my opinion
Archived Posts from this Category
Archived Posts from this Category
Posted by senja on 03 May 2008 | Tagged as: my opinion, media
Acara Di Ambang Batas (DAB) Metro TV adalah salah satu acara favorit saya. Program ini mengulas masalah narkoba di Indonesia, baik dari segi pecandu, peredaran dan penanganannya. DAB edisi 1 Mei 2008 kemarin membicarakan korelasi antara pecandu narkoba dan kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian dihubungkan dengan UU KDRT. Dalam narasinya, dikatakan bahwa peningkatan jumlah pecandu narkoba sejak 2005 sampai 2007 ternyata berbanding lurus dengan jumlah kasus KDRT di rentang tahun yang sama. Kendati tidak ada penelitian khusus tentang hubungan dua data signifikan tersebut, namun tim DAB meyakini bahwa dalam beberapa kasus KDRT, suami yang kecanduan seringkali bertindak di luar batas terhadap istri dan anak. Tindakan itu bisa berupa kekerasan fisik maupun psikologis.
Tim DAB juga meminta komentar dari pakar dan dokter. Keduanya mengamini bahwa pecandu narkoba termasuk peminum minuman keras cenderung lepas kontrol dan berpeluang besar untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Perempuan lantas menjadi pihak yang dirugikan. Mereka juga sepakat, bahwa kekerasan yang dimaksud di sini bukan hanya kekerasan yang bersifat fisik, namun juga psikis. Kekerasan psikis ini justru memiliki dampak yang lebih parah daripada fisik sehingga waktu penyembuhannya juga cukup lama. Selain wawancara dengan pakar, DAB juga meminta komentar dari pengurus LBH yang concern terhadap masalah wanita. Pihak LBH pun memberikan pengakuan yang tidak beda jauh dengan dua narasumber terdahulu.
Seperti juga tayangan-tayangan DAB edisi sebelumnya, edisi kali ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang diperankan oleh model. Ilustrasinya menggambarkan bagaimana suami yang kecanduan narkoba menjadi kasar serta sensitif sehingga gampang marah. Tak jarang si suami ini menampar bahkan memukul si istri. Si anak juga menjadi korban perilaku sang ayah. Ujung-ujungnya, si istri pun memilih untuk meninggalkan si suami karena sudah tak tahan dengan tabiatnya. Juga dilengkapi dengan testimoni seorang pria mantan pecandu yang mempunyai cerita hidup tak beda jauh dengan ilustrasi tersebut.
Sekilas tidak ada yang salah dengan tayangan DAB edisi ini. Tapi bagi saya, ada ganjalan yang cukup membuat saya terusik. Semua fakta yang dimunculkan dalam tayangan ini semata-mata digunakan untuk merujuk pada pelaku pecandu dan kekerasan rumah tangga adalah seorang pria dan korban nya adalah seorang wanita.
Untuk merujuk pada fakta ini, DAB melakukan pekerjaan yang cukup sistematis:
Narasumber berkomentar dengan satu definisi bahwa pelaku KDRT adalah laki-laki dan korban adalah perempuan. Pencandu adalah laki-laki, dan perempuan ada di sisi sebaliknya.
Data statistik yang diungkapkan mengacu bahwa pada kasus-kasus KDRT, perempuanlah yang menjadi korban.
Ilustrasi menunjukkan bahwa suami-lah yang berada di posisi salah, dan istri menjadi tokoh protagonis alias benar dan pantas dibela.
Padahal, (terlepas saya setuju atau tidak dengan UU KDRT),
Dalam UU tidak dijelaskan secara gamblang apakah pelaku KDRT didefinisikan sebagai laki-laki dan korban adalah perempuan. Bisa di cek dalam pasal 1 (1) UU KDRT tentang definisi kekerasan dalam rumah tangga tidak disebutkan apakah pelaku adalah laki-laki dan wanita adalah korban, kendati memang disebutkan kebanyakan korban adalah wanita.
Definisi korban dalam undang-undang tersebut adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga (pasal 1 ayat 3). Tidak ada definisi yang merujuk pada laki-laki dan perempuan.
Pasal 5 UU tersebut menyebutkan bahwa pelarangan kekerasan dalam rumah tangga meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga. Pasal ini memperjelas bahwa tidak hanya kekerasan fisik yang menjadi elemen kekerasan. Sehingga lebih jauh lagi, perempuan pun punya peluang terbuka untuk melakukan kekerasan, misalnya kekerasan psikis.
DAB juga tidak berusaha mencari data berapa jumlah pencadu wanita yang kemudian bisa dikorelasikan dengan peluang terjadinya penelantaran rumah tangga.
Jadi, jika UU KDRT menjadi landasan berpikir untuk mengungkap korelasi tingginya jumlah pencandu narkoba dengan wanita sebagai korban kekerasan rumah tangga, menurut saya DAB kurang arif. Ada fakta-fakta lain yang ditinggalkan dan bahkan saling bertentangan. Usaha “membela” wanita yang membabi-buta itu, bagi saya justru menjadi proses pembodohan yang cukup signifikan.
Posted by senja on 30 Apr 2008 | Tagged as: my opinion, media
Minggu lalu, Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Semarang bekerjasama dengan kampus saya mengadakan seminar tentang “TV Lokal, Kritik dan Prospeknya di Masa Depan”. Ada beberapa pembicara dalam seminar ini. Ada direktur TV lokal Semarang, Perwakilan AJI Semarang, KPID Semarang dan dosen jurusan Ilmu Politik yang fasih ngomongin tentang perkembangan TV lokal di negara-negara lain (:p).
Dari beberapa omongan di seminar ini, ada beberapa hal yang seharusnya bisa dipecahkan, khususnya tentang kehidupan TV lokal yang “hidup enggan mati tak mau”. Mereka ini dipaksa untuk “berhadapan” dengan media nasional yang sudah sangat besar dan ditambah konglomerasi media yang membuat TV Indonesia sebenarnya hanya dikuasai oleh beberapa pemilik modal saja. Misalnya MNC yang memegang Global TV, RCTI dan TPI dan banyak lagi.
Kedua, adanya fakta atau mungkin fenomena bahwa jika selama ini media cetak lokal berburu pembaca daerah dengan mencetak edisi khusus daerah, misal Kompas Jateng DIY, Jawa Pos Radar Semarang dengan alasan proximity (kedekatan), maka sebaliknya TV-TV lokal. Proximity tidak lagi menjadi senjata ampuh untuk menggaet pemirsa dan pengiklan karena ternyata penonton lebih ingin tahu apa yang terjadi di luar kehidupan sehari-sehari kita. Misalnya, lebih memilih nonton American Idol ketimbang campur sari atau wayang.
Ketiga, pengelola TV lokal mengaku bahwa budget produksi mereka memang tidak besar. Bahkan untuk lighting saja, mereka harus ngirit sehingga maklum jika tampilan di layar TV tidak sebagus acara-acara TV nasional. Lebih ironis lagi, hal ini mempengaruhi keindahan gambar, karena tidak bisa secerah acara-acara yang ada di RCTI atau SCTV.
Selain kualitas konten yang belum bisa disejajarkan dengan beberapa TV nasional, kualitas tampilan inilah yang membuat TV lokal ngos-ngosan mengejar eksistensi di jagat media elektronik. Seperti yang kita tahu, salah satu kelebihan media elektronik adalah keindahan visual yang bisa dinikmati oleh penontonnya.
Bisa jadi ini benar..
Semalam, sambil menunggu serial kesayangan “Smallville” tayang, saya memencet channel TV secara acak. Saya berhenti di sebuah acara kontes nyanyi dangdut di TPI. KDI ya??? yap. Kenapa saya tertarik? Ada salah satu penyanyi yang saat itu berbicara dengan sangat medok khas Jawa Timur. Dia mengaku berasal dari Nganjuk Jatim. Sebuah kabupaten kecil yang tidak lain adalah kampung halaman saya. wakakaka. Dengan lugu (entah lugu alami atau dibuat-buat), si penyanyi ini mengatakan bahwa tidak pandai berbahasa Indonesia karena sangat terbiasa berbahasa Jawa. Alhasil selama acara dia berselang-seling dengan menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Sempat menyanyikan beberapa lagu campur sari yang menjadi lagu wajib para pengamen di terminal Solo. Tapi adegan ini, jujur membuat saya, seakan-akan terkoneksi dengan rumah. Seperti dibawa kembali ke dalam masa kecil di kampung. Seperti sedang bermain-main di halaman rumah, ato ngopi di teras belakang. Secara visual, mata saya juga dimanjakan dengan desain panggung yang bagus tidak berlebihan dan gambar yang cemerlang.
Sebenarnya fungsi “mendekatkan” inilah yang dulunya digembar-gemborkan sebagai kelebihan yang bakal dimiliki oleh TV lokal. Tapi jika ternyata fungsi ini sudah bisa diambil alih oleh TV nasional, lantas dimana tempat TV lokal berada????
Posted by senja on 14 Apr 2008 | Tagged as: my opinion, media
Sebuah produk tentunya tidak hanya mementingkan keindahan bungkus semata untuk menarik perhatian pembeli. Tampilan memang penting tapi kualitas isi juga tak boleh di lupakan.
Ehmmm…di saat media sedang berlomba-lomba untuk menampilkan “wajah” yang makin menarik, entah itu berupa ukuran halaman yang kini hanya 7-8 kolom, layout enak dilihat dan foto yang indah, kadang isi berita jadi prioritas nomor sekian. Apalagi jika media menjadi entitas bisnis dan bukan lembaga sosial yang jauh dari kepentingan uang semata. Hal ini, kemudian juga mempengaruhi perangai sebagian pekerja media yang lebih mementingkan berita yang laku dijual daripada berita yang mendidik dan bisa menjadi sarana kontrol sosial. Dilema semacam ini memang kerap terjadi, karena sebagai perusahaan yang profit oriented laba tetap harus dihitung…padahal bisnis media tidak semata-mata profit dan profit saja..
Kritik membangun tentang kinerja media dalam negeri, terutama terkait dengan ketajaman dalam membedah masalah disampaikan dengan amat lugas oleh Menkes RI Siti Fadilah Supari. Dalam buku “Saatnya Dunia Berubah” beberapa kali ia mengkritik media yang ternyata lebih suka melihat fenomena flu burung dari sisi hebohnya sehingga mudah termakan isu miring yang jauh dari esensi kasus itu sendiri. Continue Reading »
Posted by senja on 10 Apr 2008 | Tagged as: my opinion
Dulu……sindrom sumbu pendek, alias mudah marah, mudah bereaksi tanpa alasan jelas selalu identik dengan masyarakat di pedesaan yang kondisi ekonominya carut marut. Kini, identitas itu tidak hanya milik rakyat bawah yang resah dengan kehidupannya, namun juga para manusia yang konon memiliki kompetensi sehingga bisa duduk di lembaga nan terhormat, Dewan Perwakilan Rakyat…
Sehari sebelum, Al Amin Nasution tertangkap tangan oleh KPK di hotel Ritz Carlton dini hari kemarin, BK DPR berniat mengggugat Slank karena lagunya berjudul “Gosip Jalanan” yang dinilai menceritakan bagaimana kinerja DPR yang sebenarnya melecehkan mereka. Tentu bukan karena campur tangan Slank juga mengapa akhirnya sehari setelah statemen oleh Gayus Lumbuan itu dimuat media, justru KPK berhasil menangkap transaksi suap menyuap yang dilakukan anggota DPR dari PPP tersebut. Alasan Gayus simpel, karena lirik itu membuat anggota DPR gerah, karena mereka merasa reputasi dan kinerjanya tidak buruk-buruk amat.
Anggota DPR memang lebih suka mengurusi lagu-lagu seperti itu ketimbang memperjuangkan rakyat Porong yang sekian bulan terendam banjir lumpur buatan Bakrie. Mereka juga lebih senang mengacuhkan masalah pendidikan yang konon kian tak terjangkau oleh rakyat kecil.
Setelah berkoar-koar akan memolisikan Slank, DPR kini justru seperti tertampar perkataan sendiri. Kendati kasus Al Amin belum diputus akan berlanjut seperti apa, namun jelas-jelas anggota mereka sedang berada di bawah pemeriksaan lembaga superbodi itu dengan kasus yang amat memalukan…
Jadi saya usul kepada para bapak yang terhormat….. Sebelum melancarkan protes dan reaksi yang berlebihan ada baiknya baca dulu dengan baik-baik judul dan lirik lagu ataupun title sebuah acara. Kalau masih berjudul “gosip”–Gosip Jalanan–, maka tak perlu dikritik, namanya juga gosip. Kalau judul acaranya masih berjudul “mimpi”–Republik Mimpi–, tak perlu gusar, namanya juga mimpi, tidak ada satupun otoritas yang mampu melarang mimpi rakyat bukan????. Juga jangan sampai mengomentari kegilaan–democrazy– karena jelas-jelas tingkah laku anda sekalian yang membuat rakyat makin gila…..
Posted by senja on 01 Mar 2008 | Tagged as: my opinion
Beberapa hari ini para ibu diresahkan dengan hasil penelitian IPB tentang fakta bahwa 22,73 persen susu formula dan 40 persen makanan bayi telah terkontaminasi Enterobacter Sakazakii. Temuan ini lumayan mengganggu karena pada umumnya anak-anak setelah usia tidak minum asi (usia berapa ya??, ntar tanya ma sodara yang dah punya anak) mereka mengkonsumsi susu formula..
Nah tapi yang lebih mengganggu karena hingga kini tidak daftar pasti susu dan makanan bayi mana saja yang terkena bakteri. Hasilnya, hasil penelitian itu terbukti ampuh membuat masyarakat bingung. Alih-alih bisa menyelesaikan masalah seperti tujuan peneltian pada umumnya, ini justru membuat masalah baru yang memenuhi daftar masalah orang Indonesia akhir-akhir ini…..
Ada apa dibalik penelitian IPB ini ? sang menteri kesehatan yang terhormat ibu Siti Fadilah Supari menunding ada hidden agenda dibalik penelitian yang meresahkan ini. Rektor IPB menolak jika penelitian ini dibilang ecek-ecek karena dilakukan oleh peneliti yang kredibel dan didanai oleh APBN. Di satu sisi IPB juga kebakaran jenggot karena disinyalir tidak berhak melakukan penelitian yang justru meresahkan itu, mereka menuntut menkes untuk meminta maap…
Sebenarnya ada yang perlu banyak dijelaskan pada kasus ini dan saya belum menemukan jawabannya di media yang beberapa hari ini saya pelototin..
1. Kenapa peneltian itu kesannya hanya di publish setengah-setengah?? tanpa menyertakan daftar susu dan makanan bayi yang terkontaminasi. Jika seperti yang dikatakan IPB bahwa hasil riset ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat mengapa hasilnya justru sebaliknya???
2. Jika benar ada agenda terselubung, agenda siapa? oleh siapa? untuk apa?
Ayolah..rakyat Indonesia ini sudah sangat pusing dengan isu-isu tidak jelas. Belum lagi problem hidup yang makin menumpuk, makin menghimpit……jadi jangan perkeruh suasana dengan melemparkan bola panas tak jelas.
Media, sebenarnya bisa saja membantu masyarakat untuk bisa keluar dari masalah ini, namun mengharapakan media dengan ekspektasi begitu tinggi juga sama seperti mempersiapkan hati untuk kecewa ……
Posted by senja on 12 Feb 2008 | Tagged as: my opinion
Disadari atau tidak, kejahatan yang terjadi di masyarakat merupakan implikasi dari “teladan” yang sudah diberikan media melalui pemberitaan. Modus operandi berbagai bentuk kejahatan bisa ditiru dari media cetak maupun elektronik. Tidak adanya sensor membuat segala peristiwa bisa direkam dengan amat jelas tanpa tendeng aling-aling…
Hal itu juga yang terlihat dalam berita drama penyanderaan seorang bocah bernama Salma di Makassar kemarin. Salah satu stasiun TV swasta ini, berhasil merekam seluruh peristiwa penyanderaan dari awal polisi mengetahui jejak si penjahat hingga akhirnya tewas karena terjangan peluru. Miris melihatnya, apalagi membayangkan bagaimana trauma yang bakal diderita si Salma yang baru berusia 9 tahun itu. Kamera televisi ini entah mengapa bisa sangat dekat dengan lokasi penyanderaan yang sudah dikepung oleh polisi. Gambar yang sangat jelas itu memperlihatkan bagaimana Salma menjerit-jerit karena mulutnya dibekap oleh si penculik. Tragisnya, kepala penculik dan Salma tidak terlihat namun hanya rontaan yang terdengar serta gerak kaki yang menghentak tanda Salma ingin melepaskan diri. Efek dramatis ini terus berlanjut kala sang penculik memperlihatkan diri di depan umum dengan membawa senjata tajam yang siap menghunus Salma. Salma tetap meronta antara takut dan ingin lari. Polisi seakan tak punya pilihan lain selain melumpuhkan si penculik dengan timah panas. Lebih dari 2 kali tembakan terdengar dan menghujam badan di penculik di bagian perut dan kaki. Bagaimana kejadian itu selanjutnya sudah bisa diduga. Karena si penculik akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan kala akan dibawa ke Rumah Sakit.
Media –khususnya elektronik– yang sama sebenarnya pernah juga melakukan “kejahatan” –setidaknya menurut saya–dengan merekam ekspresi istri Taufik Savalas kala mengetahui sang suami meninggal karena kecelakaan tragis. Sang wartawan dan kameramen sebelumnya sudah mengetahui bahwa Taufik meninggal namun sengaja tak memberitahukan kepada keluarga tentang kejadian itu. Bagaikan reality show, respon sang istri begitu mengetahui kabar itu terekam dengan jelas di layar kaca. Kaget, lemas dan menangis bagaikan gambar yang indah dan diputar berulang-ulang. Sama seperti kejadian penculikan Salma yang diulang hingga 2 kali.
Pasti ada rasa kepuasan dari pewarta setelah mendapatkan gambar itu. Namun toh, apakah rentetan peristiwa itu harus direkam demi kepuasan pribadi semata tanpa mengindahkan perasaan orang lain. Ada banyak cara agar tampilan berita lebih indah dan menarik tanpa melakukan hal-hal yang kebabablasan. Saya, pernah hampir merasa bersalah. Pasalnya, kala itu ada seorang manajer tim sepakbola Indonesia yang tergolek lemas di Rumah Sakit sehari setelah big match di Semarang. Kala itu, hanya pewarta Semarang yang mengetahui kondisi sang manajer. Kami bahkan diperbolehkan masuk ruang ICU. Dari penglihatan mata biasa, kami merasa umur sang manajer sudah tidak lama lagi. Berbagai selang dan alat bantu dipasang. Matanya nanar, napasnya tinggal satu dua. Tidak ada satupun pewarta yang bisa merekam kejadian “berharga”. Hanya kamera HP saya yang bisa digunakan untuk mengabadikan peristiwa langka ini. Setelah gambar diambil, pilihannya hanya ada dua, meloloskan rekaman itu ke media atau tidak. Di satu sisi, gambar ini adalah aset yang berharga, di sisi lain pihak keluarga tidak mau dipublikasikan. Kami menghargai ditengah kesedihan yang amat dalam, pihak keluarga masih mau menerima para kuli tinta. Akhirnya salah satu teman saya, mengatakan, bahwa seadainya ia berada di kejadian itu, ia tidak akan mau ayahnya jadi bahan liputan para wartawan. Ini memang kejadian kecil, namun cukup memberikan pelajaran. Kala akhirnya sang manajer meninggal keesokan harinya, kami jadi tak menanggung beban berlebihan karena lebih mendengarkan kata hati daripada tuntutan kepuasan sesaat semata. Saya juga beruntung, akibat perkataan teman tadi, semuanya tidak jadi kebablasan….