ubahnya sekolah militer, bahkan hingga kini mereka kerap melakukan latihan bersama dengan TNI AD/dan semacamnya. Sistem ini dipandang akan melahirkan seorang praja yang loyal kepada negara. Kesalahan ini diperparah lagi kala, pengasuh sebagai lini terbawah yang langsung berhubungan dengan praja tidak dipegang oleh orang yang mumpuni dalam bidang pendidikan. Kata sumber saya tadi, terkadang orang yang biasnya bertugas di bidang administrasi atau perlengkapan pun bisa menjadi pengasuh. Continue Reading »

Nagabonar Jadi 2

Posted by senja on 02 Apr 2007 | Tagged as: media

Ini adalah film tentang cinta, nasionalisme, hubungan ayah-anak, dan religiusitas. Komedia satir yang mengharukan. Ada banyak bagian di film ini yang bakal membuat anda meneteskan air mata dan beberapa diantaranya terbahak-bahak. Adegan saat Nagabonar melakukan monodialog di depan patung Jenderal Sudirman di salah satu ruas Jakarta membuat—entah mengapa—air mata saya meleleh. Saat itu dengan lantang Nagabonar bertanya mengapa jenderal besar ini tetap saja melakukan gerakan hormat sedangkan ribuan mobil yang melewati ruas jalan tersebut acuh.

Atau tengok saja adegan kala Nagabonar berdialog dengan Bonaga. Nagabonar berkata bahwa pantas saja Bonaga tak bisa menjelma menjadi laki-laki lembut dan romantis, pasalnya sejak kecil Bonaga tak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Tapi justru dididik oleh seorang Nagabonar yang keras dan mantan copet. Sebuah pengakuan lugu bapak kepada anaknya. Dan Bonaga pun hanya bisa termangu kelu…

Banyak cetusan-cetusan menggelitik yang bisa dipakai sebagai bahan perenungan. Apik tak menggurui, tapi merefleksikan kondisi jaman dan bangsa.

Jadi bagi yang sudah lama menantikan film berkualitas dan bosan melihat film horor—yang sangat tidak horor– tak ada salahnya anda menyisihkan waktu membeli tiket Nagabonar Jadi 2. Selamat menikmati……

Back to Leptop

Posted by senja on 27 Mar 2007 | Tagged as: media

Image Hosted by ImageShack.us

Gaji DPR+tunjangan ini itu+korupsi sana sini+pungli kanan kiri - beli leptop = masih sisa banyak bangett :p

Gitu aja kok minta
Dasar nggak punya malu
Nggak punya kepekaan sosial
Muka tembok
Huek.....

« Previous PageNext Page »