my opinion

Archived Posts from this Category

TV Lokal vs TV Nasional

Posted by senja on 19 Sep 2007 | Tagged as: my opinion

Entah mengapa, kantor saya didesain sedikit kedap suara dari bisingnya dunia luar. Alhasil deru motor dan mobil serta hujan, bahkan adzan tidak bisa terdengar. Kendati bisa melihat luruhnya matahari sore hari lewat kaca ruangan, namun tetap saja mendatangkan keraguan akankah sudah waktunya berbuka puasa..

Salah satu alternatifnya, kadang saya ngecek magrib via temen-teman yang ada di list YM. Atau yang paling mungkin adalah nyetel tv lokal Semarang untuk mengikuti beduk magrib…kegiatan nonton tv lokal Semarang inilah yang lantas menjadi aktifitas rutin saya (kami). Menjelang dan sesudah magrib, acara tv lokal itu kerap diisi dengan program-program features, misalnya buka puasa bersama di masjid Kauman, atau menelusuri masjid-masjid unik di Semarang dan Jateng. Ada juga acara serupa wisata kuliner, dan semacamnya…
Jujur sebelumnya saya jarang nonton tv Semarang. Kalau dah nyampe kantor, biasanya nonton Liga Indonesia (kalau pas jam dan harinya), atau liat berita di metro TV…

Dalam ilmu jurnalistik, ada istilah yang bernama proximity atau kedekatan. Jika dihubungkan dengan konteks berita (konsep berita ini berkembang seiring jaman dan jenis media massa-nya. Kedekatan diartikan sebagai sebuah hal atau peristiwa yang dekat dengan pembaca atau penontonnya akan lebih berharga atau menarik ketimbang peristiwa yang tidak punya kedekatan psikologis dengan penikmat program atau berita. Misal, kecelakaan di Palembang tentu dipandang sebagai berita yang menarik dan penting bagi penduduk Palembang ketimbang masyarakat Papua. Sebuah peristiwa yang besar, seperti tsunami di Aceh memang akan menjadi perhatian nasional, namun nilai kedekatannya tentu lebih mengena dengan masyarakat Sumatra—misalnya– ketimbang orang Madura. Dan banyak lagi contoh lainnya. Proximity kemudian berkembang menjadi rasa lokalitas yang kemudian menjadi sajian atau kekuatan utama media-media lokal. Untuk media cetak misalnya, isu-isu yang diangkat koran asli daerah itu seperti Suara Merdeka (Semarang) atau Pikiran Rakyat (Bandung) pasti lebih ke arah hal-hal yang ber-implikasi langsung dengan daerahnya. Akan sulit diterima jika headline Suara Merdeka melulu isu internasional padahal di Semarang sedang geger pembangunan jalan tol Semarang-Solo (misalnya). Suara Merdeka pasti akan lebih memilih mengangkat isu jalan tol (jika setelah dipilah pada hari itu, isu yang terpenting adalah jalan tol) dibandingkan dengan kecelakaan pesawat di India yang menelan ratusan korban jiwa.

Di media cetak, kekuatan “rasa” lokal menjadi koran daerah makin diminati dan lantas kedudukannya susah digeser oleh koran nasional. Ide ini kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah kebijakan untuk membuat sisipan atau edisi daerah dalam setiap koran nasional. Misal, Kompas dan Sindo nasional ada sisipan untuk Jateng-DIY dan Jawa Pos dengan Radar-Radarnya. Grup-grup media besar membuat gurita media di semua daerah di Indonesia. Ini adalah –selain kepentingan bisnis—usaha untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat lokal….

Nah, strategi ini ditiru oleh TV…
Sayangnya, hingga kini langkah itu tidak sesukses media cetak.
Saya pribadi, ternyata setelah sering berbuka dengan pedoman bedug TV lokal Semarang, juga ternyata merasa kurang nyaman dengan sajian TV lokal. Padahal dari aspek kedekatan, apa yang mereka angkat seharusnya sangat akrab dengan keseharian orang Semarang.

Sebagai orang awam, saya merasa, ada gambar dan suasana yang tidak bisa ditampilkan oleh TV lokal. Baik dari segi yang paling minimal, seperti grafis, musik iringan, gaya hingga ke hal-hal yang substansi seperti ide cerita dan alur …
Oke, masalah pendapatan iklan memang kerap menjadi batu sandungan bagi mereka untuk tampil lebih indah dan tak kalah menarik dari pada tv swasta/nasional. Lantas apa ini tidak bisa dikoreksi. Pasti bisa. Nah sebenarnya kenapa ya programnya tidak semengkilap tv swasta???
Sudah 2 hari ini saya memikirkannya, dan ada beberapa kesimpulan yang saya anggap cukup mewakili kegusaran saya…

Sebenarnya menekan bugdet anggaran bukan hanya milik TV lokal, TV nasional dan swasta pun melakukan hal yang sama. Buktinya, banyak program in-house dari pada memakai hasil olahan production house luar. Nah, salah satu TV swasta yang kerap punya produksi/program in-house sukses dan kemudian lantas di tiru oleh TV lainnya adalah Trans TV. Stasiun inilah yang paling kaya dengan acara-acara features yang kemudian menjadi image TV. Sebut saja, Wisata Kuliner yang kini dijiplak terang-terangan oleh TV lainnya. Lalu ada Jelang Siang, acara yang menggabungkan kisah humanis, plus info sehari-hari. Gula-Gula, acara memasak—sesuai dengan namanya yakni makanan full manis– dengan latar belakang pemandangan asri tempat wisata. Lalu ada Koper dan Ransel, yang menampilkan tempat wisata sekaligus, akomodasinya. Koper adalah perjalanan wisata dengan fasilitas lux, sedangkan ransel diibaratkan sebagai perjalanan untuk turis yang hanya punya duit pas-pas-an. Ada pula acara Griya Unik, dan Good Morning. Semua acara ini idenya 90 persen original. Oke kita dapat 1 poin kesimpulan, yakni orisinilitas alias lain dari pada yang lain. TV lokal di Surabaya sudah ada yang berhasil, yakni JTV dengan program Pojok Kampung. Adalah acara berita yang disampaikan dengan bahasa Jawa khas Suroboyoan. Penyiarnya cakep-cakep, tapi tetap ngomong dengan bahasa khas ibukota Jatim yang terkenal cukup kasar dan kurang sopan. Misalnya, “Enek kecelakaan awan mau. Korbane matek langsung soale keplindes tur keseret truk nganti 500 meter….” hehehehe, lucu ya. Tapi konon acara ini cukup mencuri hati pemirsa setia JTV. Di Bandung, beberapa program yang mengangkat tema tentang tim Persib juga mulai menyaingi program TV swasta. Sekali lagi, originalitas dan lokalitas ternyata menjadi senjata ampuh untuk bersaing dengan TV nasional.

Lalu, cara pengambilan gambar dengan shoot-shoot yang close up dan berani. Membuat mata jadi nyaman. Lokasi atau tempat liputan boleh saja sangat biasa namun angle gambar cukup membantu untuk menampilkan hal yang biasa menjadi tampak lebih indah. Lalu narasi yang singkat, dan santai. Tak perlu banyak cakap karena penonton sudah bisa melihatnya melalui gambar. Ini yang terkadang sering dilupakan acara-acara di TV lokal. Misalnya acara menikmati sate padang di salah satu sudut kota Semarang. Host-nya kebanyakan ngomong. Sehingga justru inti dari rasa dan keunikan makanan di acara itu tidak tampak. Untuk acara yang dilakukan di dalam studio dekorasi ruangan, lighting, dan busana host seharusnya bisa diperbaiki. Tak perlu menggunakan kemewahan. Bisa saja sederhana dan simple namun tetap menarik, cocok dan enggak asal-asalan. Untuk bisa tampil oke memang perlu SDM yang mumpuni. Dan itu bisa ditingkatkan, belajar dan terus belajar serta peka menangkap aspek-aspek lokalitas masyarakat sekitar…

Nah, itu tuh..analisa saya sebagai orang awam alias jeritan konsumen TV lokal Semarang……..wakakakakaka

Pilih Kasih

Posted by senja on 23 Aug 2007 | Tagged as: my opinion

Giliran yang diculik anaknya pengusaha gede, semuanya jadi ikut-ikutan prihatin. Coba yang diculik gelandangan atau anak keluarga miskin, siapa yang mau tau. Coba ada peluru nyasar yang bunuh anak-anak pinggiran kota, ortunya nggak mampu dan hidup susah, emang ada yang peduli ???????

Gara-gara yang diculik anak pengusaha gede, semuanya jadi ikutan ngomong SBY, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Mutia Hatta…..
Memangnya rakyat Indonesia cuma orang gedean doankkk???????????????

Film

Posted by senja on 22 Aug 2007 | Tagged as: my opinion

Yukk ngomongin tentang pilem alias film…
Film bisanya kerap dijadikan pengisi waktu kala weekend tidak terlalu panjang. Sabtu-Minggu misalnya. Cukup sempit untuk diisi dengan keluar kota, maka lebih enak jika waktu digunakan untuk nonton film di bioskop atau di rumah bersama keluarga ditemani kudapan dan secangkir kopi..hmmm sedap….
Saya sendiri sebenarnya lebih suka nonton film di bioskop. Selain karena layarnya yang gede, kayaknya ada sensasi lain klo nonton di bioskop ketimbang di rumah. Namun, karena sulit mengkompromikan waktu dengan jadwal nonton, jadi lebih sering nonton sendirian (mak wusss ke bioskop sendiri, ngantri tiket bentar, dan nonton) atau ya akhirnya di kamar deh sepulang kantor sambil nyruput kopi hangat, dengan sandaran bantal empuk. Hehehe…akhirnya sama mengasyikkannya dengan nonton di bioskop.

Film jenis apa yang anda suka??
Saya sendiri suka film yang keras-keras, misal peperangan, atau detektif. Horor juga oke, asal bukan horor yang lucu kayak film Indonesia. Intinya sih nggak suka model drama romantis percintaan, yang bersedih-sedih dan menitikkan air mata. Saya juga anti film komedi dan film kartun.

Eh, nggak tau ini masuk genre film apa, namun mungkin karena suka yang berkaitan dengan olahraga, saya juga demen film tentang satu ini. Eits, jangan salah, film tema olahraga ternyata banyak yang keren lho. Oke, kita tukeran info yukkk…..mariiii
Coba deh tonton, Glory Road. Nih film mengisahkan tentang tim basket sebuah SMU di Amerika yang ditangani pelatih berkulit putih namun dihuni pemain-pemain kulit hitam. Karena diperkuat kaum minoritas, tak jarang mereka dapat ejekan, teror dan hal-hal lain yang menyakitkan. Tapi dengan kekuatan, kekompakan dan semangat mereka justru berhasil jadi juara musim. Film ini based on true story lhoooo. Saking sukanya saya dua kali minjem vcd-nya. Lanjuttt…..

Ada juga yang menceritakan tentang seorang yang tuna wicara dan agak keterbelakangan mental menjadi pelatih tim football. Perjalanan bagaimana ia akhirnya jadi pelatih itu yang menarik. Judulnya Radio. Diberi judul ini karena dia suka banget dengerin radio. Ada juga film menceritakan tentang petinju yang justru menemui masa kejayaannya saat ia mulai berpikir buat mundur karena performa menurun dan usia yang tak lagi muda. Cinderella Man. Yap, si petinju dari kalangan bawah dan mendapat kekayaan saat merengguk sukses, mirip cinderella. Lantas ada cerita tentang atlet golf di The Greatest Game Ever Play, ada juga Stick It, cerita tentang atlet senam bengal yang akhirnya berprestasi. Trus Rage Unleshed Ultimatum nyeritain kompetisi olahraga di sebuah penjara yang tak jarang hingga memakan korban nyawa. We Are Marshal, film tentang perjuangan sebuah universitas membangun kembali tim footballnya setelah di musim sebelumnya satu tim mereka tewas dalam kecelakaan pesawat. Diawali dengan kegamangan akhirnya tim ini berhasil meraup sukses. Nah, yang ini lupa judulnya, ceritanya sih berkisar papa balapan jet darat alias semacam F1…keren deh..Masih banyak film-film olahraga tapi saya lupa judulnya….

Goal 1, Goal 2….nih yang part 2-nya barusan saya tonton. Goal seperti terlihat dari judulnya adalah tentang kehidupan pemain sepak bola. Sekuel pertama adalah perjalanan seorang pemuda Meksiko miskin bernama Santiago Munez yang ditemukan seorang pencari bakat untuk kemudian disalurkan ke klub besar Inggris Newcastle United. Ia berjuang nembus dominasi pemain-pemain terkenal NU, hingga akhirnya menjadi salah satu skuadnya, dan berhasil mencetak gol dalam sebuah pertandingan. Film ini berlanjut ke sekuel 2. Si Munez dah terkenal dan dikontrak 2 musim di NU, namun berkat kegemilangannya klub raksasa Real Madrid berminat. Akhirnya doi pindah ke Real. Perjuangannya juga tak kalah berat. Ditambah lagi godaan hidup seperti wanita (dunia sepakbola emang nggak lepas dari fesyen dan wanita penggoda plus penggemar), incaran pers hingga masalah keluarga. Bergelimang uang, dan terus jadi sorotan media, juga setim dengan pemain-pemain nomor 1 dunia seperti Zidane, Beckham, Raul bikin Munez rada lupa diri. Namun hidupnya terselamatkan kala doi sadar bahwa uang bukanlah segala-galanya. Akhir film ini ditandai dengan menangnya Real melawan Arsenal di final Champions dan Munez adalah salah satu pencetak gol-nya…..Sayangnya, masih bersambung ke sekuel 3, doi bakalan pindah ke tim mana lagi yaaa?????? Penasaran…. *sambil garuk-garuk kepala*

Tertarik nonton film rekomendasi saya???
Ayo dunk pinjem di rental terdekat anda…buat sangu wikenn. Biar nggak manyun. Lagian, nonton film tema olahraga tuh kayak isi bensin buat kerja hari Senen. Yaaappp bener, film-film sport sarat dengan pesan, semangat-jangan putus asa-etos kerja tinggi-sportivitas. Soooo tunggu apa lagi. Bagi yang sudah berkeluarga, film-film itu aman buat ditonton bareng anak-anak. Buat yang masih sorangan….dijamin nggak bikin jadi anarkis tapi justru bikin demen olahraga menyehatkan badan dan pikiran serta menjernihkan hati…..wakakakkaka…..

Pelajaran Hidup

Posted by senja on 19 Aug 2007 | Tagged as: my opinion

*woi-woi, bangun!!!!!!!!!!!!!!!!, besok dah Senen lagi, nggak wiken lagiiiiiiii

Kehilangan hape memang sebuah kemalangan, tapi entah mengapa ternyata-seperti sahabat saya bilang-ada banyak hikmah tersembunyi yang bikin saya sama bahagianya seperti sebelum adanya peristiwa itu….

Sejujurnya, 2 jam setelah menyadari ninggalin hape di warnet, saya tidak sesedih yang orang bayangin. Sorenya masih ke stadion Jatidiri, malamnya masih ngantor…masih ketawa-ketawa, ngobrol ngalor, masih makan malam dengan amat lahap, tidur nyenyak dan bangun pagi seperti biasanya, ngopi, dengerin radio..dan lain-lain. Semua kegiatan berjalan seperti biasanya. Walaupun memang tidak sepenuhnya biasa karena mengalami kesulitan komunikasi. Ingin sementara sendiri memang iya, cuma ingin meresapi kata hati kecil (saya memang lebih sering bertengkar dan diskusi dengan hati kecil ketimbang dengan manusia). Terus terang ini adalah peristiwa kehilangan yang cukup besar setelah kehilangan manusia karena kematian (jadi inget judul postingannya sapa gt..:p).

Kesimpulannya….
Ada banyak hal yang memang harus lebih diperhatikan. Hanya berpikir, jika ada seseorang yang menemukan barang bukan miliknya dan mengambil keuntungan dari barang itu, saya lantas tersadar bahwa sedikit banyak, saya juga ikut menciptakan kondisi seperti itu. Seandainya sebagai mahkluk sosial saya mau-mampu-sering memperhatikan orang lain. Bahwa di sebagian kesuksesan dan kebahagian yang setiap hari saya kecap adalah juga milik orang lain, maka bukan tidak mungkin orang-orang seperti itu punya kesadaran lain. Bukankah tingkat kriminalitas adalah juga cerminan dari kehidupan hedonis sebagian orang yang membuat si “kecil” cemburu dan merasa ingin merasakan hal yang sama dengan merampas hak milik orang lain secara illegal?…

Bahwa kehidupan saya tidak melulu, jalan-jalan yang setiap hari dilalui dengan motor, kantor lantai 4, imel, dunia maya, blog atau apapunlah itu. Mobilitas tinggi terus terang sangat mengurangi sensivitas terhadap sekitar. Sebagai individu yang mampu bahagia setiap hari seharusnya ada kesedihan-kesedihan untuk membagi perhatian kepada kaum-kaum yang tidak bahagia. Sebagai individu yang setiap tarikan napas merasakan kasih sayang orang sekitar, seharusnya juga kerap merasakan bagian dunia ini yang tidak penuh cinta.

Ketiga–sumbangan dari seorang sahabat– bahwa hidup harus seimbang. Seimbang secara vertikal dan horisontal. Seimbang antara kerja dan ibadah. Tidak melulu kerja, tapi melupakan tanggungan kuliah yang garis matinya makin mendekati. Huwaaaaaaaa……….

Keempat– Subhanallah, saya makin percaya saya punya teman, sahabat, sodara dan khususnya orang tua yang luar biasa. Ditengah kepanikan, mereka mampu menyalurkan energi-energi positif yang turut membuat saya makin bahagia- pun setelah kehilangan. Teristimewa untuk bapak dan ibu, Alhamdullilah tidak ada makian dan amarah walaupun saya telah mensia-siakan uang tabungan berbulan-bulan ber-wujud 2 hape yang ilang itu. Mereka berdua-lah satu-satunya orang yang tidak pernah melontarkan amarah. Bahkan dorongan spirit dan keiklahsan-an mereka membuat saya merasa tidak kehilangan apa-apa.

Akhirnya, saya merasa-seperti– sedang ulang tahun hari ini….sedang merasa bertambah umur seperti juga Indonesia, one year older, one year better…..

*udah ahhhhh, jadi mellow gini, hiks hiks…..
* Btw, akhirnya Chrisjhon menang…Horeeeeeee. SELAMAT-SELAMAT!!!!

Surat Buat Negeri Seberang

Posted by senja on 09 Aug 2007 | Tagged as: my opinion

Hai apa kabar?
Sedang musim apa sekarang? Ingat kau berjanji membawaku ke negaramu. Ya ya ya aku tahu kau pasti sedang sibuk. Aku pun juga seperti itu, tapi ingin kulunasi utangku padamu. Hutang sebuah cerita tentang negaraku yang sebentar lagi akan ulang tahun……

Namanya Indonesia
Umurnya kini, 17 Agustus mendatang 62 tahun (bener kan???)
Tua sekali ya. Eyangku juga seumuran itu. Perilakunya? Di satu sisi ia seperti layaknya anak kecil, tapi ia juga jadi makin religius, sering berdoa. Itu eyangku, beda lagi dengan Indonesia. Negeri hebat ini ku lihat malah jarang berdoa. Hebat bukan. Kamu pasti bingung. Pejabat-pejabatku hanya berdoa di kala bulan ramadhan. Mereka berduyun-duyun ke masjid, satpol PP menggusur tempat-tempat maksiat hanya karena alasan bulan ramadhan. Setelah itu PSK (dan sejenisnya) bebas lagi beroperasi di pinggir-pinggir jalan dan lokalisasi. Bulan ramadhan memang suci sekali, maka kejahatan dan maksiat hanya boleh di 11 bulan lainnya…..

Kau tau, ada banyak kebanggaanku dengan Indonesia. Di negaramu pasti tidak akan kau temui lautan lumpur yang dibiarkan berbulan-bulan. Di Indonesia, tepatnya di sebuah kota bernama Sidorjo, lautan lumpur mengubur belasan desa, merugikan ribuan penduduk, menenggelamkan ratusan pabrik. Anehnya si pembuat lumpur justru jadi orang kepercayaan presiden kami. Hehehehe, benar sekali, yang dirugikan kan orang kecil, jadi mereka sah-sah saja terlunta-lunta karena kesalahan yang tidak mereka buat.

Taukah kau, beberapa tahun belakangan ini Indonesia sering sekali terkena bencana alam. Entah itu tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor, dll. Menariknya, hal itu tidak membuat semua elemen masyarakat bersatu. Mereka justru mengambil keuntungan dari yang terkena bencana. Bantuan kerap kali salah sasaran. Negara asing pun berduyun-duyun mengirimkan bantuan (mungkin negaramu juga). Presiden dan wakil presiden lantas mengumumkan sejumlah kompensasi. Hanya itu karena hingga kini kompensasi itu tidak sampai ke bawah. Ya ya yang lebih penting memang menenangkan singa lapar bukan, urusan apakah janji bakal dilunasi itu masalah belakangan.

Di satu sisi, negaraku justru bangga karena setiap tahun berhasil mengirimkan wakilnya ke miss universe. Itu lho ajang ratu-ratuan. Kami merasa mempopulerkan negara ke internasional memang penting sekali, dengan cara menjawab beberapa pertanyaan dewan juri, foto dan berlenggak-lenggok dengan bikini, mengunjungi panti asuhan 10 menit dan memakai gaun-gaun indah. Itu penting banget lho karena yang dikirim adalah wanita-wanita terpilih. Kata panitia, putri Indonesia kami punya 3 B, beauty, behaviour, brain. Brain? Iya bener. Mereka pinter-pinter lho, kalau nggak pinter mana mungkin mau dipakein baju renang, di foto-foto dan jalan di catwalk dengan senyum merekah selama berjam-jam. Hebat bukan…..gimana aku nggak bangga dengan mereka….

Ehmmmm, kemarin kau tanya tentang korupsi, kolusi, nepostisme. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk menceritakannya, karena 3 hal itu sudah menjadi syarat wajib pejabat alias pelayan publik. Jika tak bisa menjalankan KKN (di kampus-kampus juga banyak KKN, tapi kuliah kerja nyata, hehehe) minggir aja ke laut…

Ahhh aku hampir lupa menceritakan tentang ulang tahun negaraku. Begini, di Indonesia, ulang tahun diperingati dengan besar-besaran. Perayaan artifsial sangat penting. Lampu-lampu hias dipasang sepanjang jalan. Bendera dan umbul-umbul bersaing berkibaran di setiap sudut kampung. Lomba-lomba seperti balap karung, makan krupuk dll adalah menu wajib. Pagar dan gapura desa harus dicat biar seger. Upacara pengibaran dan penurunan bendera yang dihadiri presiden selalu di relay semua stasiun tv. Setelah itu? Sudah selesai. Seperti pesta yang sudah usai. Semua lampu hias, bendera, dan umbul-umbul diturunkan, disimpan, karena tahun depan akan dipakai lagi.

Sebenarnya masih ada banyak yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi kapan2 saja kusambung surat ini. Salam hangat dari Indonesia….

Orang Miskin Dilarang Sekolah

Posted by senja on 20 Jul 2007 | Tagged as: my opinion

Musim ajaran baru telah tiba (dirasakan juga oleh Salma Kirana yang memulai SD-nya sejak Senin lalu). Ada banyak keceriaan. Namun juga tak sedikit kesedihan. Apalagi kalau bukan soal biaya sekolah yang melambung tinggi. Jika dulu sekolah berbiaya boros menempel pada label sekolah swasta, kini ternyata merek itu sudah tak pandang bulu lagi. Mau sekolah negeri, swasta, SD, SMP, SMA semuanya menguras kantong.

Tempo hari saya mendapat aduan, tingginya besaran SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) sebuah SMU negeri di Semarang yang mencapai Rp 4 juta. Besaran ditentukan, cara pembayarannya pun ditetapkan. Dengan aneka penalti dan tenggat. Teman kantor juga ada beberapa yang anaknya masuk SD tahun ini pun tak kalah pusing dengan deretan 6 digit pembayaran. Belum lagi proses-proses berbelit. Saya lantas mikir. Bagaimana dengan nasib anak-anak dari kalangan tidak mampu. Jangankan berpikir memilih sekolah favorit atau berkualitas, sekadar mimpi untuk sekolah saja sudah mulai di intervensi. Masuk sekolah biasa dengan murid yang lumayan banyak, berarti harus merogoh kocek ekstra. Belum lagi kalau masuk daftar cadangan karena ukuran tebal kantong yang berbeda. Ada juga sekolah yang murah, pasalnya yayasannya sebentar lagi ambruk dan kekurangan murid.

Sulit sekali sekolah sekarang ini. Sekolah hanya milik orang yang punya banyak duit. Bagi yang miskin ya harus minggir dan nggak punya akses dengan fasilitas pendidikan kelas satu. Padahal otak anak-anak itu mungkin juga tak kalah dengan mereka yang serba berkelimpahan. Nah, kalo pendidikan adalah salah satu pintu menuju kesetaraan hak sebagai warga negara baik di bidang politik maupun sosial maka apakah orang miskin adalah orang yang secara kodrati termarjinalkan karena tertutup akses pendidikannya? Saya pikir tidak. Dimana letak salahnya? Itulah yang sedang saya cari-cari sekarang.

Saya lantas berpikir banyaknya program pemerintah yang akhirnya hanya berhenti pada jargon semata. Misalnya pendidikan wajib 9 tahun. Masyarakat dan khususnya tenaga pendidikan berkali-kali ditekankan pada program penting itu. Namun pintu menuju pendidikan wajib 9 tahun tidak dibuka seluas-luasnya. Atau pemberantasan buta huruf. Hanya sampai pada gertakan permberantasan saja, namun akses untuk memberantas justru makin sempit dan sulit bagi kaum tak berakses. Padahal bukankah justru kasus-kasus putus sekolah dan buta huruf lebih sering menjadi teman setia barisan satu ini. Menggugat pemerintah sebenarnya juga bukan pekerjaan mulia. Karena menggugat tanpa solusi juga sama aja bohong. Menggugat dan hanya berpangku tangan juga tidak bijak. Terlebih meng-kritik keras tapi yang di kritik ternyata sehari-harinya malah pake headphone. Alias membebalkan dan menulikan diri.

Jadi apa dong yang bisa dilakuin? Jadi orang tua asuh mungkin jadi solusi paling sederhana yang bisa dilakukan oleh kaum berpunya. Tengok tetangga kanan kiri, mungkin ada yang kesulitan sekolah. Atau justru ada sodara dekat yang lagi kesulitan biaya belajar. Mungkin lebih ada gunanya daripada ngomel nggak jelas kayak saya sekarang ini. *paragraf terakhir sekaligus pengingat buat yang nulis supaya ingat pada sekitar dan nggak asik sendiri hidup di dunia yang serba indah ini*

.…kenyataannya, komersialisasi pendidikan sudah memangkas hak politik dan sipil mereka yang miskin. Pilihan politik maupun sipil, dengan begitu hanya terbuka bagi mereka yang berkecukupan. Karena itu, perluasan lingkup kebebasan tidak sekedar berkisar seputar kebebasan demokratis, melainkan juga syarat-syarat aksentuasinya seperti fasilitas ekonomi, kesempatan sosial dan perlindungan sosial.
Adian, Donny Gahral. 2006. Demokrasi Kami. Koekoesan. Depok

« Previous PageNext Page »