Ketika Media dan Olahraga Bersatu
Posted by senja on 21 Mar 2008 | Tagged as: media
Krisis Tibet menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini. Selain karena kawasan yang disebut-sebut sebagai atap dunia ini terkenal dengan kedamainan dan ketentramannya tiba-tiba porak poranda, juga karena kesimpangsiuran informasi mengenai korban jiwa dalam kerusuhan lokal tersebut. Pihak Tibet mensinyalir bahwa korban berkisar pada angka ratusan, apalagi saat demonstrasi terjadi, pihak keamanan Tiongkok begitu represif sehingga keadaan justru menjadi sangat destruktif. Di lain sisi, pemerintah Tiongkok menolak angka tersebut. Mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun pihak keamanan Tiongkok yang mengamankan aksi “brutal” tersebut. Korbanpun hanya puluhan bukan ratusan seperti yang dilansir kubu pemerintahan Tibet. Belakangan ada publikasi dari video amatir seorang turis yang memperlihatkan bahwa saat demonstrasi pihak keamanan Tiongkok ikut meredam aksi itu. Sehingga untuk sementara klaim pemerintah Tiongkok terbantahkan.
Konflik Tibet, saya yakini bukan hanya pada masalah tuntutan otonomi luas–jika tidak bisa disebut kemerdekaan– yang mereka minta kepada pemerintah Tiongkok. Namun juga masalah antar etnis yang saling ingin menggulingkan dominasi. Masalah-masalah yang terkait dengan isu primordial seperti ini memang kerap terjadi dimana dalam satu wilayah tidak hanya dihuni oleh satu suku/kultur saja. Apalagi jika jumlah masing-masing suku tidak terpaut begitu jauh sehingga tingkat heterogenitasnya tinggi.
Di luar itu semua, pemerintah Tiongkok memang patut was-was dengan krisis ini. Bagaimana tidak, tahun ini mereka harus menggelar even olahraga terbesar sejagat, yakni Olympiade Beijing 2008. Pesta olahraga yang tidak hanya bisa menunjukkan kekuatan di bidang olahraga saja, tapi juga untuk pemberdayaan ekonomi. Di saat persiapan matang sudah sampai tahap akhir, media menyebarluaskan berbagai gambar tentang krisis Tibet. Bahkan beritanya mengalahkan hiruk pikuk persiapan Olympiade itu sendiri. Alhasil, pihak-pihak yang kontra dengan Tiongkok ramai-ramai memboikot event itu. Beberapa artis pendukung dan atlet kenamaan, kabarnya memang sepakat untuk tidak hadir di Beijing jika kekerasan di Tibet masih terjadi. Panitia Olympiade konon kebingungan karena tanpa nama-nama terkenal yang rencananya ambil bagian, even besar ini jadi kehilangan daya tarik.
Jika media intens untuk memberitakan masalah ini bukan tidak mungkin Olympiade kali ini bakal sepi penonton dan peserta. Mungkin juga ini bakal menjadi sejarah penerus dimana even olahraga bisa menjadi ajang protes untuk sebuah kekacauan yang memakan banyak korban jiwa. Ahhhh…kita tunggu saja kelanjutannya…..







