my opinion

Archived Posts from this Category

Kemanjaan

Posted by senja on 17 Dec 2007 | Tagged as: my opinion

Manja

Kemanjaan

Bisa disebabkan karena kondisi lingkungan yang sarat fasilitas atau juga bawaan orok…

Saya sempat dimanja karena fasilitas….misalnya karena di rumah selalu ada yang bantu membuat saya hampir tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Beruntung selepas SMU saya lantas hijrah ke Jogjakarta. Ada banyak saudara di kota ini tapi ortu menginginkan saya untuk ngekost. Hidup di kost-kostan mau tak mau membuat semua harus dilakukan sendiri. Dari hal sepele seperti masang sprei kasur, nyapu, nyuci baju, setrika dan lain-lain. Walaupun ada jasa laundry tapi saya memang tidak pernah memanfaatkan fasilitas ini. Alasannya, saya kuatir baju saya bercampur dengan baju orang lain. Sampai akhirnya harus pindah ke Semarang, tuntutan untuk mengurus semuanya sendiri makin banyak. Jika sebelumnya hidup di kost-kostan, kini tinggal di rumah tanpa pembantu. Yang dikerjakan juga jadi tambah banyak. Dengan tuntutan pekerjaan yang lumayan padat, membuat kadang harus “lembur” untuk sekedar nyapu, nyuci baju dan ngepel rumah..itu pun dilakukan sepulang kantor….

Kemanjaan juga saya alami karena fasilitas yang melekat pada pekerjaan….

Maklum sebagai kuli tinta saya pun dibekali kartu pers. Kartu sakti kata banyak orang. Kartu pass untuk kemana-mana. Untuk nonton konser, untuk menghindari tilangan polisi dan lain sebagainya. Menyesatkan sebenarnya jika bergantung dengan kartu ini apalagi jika tidak dalam koridor menjalankan tugas jurnalistik. Saya biasanya langsung menyimpan di tas seusai liputan. Atau dimasukkan di sebalik baju agar tidak terlihat. Namun toh akal busuk kadang datang kala sedang diburu waktu alias deadline…

Deadline kadang menjadi kambing hitam mengapa saya sering ambil jalan pintas. Seperti melanggar lampu merah, ngebut, naik motor diatas trotoar dan banyak lagi. Disadari atau tidak keberanian untuk melanggar hukum dipengaruhi juga karena kartu pers ini. Sebenarnya, ini cukup menggangggu, tergantung dengan benda mati, manja karena punya sebuah kartu.

Pernah, saat itu pertandingan PSIS mengalami tunda beberapa menit karena bus tim tamu dilempar batu oleh oknum tak bertanggung jawab. Pertandingan molor membuat saya harus ngebut ke kantor. Sialnya sedikitnya ada 3 lampu merah menuju ke kantor. Di lampu merah kedua saya sudah tidak sabar lagi untuk tidak menerjang. Akhirnya setelah sempat berhenti beberapa menit begitu lalu lintas agak sepi saya pun menggeber motor dengan kecepatan maksimal. Saya nggak sadar kalau sedang dikejar oleh polisi. Polisi mengira saya ngebut karena ingin menghindari dia. Miskomunikasi. Entah mengapa hari itu saya lihai sekali. Baru menjelang beberapa meter menuju kantor, polisi berhasil menjajari saya. Saya masih saja nggak sadar. Akhirnya cek cok pun terjadi. Polisi menuduh saya kurang ajar karena melakukan pelanggaran dan mengelak tanpa rasa bersalah. Saya juga menuduh polisi kurang lihai sehingga saya nggak tahu kalau sedang dikejar. Permasalahan selesai setelah bertengkar 15 menit. Saya memang diijinkan untuk meneruskan perjalanan namun waktu terbuang itu cukup mengganggu. Intinya bukan pada punya kartu pers hidup jadi lebih mudah. Justru tidak disiplin, tidak sabar membuat hal yang gampang jadi lebih rumit.

Saya pun bertekad untuk tidak menggunakan kartu pers untuk kepentingan lolos dari kejaran hukum. Namun celaka lagi-lagi menghampiri. Plat nomor motor saya mati 2 tahun tanpa saya sadari. Begitu sadar, saya nggak punya banyak waktu untuk ngurus. Di sebuah malam saat akan ke balaikota Semarang, entah mengapa sial sedang menguntit saya. Seorang polisi yang tampaknya sedang pulang ke rumah setelah menjalankan tugas berbelok dan mengendarai motor di jalur persis di belakang motor saya. Duh, saya intip dari spion si polisi sudah “ngeh” kalo nopol motor saya mati. Dasar sial, dia pun memberhentikan si biru–panggilan untuk motor kesayangan. Singkat cerita motor saya dirampas dan bla bla. Saya tak membela diri. Memang salah, harus dihukum, mau apa lagi. Setelah itu, kelengkapan motor saya urus. Lengkap kini kecuali saya memang tidak memasang spion kiri. Wagu sih…

Sekarang, saya baru ngerasa deh…tertib, sabar, mentaati peraturan dan tidak menggunakan kartu pers sesuka hati justru bikin hidup lebih mudah. Lebih simple dan sederhana. Kini kalau keinginan untuk melanggar lalu lintas kumat, saya hanya bilang ke dalam diri sendiri bahwa jika saya sabar menanti lampu hijau berarti saya lulus level pertama ketertiban, kesabaran dan kemanjaan. Hal itu lebih membanggakan ketimbang cap aneh-aneh lainnya. Walau memang benar, 30 persen dari otak saya masih tersedia untuk tindakan-tindakan breaking the rule..tapi itu untuk KLB, alias kejadian luar biasa..kalau nggak…ya mending tertib, aman sentosa…..

 

“Martunis”

Posted by senja on 07 Dec 2007 | Tagged as: resensi, my opinion

Martunis

Ingat nama ini?

Ya dia adalah salah satu korban tsunami yang ditemukan selamat 21 hari setelah bencana yang menghajar Aceh itu berlangsung.

Diantara ribuan korban tsunami, hanya Martunis-lah yang saat hari naas tersebut memakai pakaian timnas Portugal. Fotonya oleh fotografer asing lantas menyebar dengan cepat termasuk ke negara Potugal sana. Alhasil laki-laki kecil ini pun ngetop seiring dengan berita Aceh yang menjadi perbincangan dunia. Bahkan beberapa waktu kemudian Martunis sempat diundang ke Potugal untuk nonton langsung salah satu pertandingan negara ini dalam babak kualifikasi pra piala dunia. Tidak itu saja, sosok Martunis (sempat) seakan-akan menjadi bagian dari aksi sosial negara-negara asing dan juga olahraga sepakbola. Tidak hanya di Aceh namun juga di Indonesia pada umumnya.

Saya (mungkin) salah satu yang beruntung bisa bertemu dengan anak ini. Medio 2006 lalu kala mengikuti (dan liputan) FIFA WORLD CUP TROPHY TOUR BY COCA COLA di Jakarta pihak panitia mengundang Martunis dkk dalam acara ini. Entah mengapa panitia lantas mengundang mereka yang pasti saya jadi bisa sedikit berbincang dan berfoto bersama dengan Martunis. Berbincang dengan Martunis dan juga pendampingnya karena jaga-jaga jika redaktur menanyakan dan menyuruh saya membuat berita Martunis. Berfoto karena sekedar kenang-kenangan saja dan bahan dokumentasi saya.

Sepanjang acara, jujur perhatian saya tertuju pada sosok Martunis. Senyumnya manis, terlihat cukup cerdas dan komunikatif. Beberapa orang tampak sangat tertarik untuk sekedar menanyai Martunis dan foto bersama. Sayang terkadang ia sedikit ogah menjawab pertanyaan. Mungkin saat itu sudah ratusan pertanyaan singgah. Pendampingnya mengakui bahwa sejak pagi mereka sudah padat dengan acara. Tak heran jika Martunis dkk justru lebih tertarik bermain ketimbang serius menjawab aneka tanya. Saat itu saya hanya tertegun. Saya hanya merasa Martunis dkk sedang dieksploitasi (semoga dugaan ini salah) oleh sebuah industri. Saya tentu sangat senang jika Martunis ternyata juga bahagia bisa berkenalan dengan Cristiano Ronaldo (pemain timnas Portugal) dan bahkan melihat dari dekat pertandingan salah satu timnas terkuat di dunia ini. Saya pun bahagia jika Martunis bisa sesaat lupa dengan kondisi Aceh dan keluarganya yang menyedihkan pasca tsunami. Namun asumsi-asumsi ini muncul dibarengi dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan aneh saya. “Apakah Martunis diberikan waktu yang leluasa untuk “sekedar” misalnya menjalankan kewajiban agamanya di sela-sela acara. Ataukah “Apakah orang-orang itu juga memberikan Martunis keleluasaan untuk memilih, dan menjalankan rutinitas sosial seperti kala ia di kampung halaman walaupun ia sedang tidak di Aceh?”. Pertanyaan sederhana ini saya pendam hingga sekarang. Bukan karena saya tidak berani menanyakannya. Saya hanya takut jika ternyata jawabannya tidak seperti yang saya inginkan. Kekhawatiran yang sama sebenarnya saya simpan dengan bantuan-bantuan asing di Aceh yang mengalir dari negara asing. Saya takut ini adalah bentuk “penjajahan” lain oleh negara besar kepada Indonesia. Aceh menjadi pintu bagi penjajahan baru. Menjadi pintu untuk menaklukkan Indonesia yang sedang di ujung bangkrut.

Sekarang sudah setahun lewat dari peristiwa itu. Tapi minggu-minggu ini ingatan saya kembali melayang ke sosok Martunis dan “martunis-martunis lainnya”. Berawal dari buku Pengakuan Bandit Ekonomi John Perkins *, Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga ** (ini adalah buku kedua dari penulis Confession Of An Economic Hitman). Buku penting ini sebenarnya sudah harus saya baca setahun yang lalu. Namun karena di kampus hanya ada satu buku dan saya selalu telat mendapatkan giliran meminjam maka baru kali ini saya membacanya. Itu pun bukan lantaran saya kena giliran pinjam, tapi karena buku kedua setelah confession pertama sudah terbit dan rasanya akan sangat rugi jika saya tidak membacanya. Oke, saya bohong. Sebenarnya bukan hanya karena selalu nggak dapat giliran pinjam, tapi saya khawatir isi buku ini bikin saya tambah marah dengan pemerintah Indonesia.

Ternyata dugaan saya benar. Maksudnya dugaan bahwa saya menjadi makin marah dengan pemerintahan republik ini….

Oke, saya nukilkan saja dari dari bab Mendulang Emas dari Tsunami-karena saya tidak yakin punya bahasa yang lebih baik lagi untuk menggambarkan kebobrokan ini.

“Pemerintahan Bush tidak menyia-nyiakan waktu. Sebulan setelah tsunami, tepatnya januari 2005, Washington membalik kebijakan Clinton pada 1999 yang memutuskan hubungan dengan militer Indonesia yang represif. Gedung putih mengirimkan peralatan militer senilai 1 juta dollar ke Jakarta. Pada 7 Februari 2005, The New York Times melaporkan: “Washington menyabet kesempatan yang muncul pasca tsunami…menlu Condoleza Rice mengambil langkah dengan memperkuat pelatihan Amerika terhadap pejabat Indonesia secara signifikan ..di Aceh, angkatan bersenjata Indonesia, yang selama 30 tahun memerangi pemberontakan separatis, mencapai kondisi prima sejak tsunami. Sepertinya, kepentingan terbesar angkatan bersenjata tak lain terus menghambat angkatan perang Gerakan Aceh Merdeka”. (halaman 53)

“Dari program radio tersebut juga diketahui bahwa setelah tsunami, sejumlah perusahaan kontruksi dan permesinan AS, melobi Bank Dunia dan lembaga “bantuan” lain untuk membangun jalan raya, yang utamanya akan menguntungkan industri minyak dan kayu”. (halaman 54)

Entahlah

Yang pasti Aceh–dan daerah-daerah lain yang dihisap oleh penjajah– memang bukan hanya menyimpan cerita-cerita romantis belaka. Namun juga seabrek kesedihan dan masalah. Dan saya tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang disimpan oleh banyak propinsi kaya negeri ini. Setiap jengkalnya tak lepas dari incaran negara lain yang sama sekali tidak ingin Indonesia bermartabat. Kemudian pertayaanpun muncul….apakah harus dengan menggadaikan harga dini dan nurani untuk hidup dan mempertahankan di tanah ini?????. Dan tentang kesepakatan AS di UN Climate Chage Conference 2007 yang bakal memberikan bantuan untuk menghentikan pembalakan liar di Indonesia, InsyaAllah saya tidak mempercayainya…..

*penulis adalah mantan bandit ekonomi yang sejak 2004 lalu menuliskan buku yang mengungkap kejahatan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan untuk memetik laba dengan cara-cara korupsi, kolusi dan nepotisme dari negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Ia pernah bekerja di perusahaaan konsultan MAIN di AS.

** Perkins, John. 2007. PENGAKUAN BANDIT EKONOMI JOHN PERKINS DAN KELANJUTAN KISAH PETUALANGANNYA DI INDONESIA DAN NEGARA DUNIA KETIGA. Jakarta Selatan: Ufuk Press.

***Terimakasih untuk kawan yang telah menjawab beberapa pertanyaan saya dan menjadi masukan yang berharga…

 

Jawaban Kami

Posted by senja on 08 Nov 2007 | Tagged as: my opinion

Ternyata sesaat setelah postingan deklarasi BUKAN TIM MUSIMAN, banyak aneka pertanyaan yang masuk. Ya benar kami memang sedang mencurigai sebuah blog bernama Sayap Ade di sayapdotwordpressdotcom . Blog ini kami ketahui setelah melakukan kegiatan blog walking sekitar seminggu yang lalu. Blog dengan setting penderita leukimia berjenis kelamin perempuan tersebut kami sinyalir fiktif belaka. Padahal selain tidak mencantumkan warning bahwa isi blog itu hanya naskah drama atau skenario cerita, blog ini sudah banyak menarik simpati beberapa orang. Nah kami memberi waktu kepada anda sekalian untuk sekedar menengok blog itu terlebih dahulu sebelum kami membeberkan sejumlah fakta janggal yang bermuara pada satu kesimpulan bahwa blog itu fiktip.

Oke.. sudah???

Setelah kurang lebih seminggu meneliti dan menyelidiki, kami menemukan beberapa kejanggalan dan fakta tercecer yang sangat kait mengkait…

Continue Reading »

Bad news is Good news??

Posted by senja on 27 Oct 2007 | Tagged as: my opinion

Bad news is good news (BN is GN) adalah jargon orang-orang media yang pernah sangat terkenal namun kemudian mulai rapuh beberapa tahun belakangan ini. BN is GN sering diartikan bahwa sebuah peristiwa yang buruk, menjijikkan, memilukan dan semacamnya adalah sasaran empuk pembuat berita untuk diwartakan ke khalayak ramai. Misalnya tentang kecelakaan yang memakan korban puluhan jiwa, kelaparan, pembunuhan, perampokan, bencana alam dll. Berita tentang hal itu, pasti akan lebih menarik atau layak jual jika dibandingkan dengan berita tentang murid yang juara karya ilmiah atau penemuan alat pendeteksi gempa bumi. Pembunuhan atau pemerkosaan pasti lebih hot dan “laku” ketimbang berita tentang kesuksesan atlet bulutangkis Indonesia di Piala Uber/Thomas.

Namun itu dulu. Kini banyak media (kecuali yeellow paper) yang berangsur-angsur mengubah politik redaksionalnya. Tren BN is GN terlindas dengan inspiring news. Menginspirasi pembaca untuk mengikuti jejak kesuksesan atau menggugah masyarakat ke arah perbaikan moral atau ekonomi misalnya. Berita-berita bencana, dibarengi atau ditampilkan dalam balutan solusi dan kekuatan untuk terus berjuang. Berita kejahatan didampingi dengan himbauan kewaspadaan dan semangat untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Atau warta tentang kerusakan hutan di beberapa pulau di Indonesia dengan selipan pesan bahwa begitulah pentingnya lingkungan yang seharusnya dijaga dengan penuh suka cita bukan sebaliknya. Selalu ada solusi di balik kritik. Selalu ada warning di balik berita mengagetkan. Hasilnya? Ternyata berita-berita “tidak sesansional ini” tidak kalah laku dengan BN is GN. Tengok saja, berita tentang keberhasilan usaha-usaha kecil yang bangkit di tengah keterpurukan ekonomi Aceh pasca tsunami. Atau pelajar miskin yang justru sukses melebihi murid-murid di sekolah elit.

Namun toh, nyatanya, arah ini tak bergaung sama di beberapa karya penulisan. Maksudnya, jika BN is GN dulu hampir tak pernah disentuh, kini justru tema-tema itulah yang paling laku untuk dijual.
Misalnya dalam cerpen atau novel/CN. Dari sekian banyak CN yang terbit setiap harinya, sekian persen didominasi dengan perbincangan seputar isu sensitif bermerk perempuan. PEREMPUAN-SEKS-MENGUAK TABIR TABU-FEMINISME. Bahasan “seksi” yang seolah musti dan wajib di tulis agar jadi layak bincang, layak beli dan layak debat, berujung pada satu hal yakni laris manis bak kacang goreng. Bukankah hal-hal yang tabu seputar seks, perselingkuhan, alat kelamin, pemaksaan hak laki-laki-perempuan dan “ketidaknormalan” lainnya makin asyik dikulik dengan bahasa vulgar dan berani adalah hal yang paling diminati sekarang???? benarkah????……..

Oke…..saya perlu pisau pembedah. Karena saya mendadak ketakutan jangan-jangan “kekagetan” ini hanya milik saya seorang. Jangan-jangan fenomena ini hanya tampak picisan bagi sebuah individu dan bukan menjadi kejenuhan massa. Ada sebuah buku yang memuat kritik tentang novel perempuan yang menuai aneka warna kritik sekaligus penghargaan yang bermuara pada popularitas. Si penulis buku kritik ini, Katrin Bendel dalam Sastra, Perempuan, Seks (Jalasutra, 2006) mengungkapkan sebuah kegelisahan tentang sensasi berlebihan yang dilahirkan dari sebuah novel seputar perempuan dan seks yang kemudian menurutnya memberikan efek yang merugikan bagi dunia sastra Indonesia. Ia kemudian merujuk pada para penulis perempuan yang berani menjelajah ke wilayah tabu ini dengan gaya penulisan vulgar dan berani yang kemudian mendapat sambutan luar biasa dari kalangan kritikus dan pembaca.

“Berbagai macam klaim muncul seputar para “pengarang baru” itu: tulisan mereka hebat, mereka menciptakan gaya penulis baru, mereka mendobrak tabu (terutama seputar seks—dan hal itu sering dipahami sebagai semacam “pembebasan perempuan”, bahkan sebagai feminisme).” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii)
“Saya ragu apakah cara membicarakan seksualitas dengan menantang dan penuh sensasi yang kita temukan dalam karya———-memang tepat disebut “pendobrakan tabu” atau bahkan “pembebasan perempuan” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii).

Katrin kemudian “menggugat”, mengapa karya-karya sensasional tersebut menjadi perbincangan yang cukup hangat dibandingkan karya lain yang cukup berkualitas. Tulisan-tulisan itu dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa, padahal tidak ada represi sosial yang berarti pada pengarang karya sejenis itu. Dan bahkan ada beberapa karya yang justru cukup baik namun sepi dari publikasi karena sangat tidak sensasional…

Bagi saya jelas. Bahwa perempuan hanya disimbolkan sebagai sebuah bahasan yang tidak jauh dengan seputar seks dan persekongkolan semata. Yang kemudian menjadi dicap sebagai sebuah kemenangan atas nama perempuan atau feminisme karena tema-tema itu di cuatkan dalam kondisi masyarakat yang berlabel sopan santun plus tradisonal. Dalam skala yang lebih kecil lagi. Tema-tema seperti itu dan pemberontakan perempuan atas nilai yang teratur disebut-sebut sebagai sebuah pencapaian yang hakiki atas nama perempuan. Lebih repotnya lagi, tema itu tidak didalami dan hanya digunakan sebagai pemuas rasa ingin terlihat “kuat”.

Nah, apa benar, persoalan perempuan memang hanya berkutat pada hal-hal sensasional plus tabu saja? Apakah ketabuan yang kemudian di buka dengan serta merta lantas berubah menjadi barang berharga yang punya semangat solusi atas sebuah keterpurukan? Duh kok saya mencium aroma ketidakyakinan ……
Bukankah perempuan juga sangat “seksi dan sensual” jika didalami dan dikaitkan dengan isu seputar bobroknya pendidikan negeri ini. Atau dikaitkan dengan sudut ekonomi dan harkat martabat bangsa Indonesia di mata bangsa lain. Yang kemudian diejawantahkan dalam kasus TKI dan trafficking. Tampaknya ada banyak lapangan strategis yang bisa digali dan gali lagi.

Nah bukankah ada baiknya jika BN is GN ditinggalkan pelan-pelan….
Diganti dengan sebuah hal yang jauh dari unsur sensasi
Tema dan isu-isu “seksi” digali dan didalami dengan berbagai pendekatan yang inspiring dan kaya solusi…
Sekali lagi ini jeritan konsumen….sekaligus jeritan hati yang percaya bahwa kegiatan menulis adalah perkerjaan yang beresiko karena berpotensi menularkan virus positif dan atau sebaliknya…..

*oya, sama sekali tidak ada niat menggurui hanya bermaksud membuka ruang diskusi….

TV Lokal vs TV Nasional

Posted by senja on 19 Sep 2007 | Tagged as: my opinion

Entah mengapa, kantor saya didesain sedikit kedap suara dari bisingnya dunia luar. Alhasil deru motor dan mobil serta hujan, bahkan adzan tidak bisa terdengar. Kendati bisa melihat luruhnya matahari sore hari lewat kaca ruangan, namun tetap saja mendatangkan keraguan akankah sudah waktunya berbuka puasa..

Salah satu alternatifnya, kadang saya ngecek magrib via temen-teman yang ada di list YM. Atau yang paling mungkin adalah nyetel tv lokal Semarang untuk mengikuti beduk magrib…kegiatan nonton tv lokal Semarang inilah yang lantas menjadi aktifitas rutin saya (kami). Menjelang dan sesudah magrib, acara tv lokal itu kerap diisi dengan program-program features, misalnya buka puasa bersama di masjid Kauman, atau menelusuri masjid-masjid unik di Semarang dan Jateng. Ada juga acara serupa wisata kuliner, dan semacamnya…
Jujur sebelumnya saya jarang nonton tv Semarang. Kalau dah nyampe kantor, biasanya nonton Liga Indonesia (kalau pas jam dan harinya), atau liat berita di metro TV…

Dalam ilmu jurnalistik, ada istilah yang bernama proximity atau kedekatan. Jika dihubungkan dengan konteks berita (konsep berita ini berkembang seiring jaman dan jenis media massa-nya. Kedekatan diartikan sebagai sebuah hal atau peristiwa yang dekat dengan pembaca atau penontonnya akan lebih berharga atau menarik ketimbang peristiwa yang tidak punya kedekatan psikologis dengan penikmat program atau berita. Misal, kecelakaan di Palembang tentu dipandang sebagai berita yang menarik dan penting bagi penduduk Palembang ketimbang masyarakat Papua. Sebuah peristiwa yang besar, seperti tsunami di Aceh memang akan menjadi perhatian nasional, namun nilai kedekatannya tentu lebih mengena dengan masyarakat Sumatra—misalnya– ketimbang orang Madura. Dan banyak lagi contoh lainnya. Proximity kemudian berkembang menjadi rasa lokalitas yang kemudian menjadi sajian atau kekuatan utama media-media lokal. Untuk media cetak misalnya, isu-isu yang diangkat koran asli daerah itu seperti Suara Merdeka (Semarang) atau Pikiran Rakyat (Bandung) pasti lebih ke arah hal-hal yang ber-implikasi langsung dengan daerahnya. Akan sulit diterima jika headline Suara Merdeka melulu isu internasional padahal di Semarang sedang geger pembangunan jalan tol Semarang-Solo (misalnya). Suara Merdeka pasti akan lebih memilih mengangkat isu jalan tol (jika setelah dipilah pada hari itu, isu yang terpenting adalah jalan tol) dibandingkan dengan kecelakaan pesawat di India yang menelan ratusan korban jiwa.

Di media cetak, kekuatan “rasa” lokal menjadi koran daerah makin diminati dan lantas kedudukannya susah digeser oleh koran nasional. Ide ini kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah kebijakan untuk membuat sisipan atau edisi daerah dalam setiap koran nasional. Misal, Kompas dan Sindo nasional ada sisipan untuk Jateng-DIY dan Jawa Pos dengan Radar-Radarnya. Grup-grup media besar membuat gurita media di semua daerah di Indonesia. Ini adalah –selain kepentingan bisnis—usaha untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat lokal….

Nah, strategi ini ditiru oleh TV…
Sayangnya, hingga kini langkah itu tidak sesukses media cetak.
Saya pribadi, ternyata setelah sering berbuka dengan pedoman bedug TV lokal Semarang, juga ternyata merasa kurang nyaman dengan sajian TV lokal. Padahal dari aspek kedekatan, apa yang mereka angkat seharusnya sangat akrab dengan keseharian orang Semarang.

Sebagai orang awam, saya merasa, ada gambar dan suasana yang tidak bisa ditampilkan oleh TV lokal. Baik dari segi yang paling minimal, seperti grafis, musik iringan, gaya hingga ke hal-hal yang substansi seperti ide cerita dan alur …
Oke, masalah pendapatan iklan memang kerap menjadi batu sandungan bagi mereka untuk tampil lebih indah dan tak kalah menarik dari pada tv swasta/nasional. Lantas apa ini tidak bisa dikoreksi. Pasti bisa. Nah sebenarnya kenapa ya programnya tidak semengkilap tv swasta???
Sudah 2 hari ini saya memikirkannya, dan ada beberapa kesimpulan yang saya anggap cukup mewakili kegusaran saya…

Sebenarnya menekan bugdet anggaran bukan hanya milik TV lokal, TV nasional dan swasta pun melakukan hal yang sama. Buktinya, banyak program in-house dari pada memakai hasil olahan production house luar. Nah, salah satu TV swasta yang kerap punya produksi/program in-house sukses dan kemudian lantas di tiru oleh TV lainnya adalah Trans TV. Stasiun inilah yang paling kaya dengan acara-acara features yang kemudian menjadi image TV. Sebut saja, Wisata Kuliner yang kini dijiplak terang-terangan oleh TV lainnya. Lalu ada Jelang Siang, acara yang menggabungkan kisah humanis, plus info sehari-hari. Gula-Gula, acara memasak—sesuai dengan namanya yakni makanan full manis– dengan latar belakang pemandangan asri tempat wisata. Lalu ada Koper dan Ransel, yang menampilkan tempat wisata sekaligus, akomodasinya. Koper adalah perjalanan wisata dengan fasilitas lux, sedangkan ransel diibaratkan sebagai perjalanan untuk turis yang hanya punya duit pas-pas-an. Ada pula acara Griya Unik, dan Good Morning. Semua acara ini idenya 90 persen original. Oke kita dapat 1 poin kesimpulan, yakni orisinilitas alias lain dari pada yang lain. TV lokal di Surabaya sudah ada yang berhasil, yakni JTV dengan program Pojok Kampung. Adalah acara berita yang disampaikan dengan bahasa Jawa khas Suroboyoan. Penyiarnya cakep-cakep, tapi tetap ngomong dengan bahasa khas ibukota Jatim yang terkenal cukup kasar dan kurang sopan. Misalnya, “Enek kecelakaan awan mau. Korbane matek langsung soale keplindes tur keseret truk nganti 500 meter….” hehehehe, lucu ya. Tapi konon acara ini cukup mencuri hati pemirsa setia JTV. Di Bandung, beberapa program yang mengangkat tema tentang tim Persib juga mulai menyaingi program TV swasta. Sekali lagi, originalitas dan lokalitas ternyata menjadi senjata ampuh untuk bersaing dengan TV nasional.

Lalu, cara pengambilan gambar dengan shoot-shoot yang close up dan berani. Membuat mata jadi nyaman. Lokasi atau tempat liputan boleh saja sangat biasa namun angle gambar cukup membantu untuk menampilkan hal yang biasa menjadi tampak lebih indah. Lalu narasi yang singkat, dan santai. Tak perlu banyak cakap karena penonton sudah bisa melihatnya melalui gambar. Ini yang terkadang sering dilupakan acara-acara di TV lokal. Misalnya acara menikmati sate padang di salah satu sudut kota Semarang. Host-nya kebanyakan ngomong. Sehingga justru inti dari rasa dan keunikan makanan di acara itu tidak tampak. Untuk acara yang dilakukan di dalam studio dekorasi ruangan, lighting, dan busana host seharusnya bisa diperbaiki. Tak perlu menggunakan kemewahan. Bisa saja sederhana dan simple namun tetap menarik, cocok dan enggak asal-asalan. Untuk bisa tampil oke memang perlu SDM yang mumpuni. Dan itu bisa ditingkatkan, belajar dan terus belajar serta peka menangkap aspek-aspek lokalitas masyarakat sekitar…

Nah, itu tuh..analisa saya sebagai orang awam alias jeritan konsumen TV lokal Semarang……..wakakakakaka

Pilih Kasih

Posted by senja on 23 Aug 2007 | Tagged as: my opinion

Giliran yang diculik anaknya pengusaha gede, semuanya jadi ikut-ikutan prihatin. Coba yang diculik gelandangan atau anak keluarga miskin, siapa yang mau tau. Coba ada peluru nyasar yang bunuh anak-anak pinggiran kota, ortunya nggak mampu dan hidup susah, emang ada yang peduli ???????

Gara-gara yang diculik anak pengusaha gede, semuanya jadi ikutan ngomong SBY, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Mutia Hatta…..
Memangnya rakyat Indonesia cuma orang gedean doankkk???????????????

« Previous PageNext Page »