my opinion
Archived Posts from this Category
Archived Posts from this Category
Posted by senja on 28 Feb 2007 | Tagged as: my opinion
Tembalang, masih pukul 21.50 WIB
Kopi + singkong keju goreng + majalah Tempo = suguhan sepulang kerja…..mmmhhhh yummy. Naik ke atas kasur, setel radio, baca dan sesekali menyeruput kopi di selingi kudapan…..ssttt, di luar sana, hujan gerimis menggerus tanah basah.
* * *
Saya teringat sebuah pembicaraan temen-temen saya di kantor. Salah satu pelaku dalam obrolan itu adalah fotografer, yang tak lain adalah kakak kelas saya waktu kuliah di Jogja dulu. Saat itu, saya hanya nguping saja, tak ikut dalam obrolan seru mereka tentang foto-foto yang dirilis World Press Photo baru-baru ini. Salah satu inti pembicaraan mereka adalah tentang momentum. Teknik dan jenis kamera boleh sama (anggaplah fotografer-fotografer dalam pembicaraan ini punya jenis kamera dan teknik yang sama), namun toh yang membedakan foto juru kamera satu dengan yang lain adalah momentum. Maksudnya, boleh jadi fotografer A fotonya bagus karena ia tepat berada di lokasi sebuah peristiwa yang mencengangkan. Hanya dia yang di sana, dan akhirnya tercetaklah foto yang menakjubkan. Sedangkan fotografer B sedang molor di rumah. Jadilah dia tidak punya kesempatan membidik peristiwa itu, padahal mungkin klo dia nggak pelor (nempel n molor) dia pun bisa punya foto yang sama bagusnya dengan rekannya itu.
Kebetulan berada di tempat dan peristiwa yang pas itulah yang mungkin membuat beberapa foto juru kamera beberapa media nongkrong di World Press Photo (disamping tentu saja –bagi saya yang culun ini–mereka adalah fotografer handal yang punya kemampuan teknik sangat mumpuni). Salah satu foto yang bikin saya takjub adalah foto yang memperlihatkan seorang wanita Palestina melawan serbuan ratusan tentara Israel dengan menahan tameng mereka dengan sekuat tenaga. Dulu sekali saya juga kagum dengan foto sebuah truk tentara yang diisi ratusan suporter Persebaya yang miring karena kelebihan muatan. Si juru foto tepat membidik saat truk itu miring sebelum akhirnya jatuh terguling. Suporternya semburat loncat dan si sopir wajahnya was-was dengan mata melotot. Keren!
Posted by senja on 21 Feb 2007 | Tagged as: my opinion, etc
Pusing dengan aneka interprestasi
Salah dan memalukan
Bukan itu caranya kritis
Sama sekali tak beradab
Dudukkan fakta
Beberkan realitas
Tulis dengan kebebasan
Kebebasan pada keadilan
(gambar dari www.rakuten.co.jp)
Posted by senja on 10 Feb 2007 | Tagged as: my opinion
Saya nggak ngerti apa alasan sebuah stasiun televisi menempatkan presenter cakep dan sexy untuk membawakan acara dalam laga perdana Liga Indonesia Persik versus Sriwijaya Fc hari ini. Mending kalo dia ngerti dan bisa nganalisa pertandingan bola. Si Wulan Guritno, Davina dan (siapa tuh cewek, lupa namanya, tapi doi pake baju yang u can see kayak orang mo tidur) nggak ngerti sama sekali. Pertanyaan2nya garing. Cara mengucapkan beberapa istilah bola juga canggung. Kasihan Sutan Harhara yang ampe bingung ngeliat tingkah si presenter ini. Untung cuma ngisi pas turun minum alias 15 menit. Jadi teringat protes beberapa insan bola dan pertelevisian gara2 Titik Soeharto nekat jadi presenter Piala Dunia beberapa bulan lalu. Padahal klo mo pasang artis ada beberapa lho yang pinter, misalnya Tamara Geraldine, ato Ricky Jo.
Duh gemes ngeliat mereka. Cuap2 tapi g ada isinya. Plis deh. mending ke laut aje. Ato klo g nongol di infotainment ajah. Bukankah mereka artis penghias acara gossip. Jauh2 deh sana…………huh bikin eneg.
(gambar dari wikipedia)
Posted by senja on 14 Jan 2007 | Tagged as: my opinion, etc
Terkadang saya menganggap ada beberapa sifat para laki-laki yang bikin saya bingung. Ada banyak contoh-contoh dari sikap kaum Adam ini yang bikin saya geleng-geleng kepala. Padahal saya bukan tipe orang yang terlalu suka mengkotak-kotakkan kaum kecuali memang ada beberapa perbedaan mendasar dari jenis laki-laki dan perempuan tentunya.
Ceritanya begini
Saya punya temen, kami sering terlibat kerja bareng. Anehnya ni orang selalu menolak jika pas kami makan bareng dan saya yang bayarin. Bukan hanya masalah makan, semua hal yang berbau duit pun dia ogah saya yang ngeluarin, duh bahkan untuk bayar parkir pun saya musti rela dipaksa nggak boleh bayarin, karena harus dia yang bayar. Padahal waktu itu saya punya uang kecil sedangkan dia tidak. Oalah pusing saya ngelihat gelagat orang satu ini. Pas saya tanya kenapa sih segitunya, dia bilang gengsi lah bla bla… trus ganti deh saya bilang, “berarti kelebihan kamu sebagai cowok cuma berdasarkan duit aja?, padahal kamu kan punya kepintaran lain”. Terus terang lama-lama saya eneg juga diperlakukan kayak gitu. Rada tersinggung juga sih. Kalo saya dipinggirkan atau apalah namanya karena kerjaan yang nggak beres gpp, tapi ini kok soal lain. Bagi dia jenis kelamin yang boleh traktir cuma co doang, kalo cewek tabu, kecuali peristiwa itu melibatkan sesama ce. Wuih heran saya ma orang satu ini. Tapi dia tetep bersikeras kalo semua cowok emang kayak gitu. Nggak juga tuh. Contohnya temen saya yang laen. Dia justru sangat manusiawi memperlakukan saya. Nggak gengsi kalo kadang pas makan bareng saya yang bayarin. Dia juga g sungkan saat jemput, dia saya boncengin motor. Dia nggak ekstrem, misalnya selalu nolongin saya tanpa diminta. Toh tanpa bermaksud sok cowok kayak gitu, di mata saya dia justru sangat pria sekali. Nah, orang -orang yang kayak gini nih menurut saya justru sangat menghargai wanita. Dia cuma mesem saat saya cerita punya temen aneh macam temen pertama itu….hahahaha….Oya, saya menjuluki teman saya yang gengsian itu sebagai cowok tradisional :p Continue Reading »
Posted by senja on 10 Jan 2007 | Tagged as: my opinion
“Korupsi dalam bentuk corrupted mind merupakan aspek dan bagian sangat krusial mengapa demikian banyak kasus KKN dianggap bukan korupsi. Kita tidak boleh menganggap remeh adanya kemungkinan bahwa corrupted mind yang menyebabkan Indonesia dianggap termasuk negara paling korup di dunia, tetapi jumlah koruptornya sangat sedikitâ€. (Kwik Kian Gie, 2006)
Analogi diatas cocok jika diterapkan di berbagai kasus di negeri ini. “Mind” inilah membuat kita selalu jatuh di lubang yang sama, kendati problem semacam itu sering sekali kita jumpai. Masalah haji, kecelakaan transportasi, korupsi, bencana alam dll. Kasus yang terus menerus dialami bangsa ini setiap tahun dan selalu terulang dan terulang lagi. Mengapa? Karena visi dan misi-nya (dalam korupsi disebut corrupted mind) bukan mengacu agar bagaimana kasus itu tidak terulang lagi, namun hanya bagaimana kasus tersebut selesai pada saat itu juga tanpa harus mengorbankan jabatannya. Hasilnya, setiap tahun menyelenggarakan haji –jumlah jamaah terbanyak– namun ada saja masalah yang menghampiri. Kecelakaan transportasi tidak menjadi pelajaran berharga sehingga musibah yang sama terjadi lagi. Penanganan bencana alam pun sama saja. “Mind†inilah seharusnya yang diubah…
Sekedar mengingatkan inilah beberapa kasus kecelakaan pesawat terbang di Indonesia sejak tahun 2002 silam (diambil dari Wikipedia)
2002
14 Januari Lion Air penerbangan JT 386
2003
-
2004
3 Juli Lion Air penerbangan 332 di Palembang
30 November Lion Air penerbangan 538
2005
10 Januari Lion Air penerbangan 352 dari Jakarta-Padang membawa seorang penumpang gelap
10 Januari Lion Air penerbangan 789 gagal lepas landas dari Kendari
15 Februari Lion Air penerbangan 1641 terperosok di bandara Selaparang Mataram
5 September Mandala Airlines penerbangan RI 091 pesawat Boeing 737-200, gagal take off dari bandara Polonia Medan dalam penerbangan menuju Jakarta lalu menerobos pagar bandara dan menabrak perumamahan penduduk. 117 penumpang dan awak, hanya 17 selamat. Korban masyarakat 41 tewas.
2006
4 Maret Lion Air penerbangan IW 8987 dari Denpasar membawa 156 orang tergelincir saat mendarat karena cuaca buruk, penumpang selamat.
5 Mei Batavia Air penerbangan 843 jurusan Jakarta-Ujung Pandang-Merauke setelah beberapa saat mengudara pilot meminta kembali ke bandara, saat mendarat ban pecah dan pesawat tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, 127 penumpang selamat, 4 luka-luka.
Data diatas, setidaknya membantu anda untuk lebih bijak memilih maskapai penerbangan jika akan bepergian…..hehehehe :p (tamat)
Posted by senja on 05 Jan 2007 | Tagged as: my opinion
Kemarin, pas di kantor iseng saya dengerin editorial Media Indonesia di Metro TV. Kali ini membahas kesalahan informasi dua hari yang lalu tentang jatuhnya pesawat Adam Air yang sempat disiarkan media sudah ditemukan dengan rincian korban 90 tewas, 12 selamat. Informasi salah yang dilansir hampir seluruh media di Indonesia dan LN ini diperoleh dari Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Budiharjo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan Danrem Pare-Pare juga personel TNI/Polri. Dari keterangan mereka pegunungan Polewali dinyatakan sebagai lokasi jatuhnya pesawat jurusan Surabaya-Manado ini. Kabar mengejutkan tersebut, akhirnya diralat oleh Menhub Hatta Rajasa, yang akhirnya menyatakan bahwa hingga kini (kemarin, red.) pesawat belum bisa ditemukan, begitu pula keadaan penumpangnya belum bisa dipastikan.
Salah informasi di era informasi. Kurang lebih begitulah bunyi sindiran editorial itu. Masih menurut editorial (yang selanjutnya dibahas dengan mendatangkan nara sumber dari Media Indonesia, red.) selain kesalahan fatal narasumber tersebut dan miskomunikasi diantara pejabat tertinggi RI, media juga dituding merupakan penanggung dosa karena menyebarluaskan berita yang salah dengan tanpa melakukan cross check terlebih dahulu. Saya sendiri setuju bahwa media memang ikut andil dalam “dosa informasi†tersebut. Namun tak ada salahnya untuk bersama-sama menelusuri dengan jernih persoalan ini. Continue Reading »