Kertas Lecek

Posted by senja on 04 Apr 2008 | Tagged as: etc

Waktu beres-beres aneka kertas dan buku, nggak sengaja nemu kertas lecek ini…

Kertas ini saya peroleh saat masih di Jogja beberapa tahun silam…

Isinya menarik dan sukses bikin kangen Jogja..hehehehehe

kertas lecek

(me)Iklankan Diri

Posted by senja on 31 Mar 2008 | Tagged as: media

Pemilu Malaysia memang sudah berlalu lebih dari beberapa pekan yang lalu. Namun masih tetap diperbincangkan karena hasilnya yang di luar dugaan. Ya, setelah bertahun-tahun Barisan Nasional (BN) memegang dominasi di Malaysia dan menang telak di beberapa negara bagian, mereka akhirnya tidak lagi digdaya. Dan bahkan mengalami penurunan suara cukup signifikan di basis-basis/kantong massa seperti Selangor.

Konon hal ini memicu kisruh internal di BN, karena lambat laun oposisi dikhawatirkan memegang kendali di negeri tetangga Indonesia tersebut. Dan beberapa waktu yang lalu, seperti yang dikutip Jawa Pos, Abdulah Badawi (Pak Lah) mengakui beberapa kesalahan yang telah BN lakukan. Kesalahan ini disinyalir menjadi penghambat kemenangan BN, sekaligus angin segar untuk oposisi. Pak Lah mengatakan partainya tidak jeli melakukan kampanye menjelang pemilu. Kampanye yang mereka lakukan hanya di media mainstream Malaysia. Sebaliknya para oposisi yang sebelumnya tidak diperhitungkan kekuatannya ternyata getol berkampanye via media lain yang relatif lebih bebas sensor yakni internet.

Malaysia memang belum mengecap kebebasan pers seperti di Indonesia. Pemerintah Malaysia mengendalikan langsung media untuk mendukung kepentingan negara (pemerintah) termasuk dalam membentuk opini publik. Maka tak heran konflik perebutan item-item kebudayaan Indonesia-Malaysia beberapa waktu lalu tak pernah muncul di media. Sehingga perang opini justru marak di internet khususnya blog. Anwar Ibrahim yang belakangan menjadi ikon kelompok oposisi Malaysia saat diwawancarai Andy F. Noya dalam Kick Andy Metro TV menyatakan bahwa pihaknya merasa kesulitan untuk menyampaikan kebenaran melalui media. Jalan satu-satunya adalah dengan menyebarkan informasi melalui internet, misalnya blog. Beberapa gambar penyiksaannya di penjara juga disebarluaskan melalui media ini.

Ternyata, perkataan Anwar ini bukanlah isapan jempol semata. Pak Lah jujur mengakui bahwa mereka sama sekali tidak berkampanye melalui internet. Sebaliknya, oposisi cukup cakap melihat celah ini. Tak bisa menguasai media mainstream mereka pun banting stir ke internet. Merosotnya suara BN memang tidak semata-mata karena hal ini, namun juga dipengaruhi karena merosotnya pamor pemerintahan Pak Lah semenjak menggantikan Mahathir Muhammad.

Jika kampanye dianalogikan dengan kegiatan ber-iklan kepada khalayak agar produknya dibeli oleh banyak orang atau minimal dikenal secara luas, maka mungkin analisi Pak Lah ada benarnya. Dalam strategi komunikasi pemasaran, produk dikenalkan kepada masyarakat melalui berbagai macam cara. Tujuannya, tentu saja agar semua khalayak bisa mengetahui. Ada komunikasi above-the-line (ATL) dan ada pula bellow-the-line (BTL). Above-the-line identik dengan komunikasi melalui media massa. Sedangkan bellow-the-line adalah strategi untuk mendukung ATL, sifatnya lebih personal dan cepat. Komunikasi melalui blog seperti yang dilakukan Anwar memang diyakini bisa menjangkau publik dengan lebih dekat, feedback lebih intens. Berbeda jika hanya menggunakan media massa karena ada jarak yang begitu luas antara pengirim pesan dengan penerima.

Yang lantas menarik untuk dilihat adalah apakah strategi komunikasi seperti ini juga akan menjadi tren kampanye para capres pada pemilu 2009 mendatang?? akankah tim-tim kampanye menjadikan internet sebagai sarana untuk menjangkau khalayak yang tidak terjangkau?? pantas untuk ditunggu :)

Media di Tengah Konflik

Posted by senja on 24 Mar 2008 | Tagged as: media

Masih tentang kerusuhan Tibet yang semakin memakan banyak lakon untuk bergabung ikut serta…

Baru-baru ini pemerintah Tiongkok mengecam pemberitaan media-media asing yang meliput kerusuhan Tibet. Mereka mensinyalir apa yang diberitakan oleh media asing tersebut lebih banyak melenceng dari pada benarnya. Semuanya memojokkan pemerintah resmi dan mendukung perjuangan Tibet serta Dalai Lama (pemimpin spiritual Tibet, red.). Belum lagi klaim-klaim dukungan negara-negara tetangga yang juga menjadi konsumsi empuk para media untuk menempatkan pemerintah Tiongkok sebagai pihak yang salah dan sebaliknya demonstran Tibet sebagai kubu yang benar. Pihak pemerintah menuding awak media tidak lagi menjadi pemadam kerusuhan dengan memberitakan kebenaran namun justru menerapkan standar ganda yang menguntungkan sebagian pihak.

Puncak dari kejengkelan pemerintah Tiongkok terhadap media asing khususnya Amerika dan sekutunya tersebut adalah dengan mengunci Tibet dari akses penduduk asing. Baik yang dalam kapasitas sipil biasa seperti wisatawan juga yang berprofesi sebagai kuli tinta. Kantor-kantor berita dan wartawan asing seperti CNN dan AFP juga dibatasi. Bahkan kabarnya sambungan telepon mereka disadap oleh pemerintah setempat. Pasca beredarnya video-video amatir wisatawan yang menunjukkan campur tangan aparat keamanan Tiongkok dalam meredam massa, posisi pemerintah memang kian terjepit. Dengan menyumbat akses media asing, pemerintah berharap informasi yang diterima dunia internasional hanya berasal dari satu pintu sehingga spekulasi bisa diminimalisir.

Di satu sisi, keinginan pemerintah agar negara asing–melalui medianya– tidak ikut campur dalam urusan domestik negaranya memang patut diacungi jempol. Terlepas apakah ini adalah bentuk kekuasaan yang otoriter dan tertutup atau tidak namun, campur tangan asing memang seringkali kerap merugikan dari pada sebaliknya. Dalam sebuah konflik, media rentan digunakan untuk kepanjangan tangan kepentingan tertentu dan bukannya berdiri sebagai penengah. Atau dalam bahasa jurnalistik, mereka tidak mengembangkan jurnalisme damai namun justru jurnalisme perang. Konflik atau perang bagi sebagian orang adalah sebua bencana karena mendatangkan penderitaan dan semacamnya, namun di satu sisi, juga menguntungkan bagi yang ingin memanfaatkan kondisi ini.

Dalam banyak kasus, perang informasi yang terkadang dimenangkan oleh media yang menguasai pasar dan didukung dengan infrastruktur yang kuat membuat sekelompok orang berusaha untuk mengimbanginya. Coba tengok buku yang ditulis salah satu wartawan Metro TV Meutya Hafid, “168 Jam Dalam Sandera, Memoar Jurnalis Indonesia Yang Disandera di Irak” (Hikmah Memoar, 2007). Beberapa kali ia menuliskan bagaimana penyandera berusaha memberikan informasi yang mereka anggap benar–dan dipelintir oleh media asing– dengan mempublikasikan video-video amatir di televisi yang mau mensuport perjuangan mereka. Atau baca saja, buku “Luka Aceh, Duka Pers” (Kippas, 2002) yang menceritakan betapa media tidak membuat konflik dan perang jadi selesai namun sebaliknya.

Maka, satu-satunya pilihan yang cukup waras, adalah kembalikan pers pada rel-nya yang berpihak pada kebenaran universal dan bukan pada kebenaran individu/golongan…

Ketika Media dan Olahraga Bersatu

Posted by senja on 21 Mar 2008 | Tagged as: media

Krisis Tibet menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini. Selain karena kawasan yang disebut-sebut sebagai atap dunia ini terkenal dengan kedamainan dan ketentramannya tiba-tiba porak poranda, juga karena kesimpangsiuran informasi mengenai korban jiwa dalam kerusuhan lokal tersebut. Pihak Tibet mensinyalir bahwa korban berkisar pada angka ratusan, apalagi saat demonstrasi terjadi, pihak keamanan Tiongkok begitu represif sehingga keadaan justru menjadi sangat destruktif. Di lain sisi, pemerintah Tiongkok menolak angka tersebut. Mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun pihak keamanan Tiongkok yang mengamankan aksi “brutal” tersebut. Korbanpun hanya puluhan bukan ratusan seperti yang dilansir kubu pemerintahan Tibet. Belakangan ada publikasi dari video amatir seorang turis yang memperlihatkan bahwa saat demonstrasi pihak keamanan Tiongkok ikut meredam aksi itu. Sehingga untuk sementara klaim pemerintah Tiongkok terbantahkan.

Konflik Tibet, saya yakini bukan hanya pada masalah tuntutan otonomi luas–jika tidak bisa disebut kemerdekaan– yang mereka minta kepada pemerintah Tiongkok. Namun juga masalah antar etnis yang saling ingin menggulingkan dominasi. Masalah-masalah yang terkait dengan isu primordial seperti ini memang kerap terjadi dimana dalam satu wilayah tidak hanya dihuni oleh satu suku/kultur saja. Apalagi jika jumlah masing-masing suku tidak terpaut begitu jauh sehingga tingkat heterogenitasnya tinggi.

Di luar itu semua, pemerintah Tiongkok memang patut was-was dengan krisis ini. Bagaimana tidak, tahun ini mereka harus menggelar even olahraga terbesar sejagat, yakni Olympiade Beijing 2008. Pesta olahraga yang tidak hanya bisa menunjukkan kekuatan di bidang olahraga saja, tapi juga untuk pemberdayaan ekonomi. Di saat persiapan matang sudah sampai tahap akhir, media menyebarluaskan berbagai gambar tentang krisis Tibet. Bahkan beritanya mengalahkan hiruk pikuk persiapan Olympiade itu sendiri. Alhasil, pihak-pihak yang kontra dengan Tiongkok ramai-ramai memboikot event itu. Beberapa artis pendukung dan atlet kenamaan, kabarnya memang sepakat untuk tidak hadir di Beijing jika kekerasan di Tibet masih terjadi. Panitia Olympiade konon kebingungan karena tanpa nama-nama terkenal yang rencananya ambil bagian, even besar ini jadi kehilangan daya tarik.

Jika media intens untuk memberitakan masalah ini bukan tidak mungkin Olympiade kali ini bakal sepi penonton dan peserta. Mungkin juga ini bakal menjadi sejarah penerus dimana even olahraga bisa menjadi ajang protes untuk sebuah kekacauan yang memakan banyak korban jiwa. Ahhhh…kita tunggu saja kelanjutannya…..

Jalan Terjal Raikkonen

Posted by senja on 16 Mar 2008 | Tagged as: etc

F1 musim ini sudah digeber. Diawali dengan Grand Prix Australia yang dimenangkan oleh rookie tahun lalu, Lewis Hamilton (McLaren-Mercedes). Jika MacLaren cukup unggul karena menempatkan dua andalannya yakni Hamilton dan Hekki Kovalainen di peringkat 1 & 5, sebaliknya terjadi pada Ferrari. Kimi Raikkonen gagal finis setelah berusaha menyalip dua mobil di depannya dan melintir keluar lintasan. Sedangkan Felipe Massa lebih sial lagi karena duluan out. Tampaknya problema mesin dan beberapa regulasi baru di F1 membuat tim kuda jingkrak-julukan Ferrari- tak begitu beruntung di balapan kali ini.

Nasib buruk Ferrari sebenarnya sudah cukup terlihat dari sesi latihan (Jumat) hingga babak kualifikasi (Sabtu) kemarin. Raikonnen menyebutkan di sejumlah media, bahwa performa mobilnya tak ciamik saat melahap Sirkuit Albert Park tersebut. Awalnya statemen ini dianggap hanya upaya menutupi kekuatan timnya di hadapan kompetitor. Namun ternyata hal ini berlanjut hingga babak kualifikasi. Insiden mobil ngadat membuatnya harus start di urutan 16. Sedangka Hamilton sempurna menduduki pole posisition, dan bahkan kedudukannya tidak tergantikan selama lomba kecuali beberapa saat setelah ia masuk pit stop.

Hamilton, memang kerap punya catatan bagus di awal balapan seperti yang terjadi di musim lalu sehingga membuat Ferrari keder. Kali ini tampaknya, ia akan kembali menapaki balapan demi balapan dengan percaya diri tinggi. Apalagi setelah poin pertama dikantongi. Namun bukan Ferrari jika tidak cepat mengatasi kendala mesin yang membuat mereka keteteran di Albert Park. Situasi ini menjanjikan persaingan dua tim semakin seru. Gelar tidak akan terkunci di tengah musim seperti yang terjadi kala Schumacher masih digdaya. Seri demi seri akan menjadi ajang uji mesin dan kecepatan. Apalagi setelah beberapa regulasi dihilangkan seperti tidak adanya kontrol traksi, aturan girboks, dan kualifikasi yang lebih cepat.

Jadi masih banyak yang bisa terjadi. Mampukah Ferrari meningkatkan performa di balapan-balapan ke depan? dapatkan Hamilton konsisten hingga akhir musim? atau, akan muncul rookie baru yang menyemarakkan persaingan dua raksasa? kita tunggu saja :)

Gurita Media

Posted by senja on 10 Mar 2008 | Tagged as: media

Dulu..

Ada pertanyaan tentang bagaimana mengkonsumsi media yang sehat agar tidak terjebak dalam satu pola pikir yang disodorkan media dalam melihat sebuah fenomena/masalah. Salah satu jawaban yang gampang dan paling mungkin adalah dengan sebisa mungkin membaca lebih dari satu media cetak serta lebih banyak melihat tayangan berita di berbagai media elektronik. Dengan lebih banyak menerima informasi dari media yang berbeda diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup objektif dalam menilai fenomena dan kemudian bijak dalam mengambil keputusan. Namun apakah hal itu tetap relevan dilakukan sekarang ini…

Mari kita telusuri..

Seperti juga sudah diketahui khalayak umum, semakin kompetitifnya bisnis media membuat banyak perusahaan media melakukan merger dan ekspansi usaha. Selain tentu saja selain itu ada faktor-faktor lain seperti kepentingan politik. Namun secara ekonomis hal ini diyakini dapat membantu kelangsungan hidup media. Dan ternyata setelah ditelusuri satu per satu, hampir tidak ada satupun media yang hanya “bermain” di satu area, selain mengajak “teman” bisnis, mereka juga asyik “melebarkan sayap” untuk tidak hanya menguasai sektor cetak, namun juga elektronik atau sebaliknya…

Mari kita lihat…

Keluarga Sariatmaja yang kini menguasai SCTV, dikabarkan rencananya juga akan menggandeng Indosiar yang tengah kolaps. Di sektor televisi lokal, mereka mendirikan O-Channel, dan juga beroperasi di sedikitnya 2 radio top, yakni Cosmopolitan dan Hard Rock FM. RCTI, TPI dan Global TV sepakat berada di bawah satu bendera Media Citra Nusantara (MNC), yang juga baru-baru ini melahirkan koran anyar bernama Seputar Indonesia. Surya Persindo yang dimiliki oleh Surya Paloh mengawali bisnis media di sektor cetak dengan Media Indonesia yang merupakan produk unggulan grup ini. Selain itu, sang empunya juga turut menanamkan modal di sedikitnya 10 koran/majalah lokal yang tersebar di Indonesia seperti Peristiwa, Aceh Post, Mimbar Umum, Semangat dkk. Di sektor elektronik, mereka berhasil dengan merk Metro TV, produk yang diklaim sebagai televisi berita. ANTV 20 persen sahamnya dikuasai grup Bakrie. Grup Bakrie sendiri berkongsi dengan grup Mahaka milik Eric Thohir untuk mengelola tv baru reinkarnasi Lativi, TVOne. Eric sendiri juga bermain di TV lokal dengan Jak TV dan media nasional Republika. TransTV milik Chaerul Tanjung merger dengan TV 7 (Trans 7) yang merupakan salah satu induk usaha KKG (Kelompok Kompas Gramedia) milik Jakob Oetama yang tak lain adalah bos harian Kompas. Kompas sendiri hingga kini membawahi sedikitnya 23 media cetak baik yang berbentuk, harian, mingguan, bulanan dan dwi bulanan. Setali tiga uang dengan Jawa Pos Group yang setidaknya hingga kini mempunyai induk penerbitan di lebih dari 50 media cetak seluruh Indonesia. Belakangan mereka juga membuat JTV (Surabaya) dan sedang membangun Malioboro TV di Jogjakarta. Di jajaran televisi lokal, ada kelompok Bali TV yang kini membawahi 7 stasiun televisi di 7 daerah, baik yang sedang proses berdiri maupun yang sudah berkibar. Sebut saja, Bandung TV (Bandung), Jogja TV (Jogjakarta), Cakra TV (Semarang), Surabaya TV (Surabaya), Aceh TV (NAD), Balikpapan TV (Balikpapan), Makasar TV (Makasar TV).

Ini hanya sebagian fakta betapa gurita media sudah semakin parahnya di Indonesia. Belum lagi radio yang kini juga mengarah pada gejala yang sama. Beberapa stasiun radio, mulai mengadakan siaran yang bisa didengarkan di beberapa kota sekaligus misalnya yang sudah dilakukan oleh Elshinta, Sonora, Female, Prambors dll.

Nah…itulah peta media Indonesia. Lantas, masih relevankah jawaban atas pertanyaan diatas?????

*sebenarnya saya sudah lama nyusun peta gurita media dari berbagai sumber, tapi ternyata jadinya buanyak dan puanjang banget…. disusun dengan aneka warna agar memudahkan untuk melihat…tapi, kayaknya ‘ndak cukup di taruh di blog..jadi di poto ajalah….semoga bisa dilihat dengan jelas dari kejauhan :p (mana mungkin…hehehe)

 

 

« Prev - Next »